Home Opini ASEAN, Islam, Ekonomi dan Moderasi

ASEAN, Islam, Ekonomi dan Moderasi

194
0
SHARE

Oleh : TGB Muhammad Zainul Majdi

African Union terbentuk pada tahun 2001 menggantikan Organization of African Unity yang didirikan pada 25 Mei 1963. Liga Arab dibentuk pada Maret 1945. Carribbean Community dibangun pada July 1973, Union of South American Nation baru saja terwujud pada Desember 2004, Council of Europe yang menjadi cikal bakal European Union didirikan pada Mei 1949, negara-negara Asia Selatan bersatu lewat South Asian Association for Regional Cooperation pada Desember 1985.

Organisasi lainnya seperti Union for the Mediterranean terbentuk pada Juli 2008. Lalu kita mengenal juga Eurasian Economic Union yang menyatukan Rusia, Kazakhstan, Kyrgyztan, Belarus, dan Armenia sebagai komunitas ekonomi yang baru mengokohkan eksistensinya pada 2015.

ASEAN sendiri berdiri pada 8 Agustus 1967. Apa yang unik dari ASEAN? Yang mungkin sebagian besar besar dari kita justru lupa? Yaitu organisasi ini adalah organisasi regional yang paling stabil dalam eksistensinya. Berdiri di sekitaran periode pertengahan perang dingin dan ditengah pergolakan Perang Vietnam.

ASEAN tidak mengalami perubahan tulang punggung manifesto seperti organisasi regional lainnya. ASEAN tetap berdiri teguh pada Deklarasi Bangkok dengan mengedepankan ‘the ASEAN Way’ yang berpegang teguh pada norma kultural atau budaya luhur bangsa Asia Tenggara dalam menghadapi berbagai tantangan baik global ataupun regional. ASEAN berdiri tegak ditengah berbagai badai politik.

Apa yang menjadi pokok dari budaya luhur bangsa Asia Tenggara itu? Dalam bahasa Indonesia, dikenal sebagai Gotong Royong. Dalam G kapital dan R kapital. Lantas apa yang menjadi intisari dari Gotong Royong itu? Sebelum kita kesana, kita kenali dulu esensi dari Gotong Royong.

Esensi Gotong Royong tak lain dan tak bukan adalah kolaborasi. Dalam proses kolaborasi itu, terjadilah proses alamiah dari para pihak yang terlibat didalamnya yang akan terus menerus mencari apa yang disebut sebagai Jalan Tengah dimana perbedaan dimaknai sebagai kekhasan, ciri unik, atau DNA yang tidak perlu dilenyapkan. Perbedaan adalah khasanah keberagaman yang menyatu menjadi rasa pertanggungan-jawab kolektif atas kemajuan atau kemunduran bersama. Maka, intisari dari Gotong Royong itu adalah moderasi.

Jika kita kembali kepada ASEAN, tentulah moderasi adalah modal politik terbesar kita sebagai ‘bangsa regional’ dengan ciri khas masing-masing warga bangsa pada tiap-tiap negara didalamnya. Lalu sadarkah kita bahwa diantara organisasi regional itu, penduduk ASEAN telah mencapai lebih dari 600 juta orang, bahkan mendekati 650 juta penduduk. Lebih besar dari Uni Eropa hari ini, dan pastinya lebih besar dari Liga Arab.

Kenapa saya sebut Uni Eropa dan Liga Arab? Yang signifikan dari Uni Eropa adalah pengaruh ekonominya dan yang kuat dari Liga Arab adalah penduduk Muslimnya. Dari titik ini, barulah menjadi kontekstual ketika kita bicara tantangan kontemporer ASEAN sebagai ‘bangsa regional’ dan bagaimana kita mengelolanya. Dua kata kunci, ekonomi dan Islam.

