Home Kegiatan Alumni Direktur PTKI Kemenag Beri Wejangan Calon Mahasiswa Al-Azhar Program PUSIBA

Direktur PTKI Kemenag Beri Wejangan Calon Mahasiswa Al-Azhar Program PUSIBA

213
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Bekasi — Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia menggelar acara bincang-bincang antara Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama dengan calon mahasiswa Al-Azhar Kairo Mesir program PUSIBA.

Selain ratusan calon mahasiswa Al-Azhar, hadir juga pada acara itu Direktur pada Direktorat PTKI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Arskal Salim.

Dalam kegiatan bertajuk ‘Wawasan Keilmuan dan Kebangsaan Bagi Calon Mahasiswa Universitas Al-Azhar Program PUSIBA’ itu, Arskal Salim menyampaikan sejumlah wejangan bagi para calon mahasiswa Al-Azhar.

“Al-Azhar sebagai sebuah tempat studi paling tua di dunia Islam, kita menganggap ini destinasi studi yang patut kita dorong agar banyak mahasiswa mahasiswi berangkat ke sana. Al-Azhar adalah lembaga pendidikan moderat yang sama dan sebangun dengan tradisi keislaman yang kita kembangkan di Indonesia,” kata Arskal mengawali paparannya di Kampus PUSIBA, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (13/11/2019) yang juga dihadiri Sekretaris Jenderal OIAA Muchlis Hanafi.

Ia menegaskan, menebarkan sikap wasathiyyatul Islam atau moderasi keberislaman sangat penting untuk mengantisipasi sikap-sikap ekstrim dan liberal.

“Kami mendukung saudara-saudara untuk belajar di Al-Azhar. Indonesia itu penduduknya beragam macam-macam suku, agama, budaya maka diperlukan sikap moderat untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Sika moderat tidak hanya untuk Islam, tapi semua agama. Kalau ada satu kelompok ekstrim maka ini bisa menimbulkan konflik. Al-Azhar adalah partner bangsa Indonesia untuk mewujudkan Islam yang ramah,” terangnya.

Alumnus University of Melbourne ini mengaku, dirinya sangat mengagumi sosok Muchlis Hanafi yang mempunyai pemikiran moderat dan bisa menjawab berbagai persoalan terkait ekstrimisme maupun liberalisme.

“Saya ingin sekali alumni Al-Azhar seperti Duktur Muchlis, keahlian beliau dalam tafsir sangat luas dan sellau tenang dalam menghadapi berbagai pandangan, dari yang paling ekstrim, longgar dan radikal,” sanjungnya.

Lebih lanjut Arskal mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan Universitas Al-Azhar merupakan benteng wasathiyyatul Islam di dunia.

“Sampai ada kelakar atau kekaguman pernyataan, di dunia Islam yang moderat itu satu Al-Azhar di Mesir, satu lagi ormas Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama,” ucap dia.

“Makanya nanti saat tiba di Kairo itu banyak sekali hal-hal yang akan saudara temui, baik itu teman-teman, senior-senior, pikiran-pikiran. Di Al-Azhar itu namanya pikiran dari radikal sampai liberal ada semua. Dari sejak zaman Muhammad Abduh sejak abad 19 sampai sekarang. Ini dituntut saudara-saudara sebagai duta-duta Indonesia Islam moderat bisa mengantisipasi itu semua,” tutup pria kelahiran Ujung Pandang ini.

Sementara itu, Muchlis Hanafi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktorat PTKI Kementerian Agama atas dukungan yang diberikan kepada PUSIBA maupun OIAA.

“Terima kasih kepada Direktur PTKI Kemenag atas segala bantuan dan perhatian,” ujarnya.

Duktur Muchlis menginformasikan, peserta PUSIBA mengikuti 5 dari 7 level di Jakarta hanya dalam wktu 4 bulan yakni 26 Juli-22 November.

“Di Kairo 1 level itu bisa sampai 1,5 bulan, di sini hanya 22 hari. Kita berharap tahun depan bisa kita mulai lebih awal,” kata dia.

Ia meyakini calon mahasiswa Al-Azhar Kairo program PUSIBA tidak akan terjebak pada sikap radikalisme dan liberalisme.

“Meski yang dipelajari di PUSIBA adalah kemahiran Bahasa Arab, tapi dalam kurikulumnya sudah memuat wasathiyyah Islam, ini sejalan dengan yang dikembangkan Al-Azhar, dan juga yang menjadi program Kemenag,” pungkasnya. (WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.