Home Kegiatan Alumni TGB Ajak Sukses Dunia untuk Kehidupan Akhirat

TGB Ajak Sukses Dunia untuk Kehidupan Akhirat

165
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Penang – Permai Utara Malaysia menggelar Dialog Kebangsaan Wawasan Nusantara, Indonesia-Malaysia dengan pembicara dari Indonesia TGB HM Zainul Majdi, Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia (OIAA) dan Prof. Dr. Mohammed Reevany Bustami dari University Science Malaysia (USM), pada Jumat (29/11).

Dialog yang menghadirkan paguyuban Indonesia di Penang, Malaysia mengambil tema konsep wasathiyah dan perannya dalam membangun bangsa perspektif sekarang dan akan datang.
Ketua Umum Permai Utara Malaysia Ahmad Rofi’i mengatakan, berbagai paguyuban di Penang, Malaysia hadir.
“Kerinduan cukup lama, biasa melihat TGB hanya lewat dari media sosial atau media massa,” katanya.
Terkait tema acara, Prof. Mohammed Reevany menjelaskan, pertama, konsep wasathiyyah merupakan perjalanan seimbang menuju kecemerlangan. Kedua, mengangkat keadilan, meletakkan hak pada tempatnya. Ketiga, wasathiyyah bukan di tengah kemudian menghadirkan hal baru yang mudah. Wasathiyyah tetap bertonggakkan prinsip, ikut rukun Islam secara penuh.
“Ikuti standar Islam secara utuh. Lembut dan tegas, itu wasathiyyah. Islam bukan lembek. Kadang lembut kadang juga keras,” terangnya.
Sementara itu, TGB mengungkapkan, acara Permai Utara, Malaysia bagian dari silaturahim. Ini menjadi instrumen paling utama membangun kekuatan umat. Saat ini masyarakat memiliki smartphone, bukan mendekatkan yang jauh, sebaliknya malah menjauhkan yang dekat.
“Ada anak justru sibuk bermain handphone saat berjumpa dengan orang tua,” katanya.
Dijelaskan, banyak hal kontraproduktif dengan cita-cita awal agama Islam. Ajaran Allah berlaku kepada semua nabi, diturunkan pada setiap masa adalah silaturahim.
“Ada berlaku untuk semua, ada yang beda-beda. Silaturahim menguatkan persaudaraan,” sambungnya.
Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia ini mengurai, majelis taklim di negara Islam lain tak mudah untuk menggelar acara keagamaan. Di Indonesia mudahnya majelis taklim bagian dari yang disyukuri. Bisa tumbuh subur. Sanggup membangun kohesifitas sosial.
“Ini salah satu indikator wasathiyyah dalam keseharian. Bagaimana kita bisa hidup membangun nilai agama bersama nilai budaya dengan baik,” sambungnya.
TGB menyebut, dahulu ada paradigma orang yang saleh itu miskin, sementara orang kaya selalu identik dengan jahat. Itu anggapan tak benar. Sahabat nabi menghimpun kekayaan untuk kepentingan orang banyak.
Ada yang memahami zuhud itu tak punya apa-apa. Padahal, menguji zuhud sesungguhnya setelah memiliki harta. Ketahanan ketika punya sesuatu kemudian sanggup menahan diri. Kata ulama, cari harta sebanyak mungkin letakkan di tangan bukan di hati.
“Bukan hanya soal harta. Termasuk berpolitik, jangan sampai masuk ke hati cukup di kepala. Ketika yang diusung kalah tak sakit hati, kalau terpaksa diletakkan cukup di kepala,” bebernya.
TGB menyebut, ikhtiar dunia jangan sampai melalaikan yang lain. Mencari urusan dunia tidak sampai meninggalkan akhirat.
“Silahkan mencari rezeki profesional, tapi jangan sampai mengabaikan shalat. Keseimbangan ini bukan sekadar menunaikan sesuatu, tapi juga memberikan yang terbaik dengan tanpa melalaikan beribadah,” urainya.
Dikisahkan, ada tiga sahabat datang kepada istri Nabi Muhammad Saw. Mereka menanyakan ibadah Nabi. Dari cerita istri Nabi, ternyata ibadah Nabi tak sebanyak yang mereka pikir. Mereka mengira bahwa Nabi beribadah terus-menerus. Sampai kemudian satu sahabat mengatakan, mulai saat itu akan puasa penuh, satu sahabat lagi menyebut akan salat sepanjang malam tanpa tidur, satu lagi tak mau menggauli perempuan.
Nabi kemudian mendengar kesepakatan tiga sahabat ini.
“Menurutmu siapa paling bertakwa?” tanya Nabi Saw.
“Engkau ya rasul,” jawab sahabat.
Rasul kemudian mengatakan, tak pernah puasa terus menerus. Malam hari juga tidur, shalat malam kemudian tidur lagi dan Salat Subuh. Nabi pun menggauli istri dengan baik.
“Siapa yang menyelisihi cara saya ini maka dia telah keluar dari sunnah saya. Puasa setiap hari bukan bagian dari sunnah saya, beribadah sepanjang malam pun bukan sunnah saya. Termasuk mengabaikan istrinya, bukan yang ikuti sunnah saya,” urainya.
Doktor tafsir Al Quran dari Al Azhar ini menyebut, ada yang menganggap dunia ini rumah selamanya, orientasinya dunia saja. Kemudian bersenang-senang semaunya.
“Tobatnya menunggu tua. Dia pikir akan sampai tua, padahal banyak yang mati muda,” ucapnya.
TGB menyebut, menganggap dunia segalanya salah, bukan berarti dunia tak penting. Justru dunia ini satu-satunya kendaraan menuju akhirat.
“Yang perlu dilakukan adalah bagaimana kebaikan di dunia bisa bermanfaat dan bisa manfaatnya dirasakan lebih banyak orang,” imbuhnya. (WST/RS/HNM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 + eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.