Home Kegiatan Alumni Wasathiyyah Center Gelar Webinar Membedah Pemikiran Badiuzzaman Said Nursi

Wasathiyyah Center Gelar Webinar Membedah Pemikiran Badiuzzaman Said Nursi

429
0
SHARE
Webinar Series Wasathiyyah Center

Wasathiyyah.com, Jakarta — Wasathiyyah Center Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia melanjutkan melanjutkan kegiatan webinar series. Kali ini seminar daring tersebut bertajuk “Membangun Peradaban Ikhlas dan Ukhuwah, Membaca Pemikiran Ulama Turki Imam Badiuzzaman Said Nursi”.

Acara yang diselenggarakan pada Kamis (16/7/2020) itu merupakan kerjasama antara Wasathiyyah Center, Ikatan Cendekiawan & Alumni Timur Tengah (ICATT) Indonesia, Paguyuban Alumni Al-Azhar Mesir Jawa Barat (PAAM Jabar) dan portal wasathiyyah.com.

Narasumber yang dihadirkan dalam webinar tersebut yakni Ketua Umum Dewan Tanfidziyah PBNW & Ketua OIAA Cabang Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, penerus sesepuh Majlis Tarbiyah & Sesepuh PAAM Jabar KH. Aa Benghan Syarifuddin, Ketua ICATT Indonesia Andi Aderus Banua dan Pembina Yayasan Nur Semesta Hasbi Sen.

Sastrawan dan Ketua Komisi Pembinaan Seni dan Budaya Islam MUI Pusat Habiburrahman El Shirazy yang memoderatori kegiatan tersebut membeberkan sosok Badiuzzaman Said Nursi. Ia memaparkan, Badiuzzaman Said Nursi merupakan salah seorang ulama terkemuka dari Turki.

“Sebagian ulama menyebut beliau seorang mujadddin, pembaharu termasuk yang menyebut imam Badiuzzaman Said Nursi pembaharu adalah Duktur Yusuf Qardawi dan termasuk ulama yang sangat agung dengan imam Badiuzzaman Said Nursi adalah Syekh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi. Dalam beberapa karyanya Al Buthi juga menulis tentang Syekh Badiuzzaman Said Nursi,” kata Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy saat memulai acara.

Menurut Kang Abik, Badiuzzaman Said Nursi hidup pada masa akhir pemerintahan khilafah Turki Utsmani. Nursi, lanjutnya, menyaksikan perang dunia pertama, menyaksikan bagaimana khilafah itu diruntuhkan dan menyaksikan bagaimana kaum sekuler itu merebut kekuasaan di Turki.

“Juga menyaksikan bagaimana umat Islam berjuang ketika menghadapi atheis di Turki, ketika itu azan dilarang, penggunaan simbol-simbol Islam dilarang itu disaksikan semua oleh Said Nursi. Hal itu ditulis semua oleh Ramadhan Al Buti,” ungkapnya.

Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu menuturkan, banyak kalangan nonmuslim yang mengkaji pemikiran Syekh Said Nursi. Sebabnya, ujar Kang Abik, karena pandangan ulama kharismatik itu tentang kemanusiaan itu luar biasa.

“Salah satu kalimat yang terkenal dari Syekh Badiuzzaman Said Nursi adalah ‘Yang layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang layak untuk dibenci adalah kebencian itu sendiri’,” terangnya. (WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.