Home Kegiatan Alumni TGB: Kemandirian Ekonomi Pesantren, Bisa Dimulai dari 4 Hal ini!

TGB: Kemandirian Ekonomi Pesantren, Bisa Dimulai dari 4 Hal ini!

90
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Zoom Meeting–Wasathiyyah Center kembali menggelar Wasathiyyah Webinar Series (WWS) bersama Kadin Pesantren. Webinar serial kepesantrenan dengan tema “Pesantren dan Mengokohkan Wasathiyyat al-Islam di Bidang Ekonomi” di Zoom Meeting kemaren (Sabtu, 15/08) dihadiri oleh para pimpinan pondok pesantren alumni Al-Azhar, KH. Dr. Affifuddin Haritsah (Pesantren Annahdlah Sulawesi), KH. Anang Rikza Mashadi (Pesantren TAZAKKA Batang), KH. Sofyan Hadi (Pesantren Enterprenership AlMawaddah Kudus, Dr. KH.May Dedu, Lc.M.E.Sy. (Pesantren Santri Mandiri Kampung Qur’an Cirebon), dan KH. Wahid Sulaeman (Pondok Pesantren Mawaridussalam Medan).

Sebagai keynote speech, TGB Dr. M Zainul Majdi, MA. menyampaikan bahwa negara sudah mengakui peran pesantren baik bidang pendidikan, dakwah maupun pemberdayaan masyarakat. Oleh sebab itu, menurut TGB, pesantren harus berperan aktif, terlibat dan melibatkan diri, terutama dalam bidang pemberdayaan masyarakat.

“Dari mana kita memulai?” Tanya ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia.

Mantan gubernur NTB 2 periode (2008-2018) itu mengatakan ada 4 hal yang bisa dilakukan agar pesantren mandiri secara ekonomi. Pertama, harus memiliki visi. Visi ini bisa ditumbuhkan, berangkat dari memetakan potensi dan keinginan pondok pesantren di masa depan.

Kedua, mau belajar. Dunia ini terus berubah, terutama di dunia teknologi. Di sinilah pihak pesantren harus belajar teknologi tepat guna, sehingga bisa membantu aktivitas ekonomi pesantren.

“Hal ketiga, ini sangat penting, yaitu harus mau berkolaborasi,” tegas ketua Dewan Tanfizh Pengurus Besar Nahdhatul Wathon yang membawahi banyak pondok pesantren itu.

Kolaborasi ini sangat penting, kata TGB, sebab dari puluhan ribu pondon pesantren, ternyata pencapaiannya berbeda-beda. Ada yang sudah maju dan kuat secara ekonomi, namun ada juga masih tertinggal dan lemah secara ekonomi. Di sinilah pihak yang masih lemah secara ekonomi harus membuka diri untuk belajar, sedangkan pesantren yang sudah kuat mau berbagi ilmu dan pengalaman.

Terakhir, cara keempat adalah berani memulai segera. TGB mengutip pepatah Arab bahwa “Yang tidak memiliki sesuatu, tak akan bisa memberikannya” (faaqidusy syai-i laa yu’thiih), oleh sebab itu kemandirian ekonomi ini harus bermula dari internal pondok pesantren.

“Memulai saat ini, dari diri sendiri dan dari hal terkecil, kunci kesuksesan,” ujar doktor Tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu.

Para narasumber pun mengamini apa yang disampaikan oleh TGB, terutama tentang kolaborasi. Mereka sepakat, setelah Webinar ini harus ada follow up dan meminta Kadin Pesantren untuk mengkoordinir pertemuan. Bahkan, pimpinan Pesantren Modern Tazakka KH. Anang Rizka mengajak untuk bertemu minggu depan di Jawa Barat.

“Insya Allah minggu depan, saya akan ke Priangan Timur, mari kita kita bertemu dan berkolaborasi.”

Webinar dengan pembawa acara Luthfi Mubarok, MA., dibuka langsung oleh direktur Wasathiyyah Center Dr. Abas Mansur Tamanm, MA., dan host atau moderator oleh pimpinan Kadin Pesantren KH. Zainurrofieq, M.Hum. itu, mendapatkan apresiasi dari banyak peserta dan berharap ini adalah langkah menuju kebangkitan ekonomi pesantren. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − ten =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.