Home Kegiatan Alumni Talkshow Pembaruan Pemikiran Islam, Solusinya Belajar

Talkshow Pembaruan Pemikiran Islam, Solusinya Belajar

203
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta — Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, Pusat Studi Quran (PSQ) dan Institut Ilmu Quran hari ini (Rabu, 19/2) di Aula IIQ, menyelenggarakan Kajian Membumikan Al-Quran (KMQ) #10. Acara ini ada 2 sesi: Sesi 1 berupa Talkshow Urgensi Pembaruan Pemikiran Islam dari pukul 09.00 – 12.00 WIB, sedangkan sesi 2 berupa Seminar tentang Refoemasi Tafsir Al-Quran Kontempore, Menimbang Al-Misbah M. Quraish Shihab pukul 13.30-15.30 WIB.

Sebelum acara tersebut dimulai, dalam sambutannya Dr. Mukhlis M Hanafi, MA., sebagai penyelenggara KMQ #10, menyampaikan bahwa tujuan acara tersebut, adalah dalam rangka sosialisasi hasil Konferensi Internasional Al-Azhar tentang Pembaharuan Pemikiran Islam tanggal 27-28 Januari 2020 di Kairo. Selain itu, dua hal yang beliau tekankan, bahwa tema tajdid sangat menarik sebab penyelenggaranya Al-Azhar Mesir dan pemerintah Mesir memberikan Tanda Kehormatan Tingkat Utama Bintang Ilmu Pengetahuan dan Seni kepada Prof. Dr. M. Quraish Shihab.

“Acara hari ini kita laksanakan, untuk sosialisasi hasil Konferensi Internasional Al-Azhar tentang Pembaharuan Pemikiran Islam tanggal 27-28 Januari 2020 di Kairo,” cerita Muchlis M Hanafi.

Kemudian sambutan dari Delegasi Al-Azhar Syaikh Muhammad Al-Husaini Farag. Beliau menegaskan bahwa Islam sebagai agama universal yang sesuai dengan kontek waktu dan teman, memiliki karakteristik pembaruan (at-Tajdid). Beliau menyampaikan sebuah hadis tentang Allah akan membangkitkan di tengah umat Islam setiap seratus tahun ada yang mempembarui urusan agama. Dan terakhir, beliau menegaskan hal-hal yang boleh dan tidak boleh diubah.

“Setiap seratus tahun, Allah akan memuncul mujaddid di tengah umat Islam,” Kata Syaikh Muhammad Husein.

Antara acara Sambutan dan Taklshow, diselingi dengan penandatanganan MoU dan tukar cendera mata dari ketua OIAA cabang Indonesia Dr. TGB M Zainul Majdi, Direktur PSQ Dr. Muchlis M Hanafi, dan Direktur IIQ Prof. Dr. Huzaemah T. Yanggo.

Setelah MC menyerahkan acara kepada moderator Dr. Muhammad Ulinnuha, maka 4 narasumber: Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. Huzaemah T. Yanggo, Dr. TGB. M. Zainul Majdi, dan Dr. Abd. Moqsith Ghazali, MA. duduk di hadapan para peserta yang memadati Aula IIQ.

TGB mendapatkan kesempatan pertama untuk berbicara. Selain memenuhi permintaan moderator untuk menceritakan pengalaman selama menghadiri acara Konferensi Internasional Al-Azhar, beliau juga memaparkan bahwa pembaruan atau tajdid, bukan pada Islam, melainkan pada pemikiran Islam. Pembaruan merupakan salah satu karakter Islam. Dan pembaruan itu tidak ada batasnya, kecuali kepada 4 hal ini: prinsip keyakinan (ushul al-‘qaid) seperti Allah tidak sama dengan segala sesuatu, pokok sistim tata nilai (ushul al-fadhoil) misalnya kejujuran, amanah, kedisiplinan, dan ketertiban, hukum-hukum yang sudah ada nashnya (al-manshush al-ahkam) seperti warisan, dan pokok ijtihad (ushul al-ijtihad).

Lebih lanjut. TGB meluruskan pemahaman selama ini bahwa moderasi Islam (wasathiyyaat al-Islam) hanya berhadapan dengan radikalisme. Menurutnya, moderasi Islam, tidak hanya meluruskan radikalisme, melainkan juga liberalisme, kapitalisme, ateisme, dan paham-paham yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan demikian, kata TGB, moderasi Islam ingin mengembalikan pendulum kepemimpinan Islam.

“Selama ini, ada sebagian kita memahami bahwa wasathiyyah hanya berhadapan dengan radikalisme. Padahal tidak demikian, moderasi Islam berhadapan juga dengan liberalisme, kapitalisme, ateisme, dan pemahaman yang bertentangan dengan Islam,” ujar doktor tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu.

Pembicara selanjutnya, Abd. Moqsith Ghazali. Pegiat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU ini selain merespon pertanyaan moderator M.Ulinnuha –awalnya ditujukan kepada TGB tentang apabila pihak Al-Azhar membolehkan di luar 4 hal yang dikatakan TGB boleh ditajid, bagaimana jika ada kelompok lain justru tidak membolehkan– beliau menerangkan tahapan (tajrid) dalam pembaruan.

“Dalam pembaruan, mencicil tajdid sangat penting,” tegas Moqsith.

Azyumardi Azra menguatkan pembahasan Moqsith bahwa dalam sejarah Nusantara tidak ada pembagian kafir zimmi, kafir harbi, dan sejenisnya. Kemudian beliau mengapresiasi Konferensi Internasional Al-Azhar dan menurutnya 29 hasil konferensi itu cukup berani di Timur Tengah dan Asia Selatan. Beliau mencontohkan di Indonesia sudah biasa perempuan tilawah Quran di hadapan laki-laki, namun di Timur Tengah itu jarang terjadi.

“Saya mengapresiasi Deklerasi Konferensi Internasional Al-Azhar. Hasil-hasilnya, sangat berani. Tidak apologetik, tidak defensif. Benar-benar relevan.” kata Azra.

Dan pembicara terakhir, Huzaemah T. Yanggo. Beliau lebih banyak berbicara isi deklerasi point 26-28 tentang bolehnya seorang perempuan pada zaman bepergian tanpa disertai mahram jika perjalanannya aman, didampingi teman sesama perempuan atau dilengkapi sarana yang bisa menolak terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan; seorang perempuan boleh menduduki jabatan apa pun yang dapat dia jalankan, termasuk jabatan tertinggi di negara; dan larangan perceraian zalim tanpa sebab yang diakui oleh agama.

Di penghujung acara, sebelum pemutaran film dokumenter Konferensi Internasional Al-Azhar, moderator memberikan kesempatan kepada M. Quraish Shihab untuk memberikan Closing Statement. Pendiri PSQ ini, setelah menegaskan bahwa talkshow hari ini mencerminkan hasil konferensi, beliau menyampaikan 3 hal penting, pertama bahwa penafsiran sangat dipengaruhi oleh budaya setempat; kedua, pengertian tajid, bukan sekedar menemukan pendapat baru, melainkan juga memilih pendapt terbaik dari pendapat yang sudah ada; dan ketiga, tajdid untuk menghapus debu-debu pemikiran, dengan kata lain kembali kepada ajaran Islam yang asli.

M. Quraish Shihab menegaskan bahwa perbedaan furu’, tidak pernah akan selesai, kecuali banyak belajar, sehingga muncul sikap saling memahami dan menghargai.

“Tak ada solusi dari perbedaan furu’, selain banyak belajar,” tegas M. Quraish Shihab. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.