Home Kegiatan Alumni Isi Kuliah Umum di Malaysia, TGB Ingatkan Pentingnya Keseimbangan Alam

Isi Kuliah Umum di Malaysia, TGB Ingatkan Pentingnya Keseimbangan Alam

142
0
SHARE
Ketua OIAA cabang Indonesia Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) mengisi kuliah umum di Universitas Sains Malaysia, Kamis (28/11/2019)

Wasathiyyah.com, Pulau Pinang — Islam Development Universiti (ISDEV) Sains Malaysia (USM) menggelar Siri Wacana Penyelidik (Kuliah Umum), Kamis (28/11/2019). Hadir sebagai pembicara, Cendikiawan Muslim asal Indonesia TGB HM Zainul Majdi.

Director ISDEV, Dr Shahir Akram Hassan dalam sambutannya mengatakan, ISDEV salah satu pusat kajian dan riset di USM. ISDEV berkaitan dengan pengurusan pembangunan Islam. Manajemen pembangunan Islam.

“Dan meneliti ekologi dan pembangunan ekonomi dan pendirian politik,” katanya.

Hadir pada kuliah umum ini Guru Besar ISDEV Profesor Dr Sykuri Salleh,  pengurus ISDEV Dr Syakir dan Dr Wan Hassan. Kuliah umum mengambil tema, Antara Ekologi dan Ekonomi : Dimana Pendirian Politik.

Mengawali sambutan, TGB mengatakan, tema kuliah umum menonjolkan ekologi dengan ekonomi dan politik menjadi sesuatu yang menarik. Sesuatu yang baik dengan tidak mengikuti gendang orang lain.

“Ketika orang melempar ujaran kebencian kita ikut. Disana ada yang takut Islam atau Islamphobia, sementara kita (Islam) tertutup tak membuka diri,” katanya.

Dijelaskannya, di Alquran telah disampaikan, wama arsalnaka ila rahmatan lil alamin, kehadiran Islam menghadirkan rahmat bagi semua alam. Memberikan kemanfaatan universal. Alamin dalam ayat tersebut memaparkan segala sesuatu selain Allah.

“Bukan hanya konteks kemanfaatan dari manusia saja,” sambungnya.

Pandangan Islam dalam kehidupan, sambung TGB, seperti disampaikan oleh Syaikh Ali Jumah yang dikejar adalah keharmonisan, seperti tertuang dalam Surat Al Hujurat.

“Bicara politik, ekologi, dan ekonomi dan lainnya, itu ada benang merah,” urainya.

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia ini mengungkapkan, bicara politik selalu berkaitan dengan pada kekuasaan. Memanfaatkan potensi yang ada di sekitar. Berbicara mendapatkan dan mengelola kekuasaan. Sesuatu yang tak memiliki nilai dukung dianggap tak ada harganya.

Dahulu di Indonesia ada Negarakertagama di dalamnya membahas lingkungan, alam, dan hutan.

“Semua pembahasan adalah soal kepentingan manusia,” urainya.

Diakui TGB, konsep saat ini hanya fokus pada manusia, bagian lain hanya penopang. Kemudian tumbuhlah perpektif baru, dapat uang, makmur, nyaman. Kesadaran ekologis harusnya hadir bukan dengan tiba.

“Memperlakukan alam dengan baik. Karena lama-lama daya dukungnya habis dan hilang,” imbuhnya.

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode ini menyinggung kondisi sekarang ada masa bumi tak lagi bisa menampung. Sebaliknya nanti akan menggerogoti. Itulah kenapa Islam mengajarkan keseimbangan.

Pendekatan ekonomi dan politik telah menghadirkan kenyamanan.

“Tetapi di sisi yang lain menurunnya daya. Kebutuhan manusia selalu harus segera dipenuhi,” tukasnya. (WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.