Home Uncategorized Di IAIH NWDI Hakim PA Selong Bahas Pembaruan Hukum Islam

Di IAIH NWDI Hakim PA Selong Bahas Pembaruan Hukum Islam

90
0
SHARE
IAIH NWDI Hakim PA Selong 1

Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Pancor menggelar Forum Kajian Hukum, Sabtu (25/9/2021) malam. Yang bertindak sebagai pemateri adalah H. Fahrurrozi, SHI., MH., hakim Pengadilan Agama (PA) Selong. Pada kesempatan itu, ia menguraikan pembaruan hukum Islam di Indonesia.

“Peradilan Agama merupakan Peradilan Islam yang hidup di wilayah Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, hakim-hakim Peradilan Agama bertugas menyelaraskan hukum Islam di satu pihak dengan hukum Negara Republik Indonesia di pihak lain. Hakim Peradilan Agama bertugas menjaga relevansi hukum Islam dengan kehidupan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Pasal 229 Kompilasi Hukum Islam, lanjutnya, menegaskan bahwa hakim dalam menyelesaikan perkara-perkara yang diajukan kepadanya wajib memerhatikan dengan sungguh-sungguh nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat sehingga putusannya nanti sesuai dengan rasa keadilan.

IAIH NWDI Hakim PA Selong 2

Fahrurrozi memaparkan beberapa putusan hakim Peradilan Agama yang mencerminkan pembaruan hukum Islam di Indonesia di bidang kewarisan.

“Beberapa putusan hakim Peradilan Agama telah memberikan bagian warisan kepada ahli waris beda agama (non-muslim) melalui mekanisme wasiat wajibah. Di PA Selong pernah ada gugatan waris dan salah satu ahlinya beragama Hindu. Di tengah perjalanan perkara, mereka berdamai dan membuat kesepakatan perdamaian, termasuk memberikan bagian kepada ahli waris yang beragama Hindu. Majelis Hakim menguatkan perdamaian mereka dalam putusan,” terangnya.

Ditambahkan contoh lainnya mengenai bagian waris antara anak laki-laki dan perempuan. Beberapa putusan hakim Peradilan Agama telah membagi sama antara bagian anak laki-laki dan perempuan, yaitu 1 : 1 (satu banding satu).

IAIH NWDI Hakim PA Selong 3

“Apakah saudara pewaris mendapat bagian waris jika ada anak perempuan? Di kalangan ahli hukum Islam terdapat perbedaan pendapat tentang hal ini. Perbedaan pendapat terjadi karena perbedaan dalam memahami makna walad dalam Surat An-Nisa Ayat 176. Bagi yang berpendapat walad itu berlaku umum maka keberadaan anak perempuan menghijab saudara pewaris. Bagi yang berpendapat walad itu khusus anak laki-laki maka keberadaan anak perempuan tidak menghalangi saudara pewaris untuk mendapatkan bagian warisan,” jelasnya.

PA Mataram, sambungnya, pernah menangani gugatan waris yang ahli warisnya terdiri dari anak perempuan pewaris dan saudara kandung pewaris. Di tingkat kasasi, Mahkamah Agung berpendapat selama masih ada anak, baik laki-laki maupun perempuan maka hak waris dari orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris kecuali orang tua, suami dan istri, menjadi tertutup (terhijab). Dengan demikian, anak perempuan menghijab saudara pewaris.

Hakim asal Pati Jawa Tengah yang bertugas di Pulau Lombok sejak Desember 2018 itu juga menjelaskan soal bagian waris bagi anak angkat dan anak tiri. Keduanya memang bukan ahli waris, tetapi demi keadilan keduanya dapat diberikan bagian waris melalui mekanisme wasiat wajibah.

“PA Selong pernah menangani perkara waris yang diajukan saudara-saudara pewaris melawan anak tiri pewaris yang kemudian menjadi anak angkat pewaris. Putusan Mahkamah Agung membenarkan anak angkat pewaris yang mewarisi harta warisan pewaris dengan mendapatkan wasiat wajibah sesuai Pasal 209 Ayat (2) Kompilasi Hukum Islam,” urainya.

Lebih lanjut, Fahrurrozi menjelaskan keterkaitan antara waris dan harta bersama (gono-gini). Menurutnya, apabila di dalam harta warisan itu ada harta bersama maka sebelum membagi waris harus terlebih dulu diselesaikan pembagian harta bersama.

“Misalnya Pak Ali meninggal dunia. Dia mempunyai istri bernama Wati. Selama perkawinan keduanya punya harta bersama berupa rumah, sawah dan mobil yang nilainya sekitar 100 juta. Pertama-tama, 100 juta itu dibagi dua dulu. 50 juta untuk almarhum Ali dan 50 juta untuk Wati. Yang dibagi waris adalah 50 juta bagian almarhum Ali. Kalau almarhum Ali punya anak maka Wati juga berhak mendapat 1/8 dari harta warisan almarhum Ali,” bebernya.

Ditambahkan Fahrurrozi, apabila harta bersama belum sempat dibagi antara almarhum dengan istri yang masih hidup tetapi sudah dibagi waris oleh anak-anak almarhum dari istri pertama maka istri yang merasa mempunyai hak atas harta bersama itu bisa mengajukan gugatan ke pengadilan. Jika terbukti ada harta bersama maka akan diputuskan supaya dibagi dua dulu, setelah itu dibagi waris.

Di hadapan mahasiswa Fakultas Syariah, Fahrurrozi juga mengulas tentang harta warisan yang sudah dialihkan oleh sebagian ahli waris tanpa persetujuan ahli waris yang lain.

“Pada prinsipnya seseorang tidak boleh menjual, menggadaikan, menghibahkan dan mewakafkan harta yang bukan miliknya sendiri. Harta yang belum dibagi waris bukan milik sempurna (milk tam). Sehingga apabila akan dialihkan kepada pihak ketiga harus mendapat persetujuan seluruh ahli waris. Bila harta itu dialihkan tanpa persetujuan seluruh ahli waris dan sudah keluar sertipikat, maka pengadilan akan menyatakan sertipikat yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional tidak berkekuatan hukum,” tegasnya.

Di samping hukum waris, hakim yang pernah tercatat sebagai peserta pelatihan fatwa di Darul Ifta Al-Mishriyyah (Lembaga Fatwa Mesir) tahun 2004-2006 itu juga mengupas perihal pencatatan pernikahan, perceraian dan izin poligami yang menggambarkan pembaruan hukum Islam di Indonesia.

Forum Kajian Hukum malam itu semakin hidup setelah dibuka sesi pertanyaan. Beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan seputar tema pembahasan.

Di closing statement, Fahrurrozi mengajak mahasiswa IAIH NWDI Pancor untuk bergabung dengan Lembaga Peradilan Agama. Dengan berkarir di Peradilan Agama, putra-putri NWDI berkesempatan menjaga dan merawat hasil perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di bidang hukum. Sebab Kompilasi Hukum Islam yang dijadikan sumber hukum di lingkungan Peradilan Agama merupakan buah pemikiran para ulama, salah satunya adalah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

“Saya percaya dengan kemampuan mahasiswa IAIH NWDI Pancor. Karena adik-adik belajar di lembaga pendidikan yang didirikan oleh Maulana Syaikh yang alim dan saat ini dipimpin oleh cucu Maulana Syaikh yang juga alim, yaitu TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.