Home Kegiatan Alumni Puisi Dadakan Aguk, Bikin Azhary Rindu Mesir

Puisi Dadakan Aguk, Bikin Azhary Rindu Mesir

376
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Zoom Meeting–Tidak hanya tahu bulat dadakan yang enak, ternyata puisi dadakan juga sangat lezat dinikmati. Ini terbukti dengan puisi yang dibacakan oleh Kang Aguk –panggilan sastrawan asal Lamongan, Dr. KH. Aguk Irawan MN, Lc., MA.– saat acara KEBAB (KEtemu ahBAB) Azhary dalam rangka Halal bi Halal Akbar Alumni Al-Azhar se-Indonesia hari ini (Ahad, 31/5) di Zoom Meeting.

Sastrawan alumnus Universitas Al-Azhar University Cairo jurusan Aqidah dan Filsafat itu menceritakan kepada Kru Wasathiyyah bahwa ide menulis puisi itu muncul saat Gus Mus berbicara berapa menit sebelum dia tampil. Awalnya, Kang Aguk akan membacakan puisi lamanya. Namun setelah menyimak uraian dari Gus Mus dalam acara yang dihadiri oleh ratusan anggota Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia itu, secara spontan jemari Kang Aguk menari dan lahirlah puisi ini:

KITA DENGAN KITA

Apakah ada persahabatan sedekat kita? Tawa renyah kita dalam hari-hari itu, juga lahan-lahan penderitaan kita tak hanya pernah menaklukan Khan Khalili, kawasan Husain dan Saidah Zainab. Tapi pernah juga melampaui masjid Seribu Menara. Semuanya kita rasai di bawah panji dan misi suci thalabil ilmi.

Apakah ada persaudaraan seerat kita? Kau dan aku bertemu, sama-sama bergelantungan penuh sesak di bus 80 coret dengan senyum merekah. Kita sama-sama menunggu di Mahattah Rabiah sambil menahan dingin atau bertemu pada forum-forum, seminar-seminar dan konfrensi-konfrensi di Wisma Nusantara, lalu lahirlah secuil kisah yang indah…

Oh wajah siapa itu di hadiqah dauli? Berseri dan bersemu merah seperti halnya putik bunga menanti datangnya pagi. Di atasnya cericit burung membersamai para aktivis berdiskusi demi terbitnya bulletin esok hari. Di sini, sungguh suaraku memendam kesunyian yang dinyalakan rindu pada wajah kalian, satu demi satu…

Yogyakarta, 31 Mei 2020

Tentu saja, isi puisi itu membangkitkan kerinduan para alumni Al-Azhar terhadap Mesir. Hanya beberapa menit kemudian, Azhary mengapresiasi puisi itu lewat Chat Zoom Meeting dan WhatsApp Group (WAG).

“Weyyy…, kereeen puisi Kyai Aguk,” tulis Ani Laily Khoirani.

Tak berapa lama, Romli Syarqawy menimpali komentar Ani, “Itu puisi yang sudah lama disimpan Kyai Aguk sejak masih di Cairo ya?”

Bukan hanya Ani dan Romli merasakan getaran kerinduan terhadap Negeri Seribu Menara saat mendengarkan puisi pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta itu, melainkan semua alumni yang hadir bernostalgia dengan tempat-tempat yang disebutkan dalam puisi.

Saat kru Wasathiyyah menanyakan “siapakah wajah berseri di Hadiqah Dawliyah itu?”, maka Kang Aguk hanya menjawab dengan tertawa. Sastrawan memang bersembunyi di balik puisi. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − twelve =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.