Home Kegiatan Alumni Animo ke Al-Azhar Naik 200%, Akan Dibuka Markaz Lughah di Jakarta

Animo ke Al-Azhar Naik 200%, Akan Dibuka Markaz Lughah di Jakarta

1004
0
SHARE
Ketua dan Sekjen OIAA Cab. Indonesia, TGB dan Muchlis Hanafi di Markaz Lughah Azhar (24/12/2018)

Wasathiyyah.com, Kairo—Animo putra-putri Indonesia untuk studi di Universitas al-Azhar Mesir, dari tahun ke tahun, semakin meningkat. Dalam 3 tahun terakhir tercatat peningkatan minat peserta ujian seleksi masuk Universitas al-Azhar yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI mencapai lebih dari 200%.

“Dalam tiga tahun ini, peminat tes al-Azhar melonjak lebih dari dua ratus persen.” Kata Sekjen Organisasi Internasional Alumni Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, Dr. Muchlis Hanafi, MA.

Ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) itu memberikan data berikut ini: tahun 2016 sebanyak 3.162 pendaftar, dinyatakan lulus 958 orang, dan yang berangkat ke Mesir 714 orang. Tahun 2017 sebanyak 4.483 pendaftar, dinyatakan lulus 1.807 orang, dan yang berangkat 1.557 orang. Dan tahun ini, tahun 2018 sebanyak 9.400 pendaftar, dinyatakan lulus sebanyak 1.883 orang.

Kendala yang dihadapi calon mahasiswa baru (CAMABA), selain masalah finansial, juga masalah bahasa. Sebab, kemampuan bahasa Arab menjadi modal utama studi di Al-Azhar. Berkaitan dengan masalah bahasa ini, Pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa upaya untuk memastikan bahwa calon mahasiswa yang berangkat ke Mesir memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik.

Upaya tersebut antara lain: Seleksi Calon Mahasiswa dan Unifikasi ijazah mu`adalah oleh Kemenag dan Al-Azhar.

Sejak tahun 2006 Kemenag RI memberlakukan sistem seleksi. Yang dinyatakan lulus diberikan rekomendasi untuk melanjutkan ke universitas Al-Azhar. Rekomendasi itu menjadi dasar bagi KBRI untuk memproses berkas calon mahasiswa (legalisir dan pengantar kuliah) dan Kedubes Mesir dalam memberikan visa.

Sistem seleksi ini mendapat dukungan berbagai pihak seperti dinyatakan dalam lokakarya peningkatan mutu mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan oleh KBRI Kairo dan dihadiri oleh beberapa pemangku kepentingan di tanah air (Kementerian, DPR, Ormas dan pondok pesantren) pada tahun 2008.

Al-Azhar pun memberikan dukungan. Seleksi tahap II yang diadakan Kemenag dilakukan oleh dosen-dosen yang diutus oleh rektorat Al-Azhar.

Tahun 2010 Al-Azhar memberlakukan seleksi bagi CAMABA. Yang dianggap lemah bahasanya dipersilakan masuk kelas bahasa. Tetapi pada saat yang sama diperkenankan mengikuti perkuliahan. Banyak camaba yang tidak serius.

Seiring penguatan lembaga Pusat Bahasa Arab Al-Azhar, hanya mahasiswa yang mencapai level mutaqaddim awwal yang bisa langsung kuliah. Sebagian besar mahasiswa asing, termasuk asal Indonesia, tidak bisa langsung kuliah, karena harus menyelesaikan kelas bahasa. Akibatnya, sejumlah persoalan muncul, seperti: 1). izin tinggal yang harus diperbaharui setiap 3 bulan sekali; 2). kekosongan waktu, sebab tidak sedikit camaba yang sudah menyelesaikan kelas bahasa di bulan Januari atau Februari. Sedangkan tahun ajaran baru dimulai bulan Oktober. Dan, 3). Biaya kursus bahasa dan living coast.

Kemudian tahun 2016 ada upaya Menteri Agama dan OIAA Cabang Indonesia agar kelas bahasa diselenggarakan di Indonesia. Secara prinsip, Grand Syeikh Al-Azhar tidak berkeberatan. Namun secara teknis, ada beberapa pasal dalam perjanjian yang belum ada titik temu. Baru ada titik terang saat kunjungan pimpinan pusat OIAA ke kantor cabang pada Juli 2018.

Dalam rangka merumuskan teknis untuk membuka kelas bahasa di Indonesia itu, maka OIAA Cabang Indonesia menyelenggarakan “Workshop Peningkatan Kompetensi Bahasa Arab Calon Mahasiswa Indonesia Di Universitas Al-Azhar Mesir” tanggal 21-22 September 2018 di Hotel Santika TMII Jakarta.

Puncak dari proses membuka kelas bahasa di Indonesia tersebut, saat ini Ketua dan sekjen OIAA Cabang Indonesia datang ke Mesir, selain mengantarkan anak didik dan putra putri terbaik Indonesia, juga untuk melakukan negoisasi dengan markaz lughah Azhar (MLA) untuk pembukaan MLA di Jakarta

“Kehadiran kami di Kairo sebagai upaya maksimal mengantarkan anak didik dan putra-putri terbaik Indonesia untuk menimba ilmu-ilmu keislaman langsung dari sumbernya di Universitas Al Azhar Mesir.” Kata Tuan Guru Bajang (TGB), panggilan akrab Dr. Muhammad Zainil Majdi, MA.

Selanjutnya Dr. Muchlis Hanafi, MA., menambahkan, “Kedatangan kami di Cairo di sela sela kesibukan di Jakarta adalah untuk memastikan para Camaba mendapatkan kenyamanan dalam memulai ujian level bahasa –tahdid mustawa, selain itu kami sedang negoisasi dengan Markaz Lughah Azhar (MLA) untuk pembukaan MLA di Jakarta.” (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.