Home Kegiatan Alumni OIAA Cabang Indonesia Hadiri Halaqah Nasional Pesantren DDI Mangkoso

OIAA Cabang Indonesia Hadiri Halaqah Nasional Pesantren DDI Mangkoso

423
0
SHARE
Halaqah Nasional di Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Kapubaten Barru, Sulawesi Selatan, Ahad (23/12/2018)

Wasathiyyah.com, Sulawesi–Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Kapubaten Barru, Sulawesi Selatan, yang dipimpin oleh Anregurutta Dr. Faried Wadjedi, MA, menyelenggarakan Halaqah Nasional dalam rangka milad ke-80 pesantren itu, Ahad, 23 Desember 2018. Tampil sebagai narasumber pada Halaqah Nasional tersebut adalah Prof. Dr. Syamsul Bahri Galigo A, MA, Dr.  KH Farid Wadjedi, dan TGB Dr. M Zainul Majdi, MA yang pada kesempatan itu diwakili oleh Muhammad Arifin, MA. Semua narasumber adalah alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Tema yg diusung pada halaqah tersebut adalah “Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) berkhidmat untuk Umat, Menebar Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin”. Tema tersebut merupakan bentuk kepedulian DDI atas kondisi kekinian masyarakat Indonesia, terutama umat Islam, di mana begitu marak wacana dan praktik keagamaan yang tidak mencerminkan Islam yang ramah.

Prof. Syamsul Bahri mengulas masalah Ahlussunnah wal Jamaah, apa dan siapakah mereka. Menurutnya, istilah ahlussunnah sejak semula kemunculannya lebih merupakan sikap beragama, bukan menunjuk kelompok tertentu. Begitu juga dengan istilah salaf, lebih merupakan sikap beragama, bukan merujuk pada kelompok tertentu. Dengan kata lain, tidak ada istilah “ini salafi” dengan ciri-ciri seperti yang sering dimunculkan oleh sebagian orang belakangan ini, dan yang lain yang tidak memenuhi ciri itu “bukan salafi”. Semua kita adalah “salafi” selama sikap keberagamaan kita benar sesuai pemahaman Ahlussunah wal Jamaah.

Prof. Syamsul Bahri yang juga Ketua Pengurus Pusat DDI lebih jauh mengajak peserta halaqah untuk membaca buku dan belajar dari guru-guru yang tepat agar mengerti benar paham yang dianut oleh Alhussunnah wal Jamaah. “Jangan berhenti pada informasi yang disajikan oleh internet saja, tetapi juga berguru langsung. Inilah tradisi yang dilestarikan di pesantren-pesantren: berguru langsung,” katanya.

Sementara itu, KH Farid Wadjedi lebih banyak berbicara tentang ke-DDI-an, sekaligus mengkritik paham dan pemikiran keislaman kontemporer yang terlalu ketat sehingga bukannya mendekatkan orang kepada agama, tetapi malah menjauhkan orang dari agama.

Muhammad Arifin, sebagai pengurus harian Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia –mewakili TGB M Zainul Majdi, Ketua OIAA, yang berhalangan hadir— membahas isu wasathiyah Islam dan tantangan peradaban. Arifin mengawali pembicaraannya bahwa wasathiyah (moderasi) merupakan sifat yang melekat sekaligus ciri utama agama Islam. Posisi Rasulullah saw. sebagai manusia biasa sekaligus memiliki keistimewaan dengan menerima wahyu, seperti dapat dibaca pada QS al-Kahf [18]: 110 merupakan salah satu contoh dari ciri wasathiyah itu dari segi keimanan. Meski manusia, Muhammad saw. tidak boleh disamakan dengan manusia lain, sehingga kita dengan bebas menolak ucapannya ketika kita tidak suka; pada saat yang sama beliau juga bukan anak Tuhan. Agama-agama samawi yang turun sebelum Islam telah diselewengkan oleh sebagian umatnya sehingga memperlakukan nabi-nabi utusan Allah secara tidak wajar: ekstremitas.

Ekstremetas itulah, menurut Arifin, yang merupakan tantangan besar yang dihadapi oleh wasathiyah sekarang ini. Peradaban bangsa di masa depan harus dibangun di atas pemahaman Islam yang wasath.

Kegiatan Milad Pondok Pesantren DDI Mangkoso ke-80 itu juga sekaligus haul ke-22 atas wafatnya Anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle. [WST/YNF/MA]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.