Home Kegiatan Alumni Dialog Kebangsaan, Begini Paparan Lengkap TGB Soal Ormas Islam di Indonesia

Dialog Kebangsaan, Begini Paparan Lengkap TGB Soal Ormas Islam di Indonesia

378
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta — Forma Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia menggelar dialog kebangsaan bertajuk Fungsi dan Peranan Ormas Islam Masa Kini, Selasa (27/8/2019).

Dalam acara tersebut, hadir sebagai pembicara yakni Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) cabang Indonesia Muhammad Zainul Majdi atau biasa disapa Tuan Guru Bajang (TGB), Direktur SKSG UI Lutfi Zuhdi dan Direktur NU Online Savic Ali.

TGB yang merupakan cucu pendiri Ormas Nahdlatul Wathan (NW) TGKH Zainuddin Abdul Madjid memaparkan tentang perbedaan ormas Islam di Indonesia dengan di luar Indonesia.

Menurutnya, keberadaan ormas Islam di Indonesia, selain mengajarkan pemahaman tentang ketaatan terhadap ajaran Islam, juga tidak menghilangkan warna kebangsaannya.

Berikut paparan lengkap TGB soal ormas Islam dalam kegiatan itu:

Tidak ada negara Islam di dunia ini yang memiliki khazanah ormas Islam sekaya Indonesia. Kalau kita lihat salah satu yang menarik dari ormas Islam di Indonesia, selain jumlahnya yang banyak tetapi karakteristiknya. Jadi karakteristik utamanya, walaupun dinisbahkan kepada satu agama kepada Islam, kalau kita lihat mulai dari Jamiatul Khair, Syarikat Dagang Sslam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, PUI, Nahdlatul Wathan, Al-Khairat, Darud Dakwah Wal Irsyad, namanya ia ormas Islam antara keislaman dan kebangsaan itu sudah blending, tidak bisa dipisahkan seperti dua sisi mata uang yang sama.

Ini menarik, karena ormas di luar negeri, warna Islamnya sangat mendominasi, seperti di Mesir ada Jamiyyah Syariyyah (JS), ormas Islam yang cukup besar, kalau dibanding-bandingkan dngn Ihwanul Muslimin ya kurang lebih hampir sama, bahkan dia (JS) punya penetrasi di beberapa tempat cukup kuat. JS ini warna kemesirannya hampir tidak ada, jadi memang ormas itu dibentuk untuk mengajak rakyat Mesir untuk lebih taat kepada ajaran agama, memberikan asupan keilmuan keislaman yang cukup, mendirikan sekolah-sekolah, membangun majelis-majelis taklim, lembaga-lembaga amal sosial yang isinya itu materi-materi substansi keislaman, hampir tidak ada kita mendengar tentang materi kemesiran atau kebangsaan.

Ada jamaah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyah di mesir juga sama seperti itu. Jadi ketika berbicara ormas Islam di luar Indonesia yang saya tahu itu biasanya yang ada dalam pikiran kita dan yang kita baca dari literatur yang mereka terbitkan bicaranya tentang revitalisasi Islam di tengah masyarakat.

Nah, Indonesia punya hal yang berbeda. Kalau kita lihat para ulama dan pendiri ormas, ini ulama yang par excellence bukan ustaz yang hari ini baru bisa baca abata besok sudah ceramah. Ini ulama yang rekam jejaknya sudah tertinggi dalam khazanah keislaman. Kalau kita bicara pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, kita baca karya-karya beliau itu dahsyat, karya-karya pendek tapi bisa merangkum substansi yang luar biasa padatnya, itu butuh keahlian tersendiri. Kemudian KH Ahmad Dahlan juga sama, kalau kita bicara Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) Anre Gurutta Ambo Dalle di Sulawesi juga keilmuannya sudah khatam, dari sisi keislaman dia sudah belajar Islam secara tertib dan sudah mencapai kompetensi keislaman yang tinggi.

Para pendiri ormas Islam di Indonesia ini tingkat kemampuan pemahaman keislaman sudah sangat mumpuni. Namun, ketika mereka membentuk ormas, ternyata warna Indonesianya itu cukup kuat dan sangat kental. Kenapa karena sequencenya memang ormas-ormas induk itu bersamaan dengan semakin menguatnya hasrat untuk merdeka. Dia menjadi muara dari demikian banyak aliran perjuangan. Jadi ormas itu didirikan tidak hanya untuk menjadikan umat Islam paham ajaran agamanya, tetapi juga untuk mengkanalisasi semangat kemerdekaan itu.

Kenapa bisa dikanalisasi, kenapa bisa para ulama mendirikan ormas Islam di Indonesia ini dengan warna kebangsaan yang sangat kental sejak awal, karena mereka punya pemahaman yang kuat sekali bahwa keindonesiaan atau kebangsaan tidak bertentangan dengan Islam. Maka, agak ironis beberapa waktu terakhir justru mulai muncul ormas, tapi kok terhadap nilai kebangsaan itu banyak sekali keberatannya, banyak sekali kegamangan dalam menerima Indonesia sebagai satu amanah Allah, suatu kesepakatan terbaik yang kita dapatkan yang harus kita majukan lagi kedepan. (WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.