Home Kegiatan Alumni Siap Kuliah di Mesir, Begini Pendapat Peserta PUSIBA Angkatan Pertama

Siap Kuliah di Mesir, Begini Pendapat Peserta PUSIBA Angkatan Pertama

1155
0
SHARE
Peserta PUSIBA angkatan pertama, Muhammad Saef berpose usai diwisuda di Bayt Alquran TMII, Jakarta, Sabtu (16/11/2019)

Jakarta — Sebanyak 240 orang calon mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo yang mengikuti matrikulasi bahasa di Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) angkatan pertama telah diwisuda. Mereka siap berangkat ke Mesir untuk mengikuti perkuliahan akhir tahun 2019 ini.

Acara wisuda diselenggarakan di Bayt Alquran Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Sabtu (16/11/2019) lalu di hadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia Muchlis Hanafi, pimpinan Yayasan Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah Jakarta Dailami Firdaus, perwakilan Kedutaan Besar Mesir di Jakarta Ahmad Abdul Hadi dan Asyraf, Wakil Presiden Asosiasi Muslim Jepang yang juga alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Profesor Muto dan Direktur PUSIBA Muhammad Arifin.

Lalu apa tanggapan peserta PUSIBA angkatan pertama terhadap lembaga pendidikan cabang Pusat Bahasa Arab Kairo Mesir itu.

Muhammad Saef, salah seorang peserta asal Aceh mengaku, dirinya sangat berkesan belajar persiapan bahasa Arab di PUSIBA, sebelum mengikuti perkuliahan di Universitas Al-Azhar Kairo.

“Saya masuk ke PUSIBA sekita bulan Juli bergabung di mutawasit awwal. Pengajar di PUSIBA itu langsung dari Al-Azhar Mesir. Selain bahasa, kita diajarkan berbagai hal seperti tentang kebudayaan Mesir, wawasan kebangsaan dengan metode belajar yang mudah dipahami,” kata Saef saat berbincang dengan tim wasathiyyah.com, Sabtu (16/11/2019).

Ia mengakui, jadwal belajar untuk peserta PUSIBA angkatan pertama ini memang sangat padat. Pembelajaran dimulai dari pukul 08.00 sampai 17.30 setiap hari tanpa libur.

“Meskipun jadwal padat tidak memutus semangat. Karena kami memang ditargetkan November ini selesai kelas bahasa agar bisa berangkat ke Mesir tahun ini juga,” ungkap Saef.

Namun, seperti yang telah dijelaskan Sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia Muchlis Hanafi, jadwal tersebut hanya berlaku untuk angkatan pertama saja, yang harus mengejar keberangkatan ke Mesir November 2019 ini. Adapun jadwal pembelajaran untuk angkatan kedua berjalan normal seminggu hanya 5 hari dan satu hari cuma 6 jam belajar.

Baca juga: 240 Calon Mahasiswa Al-Azhar Diwisuda, Sekjen OIAA Ungkap Keuntungan Belajar Bahasa di PUSIBA

Saef yang merupakan alumnus Pesantren Madrasah Ulumul Quran di Banda Aceh ini menuturkan, awal mula mengetahui informasi tentang PUSIBA dari temannya yang juga salah seorang peserta PUSIBA.

“Saya coba search di internet ternyata PUSIBA ini merupakan markaz bahasa cabang dari Al-Azhar markaz Syaikh Zaid,” terangnya.

Dengan belajar di PUSIBA, sambungnya, dirinya yakni bisa mengikuti perkuliahan di Univertas Al-Azhar.

“Setelah (belajar) di PUSIBA ini kita langsung kuliah dan bulan Januari 2020 langsung ujian. Saya ingin mengambil jurusan Dirasat Islamiyah,” bebernya.

Saef menceritakan selama belajar di PUSIBA. Menurutnya, komunikasi sehari-hari antar peserta sudah menggunakan bahasa Arab.

“Hanya di asrama kita masih campur-campur komunikasinya, kadang pakai bahasa Arab kadang bahasa Indonesia. Tapi kalau di kelas full bahasa Arab,” tukasnya.

“Setiap asrama, kita mempunyai ketua angkatan kemudian setiap kamar ada ketua kamarnya untuk memantau kebersihan dan lain-lain,” tambah Saef.

Peserta PUSIBA angkatan pertama, Finni dan Tasliah

Peserta PUSIBA lainnya, Finni Nuraifah dan Tasliah Alwafi memberikan pendapatnya tentang pembelajaran di lembaga pendidikan bahasa tersebut.

“Alhamdulillah kami mendapatkan ilmu yang banyak, apalagi belajar bahasa Arab dengan orang arab langsung yang sangat menguasai bahasa Arab. Kami merasa belajar di Indonesia tapi jiwa kami jiwa di Arab,” tutur Finni.

“Guru-gurunya mengajarkan dengan sepenuh hati. Kalau ada yang tidak mengerti didatangi satu-satu, kayak gitu,” timpal Tasliah.

Finni melanjutkan, keluarganya tidak pernah menjenguk dara asal Tasikmalaya tersebut lantaran jadwal belajar yang sangat padat, sehingga tidak ada waktu luang.

“Namun, kita tetap semangat karena teman-teman yang datang dari seluruh Indonesia sudah seperti keluarga. Apalagi duktur-duktur dari Mesir seperti membimbing anak sendiri,” ungkapnya.

Tasliah mengaku sangat puas dengan fasilitas dan pelayanan yang diberikan pihak PUSIBA bagi para peserta.

“Fasilitas cukup masya Allah, fasilitas kesehatan kalau ada yang sakit kita diantar musyrifah ada langsung. Makan tiga kali sehari itu masya Allah banget sangat cukup dengan lauk pauk yang bermacam-macam,” ujarnya.

“Bagusnya di PUSIBA ini kita belajar bukan sistem menghafal tapi dengan praktik di kelas, sistem muhadatsah,” kata Finni.

Tasliah menaruh harapan besar agar PUSIBA tetap bisa berlanjut selamanya untuk memfasilitasi para calon mahasiswa Universitas Al-Azhar.

“Semoga PUSIBA tidak berhenti sampai di sini. Banyak yang minat yang merasa membutuhkan belajar bahasa Arab di sini,” tutup wanita asal Aceh itu. (WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.