Home Kegiatan Alumni Muchlis M Hanafi Apresiasi 1000 Abraham Circles, Dialog Antar Umat Islam, Yahudi,...

Muchlis M Hanafi Apresiasi 1000 Abraham Circles, Dialog Antar Umat Islam, Yahudi, dan Kristen

260
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.

Wasathiyyah.com, Jakarta– Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menggulirkan “The 1.000 Abrahamic Circle”, sebuah program kunjungan pemuka agama Abrahamik dari Islam, Kristen, dan Yahudi ke komunitas masing-masing, termasuk tinggal di rumah mereka.

Program 1.000 Abrahamic Circles ini akan berlangsung selama 10 tahun dengan melibatkan 3.000 tokoh agama. Setiap lingkaran, tiga peserta mengikuti program selama tiga minggu dengan menjalankan kehidupan selama seminggu di komunitas setiap agama.

Salah satu rangkaian kegiatan dari program tersebut, FPCI menggelar acara diskusi bertajuk “The First Abrahamic Circle: Understanding Interfaith at the Grassroots” di Bengkel Diplomasi FPCI, di Gedung Mayapada Tower 1 lantai 19, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Acara itu dihadiri oleh Sekretaris Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Bukhori Muslim, para peserta The First Abrahamic Circle: pengajar di Jagar Arsy World Civilization Boarding School, BSD, Tangerang Selatan, Banten Ustaz Oji Fahrurroji; Rabbi Eliot Baskin dari Sinagog Emanuel Denver, Colorado, Amerika Serikat, dan Pendeta Ryhan Prasad dari Gereja Khandallah Presbyterian, Wellington, Selandia Baru, dan Direktur Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta, Dr. Muchlis M Hanafi MA.,  sekaligus sebagai Keynote Speech.

Muchlis M Hanafi menyampaikan salam hormat dari pendiri Pusat Studi Al-Qur`an (PSQ), Prof. Dr. M. Quraish Shihab. PSQ memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Founder dan CEO Foreign Policy Community of Indonesia, Dr. Dino Patti Djalal, atas inisiatif mulia menyelenggarakan program 1000 Abrahamic Circles yang bertujuan memperbaiki hubungan antara pemeluk agama Islam, Kristen dan Yahudi, serta mengurangi gejala Islamophobia yang semakin marak di berbagai belahan dunia.

Muchlis menceritakan pengalaman spritualnya, saat menunaikan ibadah haji, menurutnya haji sebagai tradisi kenabian Ibrahim AS, tidak hanya memiliki dimensi ketuhanan, melainkan juga dimensi kemanusiaan.

“Saya baru saja kembali dari tanah suci Makkah setelah menunaikan ibadah haji. Sebuah perjalanan spiritual yang sangat mengesankan, terlebih karena ibadah haji adalah warisan dari ajaran dan tradisi kenabian Ibrahim AS. Sebuah ritual ibadah yang tidak hanya memiliki dimensi ketuhanan, tetapi juga sarat dengan dimensi kemanusiaan. Jutaan manusia dengan beragam suku, bahasa, warna dan ras berkumpul dengan pakaian yang sama. Sebuah ajaran kesetaraan yang tinggi.” Kisah doktor Tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu.

Sekretaris jenderal Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia mengungkapkan bahwa dalam khutbah di Arafah saat berhaji 1430 tahun yang lalu, Nabi Muhammad kembali mengumandangkan pesan-pesan kemanusiaan. Dalam pandangan Islam, semua manusia setara bagaikan gigi-gigi sisir. الناس سواسية كأسنان المشط  . Semua berasal dari Adam. Dan, Adam tercipta dari tanah. Tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan atas orang lain dari segi kemanusiaan. Hanya ketakwaan yang membedakannya di mata Tuhan. Agama mengajarkan kepada kita untuk mencintai untuk orang lain sebagaimana kita mencintai diri sendiri.

