Home Kegiatan Alumni Sambut Perkuliahan, Prodi Hadis UIN Bandung dan PAAM Jabar Gelar Webinar Hadis-Politik

Sambut Perkuliahan, Prodi Hadis UIN Bandung dan PAAM Jabar Gelar Webinar Hadis-Politik

61
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Bandung–Pembicaraan politik dan syariat memang ibarat sumur yang tak pernah kering. Selalu ada tema bahasan yang layak  didiskusikan. Memanfaatkan isu ini , kemaren (26/9), Prodi Ilmu Hadis UIN SGD Bandung  menggelar webinar bekerjasama dengan Paguyuban Alumni Azhar Mesir Jawa Barat.

Webinar ini membidik tema Diskursus Hadis dan Politik, Islamisasi atau Politisasi. Tema ini seperti dipaparkan Kaprodi Ilmu Hadis UIN SGD Bandung, Dr. Agus Raharusun, Lc., adalah upaya responsif terhadap sejumlah realita sosial-politik belakangan ini. Sebut saja, Pilkada yang akan digelar atau isu politik dinasti yang mengemuka.

“Tema webinar, sebagai respon atas realitas sosial-politik saat ini,” kata Agus Raharusun.

Sebagai pembanding, hadir pula Ahmad Zaeni Dahlan Lc, MA . seorang alumni al-Azhar Mesir yang pernah meneliti dinamika pemikiran Hadis dan Politik di Mesir pada peristiwa Arab Spring. Dia menggeluti bagaimana argumentasi hadis mewarnai diskursus politik di lembaga Al Azhar pada dua event politik di Mesir. Peran Al-Azhar yang  mengusung nilai wasathiyah memperlihatkan  fleksibilitas hadis ahkam demi kemaslahatan masyarakat. Tentu saja sikap ini tidak luput dari kontroversi masyarakat Muslim Mesir saat itu.

Di sisi lain Dr. Dede Radhiana MA, memaparkan historitas  pola relasi  riwayat dan kekuasaan. Menurutnya, peran politik tak bisa luput dari sejarah penyebaran hadis. Bagaimana kodifikasi hadis di era Umar bin Abdul Aziz adalah nyata realita kebijakan politik  yang positif. Karenanya membawa pemahaman hadis kepada realita kesejarahan menjadi penting di samping fleksibilitas sinergi dengan bidang lain, seperti Ilmu Fikih. Muhadditsun dan Fuqoha  bagaikan dokter dan apoteker yang tahu dosis terbaik untuk sebutir obat yang layak konsumsi.

“Peran politik, tak bisa lepas dari sejarah penyebaran hadis. Bagaimana kodifikasi hadis di era Umar bin Abdul Aziz adalah nyata realita kebijakan politik  yang positif.” Ujar mantan Kaprodi S2 Hadis UIN SGD Bandung itu.

Webinar ini dihadiri  banyak peserta dengan pertanyaan dan dialog yang hangat dan ilmiyah  mengantarkan para pecinta kajian hadis menjadi para ahli ilmu yang  memiliki otoritas di bidang ini agar tidak menyesatkan. Benar seperti ungkapan  Ibn Uyainah, “Hadis akan jadi bahan menyesatkan, kecuali di tangan para ulama.”

Di akhir acara Kaprodi hadis yang juga khirrij al-Azhar, menyampaikan optimismenya melalui kerjasama akademik ini akan semakin  menebarkan nilai wasathiyah seperti  yang digaungkan Al-Azhar dan misi moderasi  yang digagas UIN SGD dalam bingkai wahyu memandu ilimu. (WST/YNF)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve + 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.