Home Kegiatan Alumni TGB Ungkap Alasan Al-Azhar Usung Tema Tajdid dalam Konferensi di Kairo

TGB Ungkap Alasan Al-Azhar Usung Tema Tajdid dalam Konferensi di Kairo

295
0
SHARE
Talkshow pembaruan pemikiran keislaman yang digelar Pusat Studi Alquran, Institut Ilmu Alquran dan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar di Kampus IIQ, Ciputat, Tangsel, Rabu (19/2/2020)

Wasathiyyah.com, Jakarta — Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia Muhammad Zainul Majdi atau akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) membeberkan alasan Al-Azhar mengusung tema tajdid atau pembaruan pemikiran keislaman dalam konferensi beberapa waktu lalu di Kairo.

Konferensi Internasional Al-Azhar diselenggarakan tanggal 27-28 Januari 2020. Acara ini dihadiri sekitar 300 ulama dari Departemen Agama Wakaf (Awqaf), Dar Al-Ifta (lembaga tertinggi yang ditugaskan untuk memutuskan fatwa atau menjawab pertanyaan agama dan berafiliasi dengan Al-Azhar Mesir) serta dewan Muslim dari 41 negara, termasuk dari Indonesia.

Menurut TGB, pembicaraan mengenai tajdid biasanya dilakukan di lembaga-lembaga kajian. Namun, kata dia, Al-Azhar memutuskan menjadi lokomotif mewujudkan tajdid lantaran sudah menjadi sebuah kebutuhan

“Jadi bagaimana kita bersama-sama dengan penuh kesungguhan melakukan ikhtiar pembaharuan pemikiran keislaman pada masa sekarang,” kata dia dalam talkshow di Kampus Institut Ilmu Al-Quran (IIQ), Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (19/2/2020).

Lebih lanjut ia memaparkan, ketika Al-Azhar berbicara tajdid, hal itu tidak terbatas pada tataran mencari landasan-landasan dari alquran hadis atau hanya memperkuat basis argumentasi kenapa perlu selalu menghidupkan tajdid.

“Tapi jika dilihat dalam rekomendasi yang dikeluarkan dalam muktamar, hal itu langsung menyentuh isu-isu konkrit, seperti tentang lembaga perkawinan, menyentuh posisi kaum perempuan,” ungkapnya.

Baca juga: Konferensi Internasional Al Azhar Lahirkan 29 Rumusan Pembaharuan Pemikiran Islam

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode ini menuturkan, tajdid merupakan salah satu karakter intrinsik dalam Islam. Jadi, lanjutnya, kalau karakter itu lepas maka Islam tidak akan bisa menunaikan risalahnya dalam kehidupan manusia.

“Kalau kita baca dari buku-buku yang ditulis para ulama, setiap waktu tajdid itu berjalan bahkan pada masa ketika ada ungkapan pintu ijtihad telah tertutup sesungguhnya di setiap sudut pemikiran Islam, baik secara individu maupun institusi itu ada upaya-upaya untuk memperhabarui pemahaman pemikiran Islam,” kata TGB.

“Jadi dhoruroh ‘akliah, faridhoh diniyah dan mumarosah syar’iyyah harus terus kita hidupkan,” imbaunya.

TGB menegaskan, pembaruan pemikiran keislaman itu tidak ada batasnya, kecuali kepada 4 hal, pertama prinsip keyakinan (ushul al-a‘qaid) seperti Allah tidak sama dengan segala sesuatu, kedua pokok sistem tata nilai (ushul al-fadhoil) misalnya kejujuran, amanah, kedisiplinan, dan ketertiban, ketiga hukum-hukum yang sudah ada nashnya (al-manshush al-ahkam) seperti warisan, dan keempat pokok ijtihad (ushul al-ijtihad).

Baca juga: Talkshow Pembaruan Pemikiran Islam, Solusinya Belajar

Ia pun meluruskan pemahaman selama ini bahwa moderasi Islam (wasathiyyaat al-Islam) hanya berhadapan dengan radikalisme.

“Selama ini, ada sebagian kita memahami bahwa wasathiyyah hanya berhadapan dengan radikalisme. Padahal tidak demikian, moderasi Islam berhadapan juga dengan liberalisme, kapitalisme, ateisme, dan pemahaman yang bertentangan dengan Islam,” ujar doktor tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu. (WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.