Dalam konteks ini, tegas Muchlis, patut direnungkan kembali ungkapan Imam Ali yang menyatakan, الناس صنفان إما أخ لك فى الدين وإما نظير لك فى الخلق/الإنسانية . Manusia ada dua kategori; kalau bukan saudara denganmu seagama, maka ia setara denganmu dalam kemanusiaan. Ungkapan ini memberi pesan kuat tentang agama dan kemanusiaan yang diposisikan berdampingan. Ikatan atau identitas keagamaan tidak sepatutnya memutus tali hubungan kemanusiaan. Agama dan kemanusiaan bukan untuk dihadap-hadapkan. Apalagi dibeda-bedakan. Agama justru datang untuk kemanusiaan. Agama datang untuk memanusiakan manusia, dengan cara memelihara agamanya, jiwanya, akalnya, kehormatannya dan hartanya. Itulah maqâshid syarî`ah, tujuan pokok diturunkannya agama.

Oleh karenanya, imbuh Muchlis, patut disesalkan, ketika dunia mengalami berbagai macam krisis; ketidakadilan dalam distribusi kekayaan alam, diskiriminasi, kemerosotan moral, pengangguran, keserakahan, permusuhan dan konflik tak berkesudahan dan sebagainya, agama sebagai sumber nilai luhur yang seharusnya tampil di muka,  ternyata di tangan sebagian pemeluknya agama telah berubah menjadi bagian, bahkan menjadi salah satu pemicu, konflik manusia modern. Atas nama agama mereka saling membunuh. Atas nama agama mereka saling mencaci. Atas nama Tuhan mereka bermusuhan, menebar ujaran kebencian dan kekerasan. Atas nama Tuhan dan agama mereka halalkan segala cara, meski dengan kebencian dan kekerasan.

Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) itu menegaskan bahwa bagi kaum muslimin, Ibrahim AS mempertemukan ajaran sekaligus keturunan.

“Bagi umat Islam,” kata Muchlis,  “Ibrahim adalah panutan (ummah) dan teladan (uswah) dalam meniti jalan kepasrahan dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ibrahim mempertemukan kita. Bukan saja dari segi ajaran, tetapi juga dari keturunan. Dia adalah bapak para nabi (Abul Anbiyâ). Dari jalur Ishaq dan Ya`qub lahirlah nabi-nabi bani Israil, di antaranya Musa dan Isa, dan dari jalur Ismail lahirlah bangsa Arab, yang memunculkan Muhammad. Hubungan para nabi pembawa risalah diilustrasikan oleh Rasulullah Muhammad shallallâhu `alayhi wasallam seperti saudara satu bapak lain ibu (ikhwatun min `allât); agamanya satu, tetapi syariatnya bermacam-macam.”

Keragaman adalah sunnatullah, menurut penerjemah pertemuan Presiden RI Jokowi dan Raja Saudi Arabia King Salman bin Abdul Aziz al-Saud itu,  kehendak Tuhan. Bukan untuk dipertentangkan, tetapi didialogkan, agar saling mengenal satu sama lain. Oleh karenanya, para pemeluk agama harus bisa bekerjasama dalam mewujudkan risalah ketuhanan menuju jalan-jalan kedamaian. Meski harus menempuh jalan panjang dan terjal, kita tidak boleh berhenti menyeru kepada jalan kedamaian.

Di penghujung pemaparannya, Muchlis sebagai pembicara kunci dalam dialog antara pemuka agama itu, kembali menekankan bahwa dialog untuk saling mengenal. Dalam menyikapi fenomena islamophobia tidak ada jalan lain kecuali membangun dialog antara Islam dan Barat. Membesar-besarkan tesis benturan peradaban hanya akan menciptakan rasa takut dan cemas, sehingga akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk mewujudkan tujuan yang bertentangan dengan upaya membangun perdamaian.

“Perbedaan agama, budaya dan peradaban bukan untuk dibenturkan, tetapi untuk didialogkan dalam kerangka “lita`ârafû” (saling mengenal). Semua agama dan peradaban umat manusia bercita-cita membangun sistem kehidupan yang menjamin rasa keadilan, keamanan dan stabilitas. Konflik dan perang selamanya tidak akan pernah menyelesaikan masalah.” Pungkasnya. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + 14 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.