Home Kegiatan Alumni Jelaskan Soal Khilafah, TGB Singgung Kelebihan Indonesia

Jelaskan Soal Khilafah, TGB Singgung Kelebihan Indonesia

353
0
SHARE
Diskusi di kantor PSQ Jalan Kertamukti 63, Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (20/12/2018)

Wasathiyyah.com, Jakarta — Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) menjadi salah satu pembicara dalam diskusi rutin bulanan Kajian Membumikan Alquran yang digelar Pusat Studi Alquran (PSQ).

Diskusi tersebut bertajuk ‘Dari Ideologi Khilafah ke Manusia Khalifah: Alquran, Kontestasi Ideologi dan Pragmatisme Politik’

TGB menjelaskan bahwa khilafah itu merupakan kepemimpinan, dan bukan sebuah bentuk kepemimpinan. Saat memaparkan soal khilafah, ia juga sempat menyinggung soal kelebihan Indonesia.

“Sistem yang ada sekarang di Indonesia itu sama validnya dengan sistem kekhalifahan tunggal yang ada. Sebab definisi tentang kepemimpinan itu sudah bisa terlaksana di Indonesia, baik itu secara riil sudah terlaksana maupun bisa potensinya,” kata TGB dalam diskusi yang digelar di kantor PSQ Jalan Kertamukti 63, Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (20/12/2018).

Lebih jauh TGB menuturkan, Indonesia merupakan salah satu negara di antara negara-negara Islam yang paling progresif mengadopsi dan mempositifkan hukum-hukum Islam yang ada.

“Dari sisi keuangan, Indonesia penerbit sukuk syariah terbesar di dunia. Akhwal syakhsiyah juga difasilitasi,” ungkapnya.

Bicara kepemimpinan, kata TGB, erat kaitannya dengan istilah saat ini daulah Islamiyah. Namun, lanjut dia, dalam bahasan fiqih tidak ada istilah daulah Islamiyah, yang ada darul kufri dan darul Islam (negara Islam).

“Para ulama mendasarkan kriteria daulah Islamiyah itu berdasarkan demografis, dan Indonesia termasuk di dalamnya,” terang dia.

Ia mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah bahwa jika sebagian besar yang tinggal di sebuah wilayah itu umat Muslim, maka itu termasuk daulah Islamiyah.

“Ada juga ukuran (daulah Islamiyah) jika syariat bisa ditunaikan dengan nyaman, dan ukuran syariat itu salah satunya salat, dan Indonesia sangat daulah Islamiyah miyah fil miyah. Bahkan Indonesia mempunyai masjid dan musola terbanyak di dunia,” sebut mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.

Imam Nawawi dan sebagian ulama Syafi’iyyah, kata TGB, menyatakan bahwa ukuran daulah Islamiyah per rumah tangga. Kalau ada satu rumah yang menunaikan syariatnya itu termasuk darul Islam.

“Ada juga ukuran darul Islam itu perasaan aman. Menurut saya pribadi dan kita semua, kita aman di Indonesia. Mengekspresikan keislaman kita secara lahir batin itu nyaman sekali, bahkan berislam di Indonesia ini jauh lebih leluasa dibanding negara-negara yang bahkan, mohon maaf tempat lahirnya Islam,” ucapnya.

“Di sini siapapun bisa jadi khatib yang penting takmirnya mau, di Mesir sendiri gak bisa (sembarangan), harus ada ‘SIM’ surat izin menjadi khatib, jadi ada persyaratan-persyaratan. Model majelis taklim kaum ibu-ibu yang ada di Indonesia bebas, bikin ormas Islam tinggal mau saja kumpul beberapa orang beritahu daftar ke Kemendagri. Bahkan bendera berlafazkan laailaaha illallah, di sini dikibar-kibarkan di depan Istana. Coba bapak ke Arab Saudi kibarkan bendera hitam laailaaha illallah, insya Allah tidak akan pulang ke Indonesia,” ujarnya seraya disambut gelak tawa peserta diskusi.

Hal itu, menurutnya, bukan berarti Pemerintah Arab Saudi anti-Islam, karena bendera tersebut sudah tidak netral lagi berdasarkan kronologi kehadirannya di pentas politik. Sebab, kata dia, ada pengusungnya dan ada pembawanya,” pungkasnya.

Selain Tuan Guru Bajang, PSQ juga menghadirkan Dewan Pakar PSQ Muchlis Hanafi sebagai pembicara lainnya. Acara itu juga dihadiri mantan Ketua OIAA Cabang Indonesia Ustadz Quraish Shihab.(WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.