Di saat ekonomi global didera ketidakpastian atas perang dagang Amerika-Cina, bagaimana ekonomi ASEAN mampu menjadi penyeimbang dan kemudian mengubah ketidakpastian itu menjadi driver baru bagi perekonomian global karena banyaknya pelaku ekonomi swasta Cina mengalami kesulitan pendanaan dari bank pemerintah Cina.

ASEAN tentu bisa menjadi pusat baru bagi produksi berbagai komoditas atau consumer products sekaligus pasar konsumsi potensial dengan daya beli yang tinggi seiring dengan meningkatnya kelas menengah di kawasan Asia Tenggara sendiri. Sebagai contoh, GoJek sudah mulai memperluas area layanannya untuk ASEAN, Grab disaat yang sama juga telah melakukan hal yang sama. Jika ASEAN sebagai komunitas ekonomi bisa menciptakan iklim yang kondusif bagi inovasi dan ekspansi dari tiap-tiap negara anggota ASEAN, anda bisa bayangkan betapa besar potensi sirkulasi supply and demand yang bisa muncul dari dan untuk warga ASEAN itu sendiri.

Kata kunci kedua adalah Islam.

Sebagai agama dengan penganut terbesar kedua menurut catatan Pew Research Center di tahun 2017 sebesar 1.8 miliar orang atau 24% dari penduduk dunia dan masih menjadi the fastest growing major religious group di dunia hingga saat ini. Pertumbuhan penganut ini tak ubahnya pasar ekonomi, di mana pertumbuhan bisa menjadi hal yang positif namun di sisi lain, pertumbuhan penganut Islam saat ini tengah disertai dengan tantangan tumbuhnya fanatisme yang perlahan tapi pasti mengancam nilai moderasi, sehingga Islam seolah dihadapkan pada hitam-putih, di sini yang benar dan yang lain salah. Tanpa memberikan ruang bagi kolaborasi, jalan tengah atau moderasi bagi pembangunan dan kemajuan bersama baik secara regional maupun global. Hitam-putih Islam yang tumbuh saat ini membawa kita pada kata baru, islamophobia.

Pada titik ini, ASEAN bisa dikelola secara mandiri dari para warganya dalam mengambil inisiatif untuk menjadi noise ternyaring dan akhirnya gerakan terbesar dalam mempromosikan moderasi Islam sebagai arus utama Islam saat ini ditengah persepsi negatif terhadap Islam. Warga Indonesia dan Malaysia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar pertama dan kedua di kawasan Asia Tenggara menjadi sangat penting ditengah pergaulan global untuk mengkampanyekan Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. Berkah bagi dunia untuk membangun inspirasi utama perdamaian dan Jalan Tengah peradaban bagi kemajuan dunia yang bisa meminimalisasi dampak dari perang dagang, adu ideologi, dan konflik identitas.

Indonesia memang negara dengan penduduk penganut Islam terbesar dunia, apabila semangat moderasi Islam di Indonesia bisa menyatu padan dengan Malaysia, maka kita bisa menjadi kekuatan utama moderasi Islam bagi seluruh dunia. Islam Asia Tenggara dapat menginspirasi dunia bahwa Islam tidak menegasikan perbedaan, Islam membawa Gotong Royong, kolaborasi, dan moderasi demi peradaban dunia yang maju dalam inovasi.

Jadikanlah moderasi sebagai pesan bagi konferensi pemuda/pemudi ASEAN di Kuala Lumpur hari ini bagi dunia.  Jadilah kaum muda yang menginspirasi para pembuat kebijakan saat ini untuk membentuk masa depan yang lebih cemerlang untuk masa depan Islam dan dunia. Menjadikan Deklarasi Bangkok sebagai Deklarasi Universal dan nilai yang hidup serta tertular bagi negara-negara dan warga bangsa diseluruh dunia.

Jadikan Islam dan dunia sebagai rahmah bagi seluruh alam raya. Belajar dari Muhamed Salah di Nottingham yang menginspirasi kita semua. Cheers.. Shukran!

 

*Disampaikan pada acara ASEAN Youth Conference di Kuala Lumpur, 12-13 Oktober 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.