Home Tokoh Alumni Kesaksian TGB Terhadap Almarhum Sang Paman, Abdul Kabir

Kesaksian TGB Terhadap Almarhum Sang Paman, Abdul Kabir

1180
0
SHARE
Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi tengah menyolatkan jenazah almarhum pamannya, Abdul Kabir

Wasathiyyah.com, Lombok Timur — Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mengimami salat jenazah pamannya, H Abdul Kabir, SH, MH di Masjid Besar at-Taqwa Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (5/2/2019). Almarhum menghembuskan nafas terakhir di RSUP NTB.

Seusai salat, TGB membaca doa untuk kebaikan almarhum. Ia lalu bertanya kepada jamaah. “Mari kita persaksikan, apakah almarhum orang baik?,” tanyanya. Serentak jamaah menjawab baik. Selama tiga kali TGB bertanya, selalu dijawab baik.

Dari Masjid At-Taqwa, jenazah almarhum dibawa ke pemakaman umum Gayong Pancor Muhajirin. Selama proses penurunan jenazah ke liang lahat, tak terputus suara kalimat thoyyibah menggema melalui pengeras suara.

Begitu jenazah telah menempati tempatnya dan telah ditimbun tanah, dilanjutkan dengan seremoni. Diawali dengan talqin lalu dzikir dan doa, pembacaan riwayat hidup almarhum serta sambutan atas nama keluarga.

Disebutkan bahwa almarhum semasa hidupnya aktif di Nahdlatul Wathan (NW), seperti menjadi pimpinan Kepemudaan NW, guru madrasah NW dan dosen/wakil rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH). Di samping itu, almarhum bekerja di Pengadilan Agama (PA). Purna bhakti dari PA Selong tahun 2017, dengan jabatan terakhir sebagai wakil panitera.

TGB pun mewakili keluarga menyampaikan sambutan. Sebab, mantan Gubernur NTB itu dan almarhum masih ada hubungan darah. Kakek TGB (TGKH. Zainuddin Abdul Majid) saudara kandung ayah Pak Kabir (H. Mahsun Aini Abdul Majid)

Dalam sambutannya, TGB menyampaikan ucapan terima kasih atas nama keluarga, kepada mereka yang telah hadir bertakziah ke rumah duka dan ikut menyolatkan almarhum serta mengantar ke pemakaman.

TGB juga menyampaikan permohonan maaf jika almarhum pernah berbuat kesalahan semasa hidupnya.

“Kalau ada urusan utang piutang, silakan hubungi keluarganya atau ahli warisnya untuk diselesaikan,” imbuhnya.

TGB lalu menyampaikan kesan selama bersama dengan almarhum. “Tadi kita dengar riwayat hidup almarhum. Dari muda sampai akhir hayatnya, almarhum ini tidak jauh dari menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu,” ujar TGB.

TGB menceritakan pahit getirnya perjuangan membesarkan Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH). Dan pamannya itu selalu siap melaksanakan apa saja yang ditugaskan.

“Selama 10 tahun saya diamanahi sebagai gubernur, beliaulah yang selalu membuka rapat senat IAIH untuk wisuda,” tutur TGB.

TGB dan pamannya itu sama-sama pimpinan IAIH. TGB menjabat rektor dan pamannya wakil rektor.

Selama TGB bertugas sebagai gubernur, almarhum sering diminta melaksanakan tugas rektor.

“Pernah suatu waktu beliau datang dari Pancor menemui saya. Saat itu saya tinggal di pendopo gubernur di Mataram. Beliau datang jauh-jauh hanya untuk bertanya, apa lagi yang perlu saya kerjakan. Betul-betul tipe pekerja yang siap menerima tugas,” kenang TGB.

Hal itu, lanjutnya, karena didasari keyakinan bahwa dalam tugas itu ada kebaikan dan ada pahala dari Allah.

TGB pun sangat terkesan dengan kepribadian almarhun yang tidak suka pamer. “Semalam waktu saya takziah ke rumah duka. Saya lihat foto-foto yang terpampang di ruang tamu menggambarkan kepribadian almarhum yang tidak suka pamer atau menunjukkan kepada orang lain. Biasanya kita suka memajang foto dengan pejabat atau saat berkunjung ke tempat yang istimewa. Tetapi yang dipajang beliau adalah foto saat masih berjuang dulu dengan teman-temannya,” kata tokoh nasional yang sekarang bergabung dengan Partai Golkar itu.

Sebelum mengakhiri sambutannya, TGB berpesan kepada mereka yang hadir di pemakaman agar bersiap-siap menyambut kematian.

“Semua kita akan meninggal, karena itu marilah kita segera memperbaiki diri dengan meningkatkan amal kebaikan dan meninggalkan dosa,” pesannya.

Dengan berakhirnya sambutan TGB, berakhir pula rangkaian pemakaman almarhum. Tampak hadir di pemakaman itu antara lain, Bani Abdul Majid, pengurus besar NW, keluarga besar IAIH, santri-santri NW, keluarga besar PA Selong, tetangga dan sahabat almarhum. (WST/YN/AF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.