Home Kegiatan Alumni TGB Beberkan Maksud Ungkapan “NKRI Harga Mati”

TGB Beberkan Maksud Ungkapan “NKRI Harga Mati”

952
0
SHARE
Acara One Day Training With TGB di Bale Asri Pusdai, Bandung, Kamis (11/4/2019)

Wasathiyyah.com, Bandung — Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Mesir cabang Indonesia Muhammad Zainul Majdi atau biasa disapa Tuan Guru Bajang (TGB) menjelaskan maksud ungkapan ‘NKRI Harga Mati’ yang kerap disalahpahami sebagian masyarakat.

TGB menerangkan, NKRI harga mati itu bukan berarti meletakan negara sama dengan agama. Ungkapan tersebut, kata dia, merupakan pernyataan yang lahir dari kesadaran bahwa NKRI ini merupakan wadah untuk memfasilitasi kegiatan umat Islam.

“NKRI itu yang menjaga berislamnya kita, yang kalau tanpa wadah ini kita tidak bisa berislam dengan baik. Bapak ibu bisa punya air suci dan menyucikan, tapi kalau tidak dijaga dalam wadah yang bersih maka dia akan rusak. Wadah itu penting sepenting isinya, ketika wadah itu mulai retak, merembeslah isi-isi itu dan tercecer kemana-mana,” ujar TGB dalam acara ‘One Day Training With TGB Zainul Majdi’ di Bale Asri Pusdai, Bandung, Jawa Barat, Kamis (11/4/2019).

TGB mencontohkan negara yang ‘wadahnya’ sudah rusak, di antaranya Suriah. Menurutnya, akibat anak bangsanya yang tidak bisa menjaga wadah dengan baik lebih dari 5 juta warga Suriah mengungsi, ratusan ribu meninggal sia-sia, banyak keluarga tercerai-berai.

“Kenapa karena wadahnya yang namanya Syiria satu negara itu retak karena satu sama lain dari mereka sebagai anak bangsa tidak menjaga wadah itu dengan baik, merembes tercecer,” ungkapnya.

“Di Indonesia itu enak betul, kapan kita mau majelis taklim langsung jalan, kita mau tabligh akbar di mesjid bisa, mau tabligh akbar di tengah jalan bisa, tapi yang mengherankan masih ada orang mengatakan di Indonesia umat Islam dipersulit. Padahal ekspresi berislam di Indonesia terbuka lebar,” beber dia.

Untuk itu, tambah mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, sistem republik merupakan bentuk terbaik bagi Indonesia saat ini.

“Sejarah itu menyajikan pilihan-pilihan beragam, ada pilihan alkhilafah dengan pemimpinnya khalifah, ada imaroh dengan al-amir, ada juga saltonah dengan pemimpinnya sulton, ada mamlakah dengan pemimpinnya al-malik, ada juga praktik pemerintahan jumhuriyah dengan pemimpinnya ar-rois. Kita Indonesia memilih jumhuriyah republik dengan pemimpinnya seorang presiden,” imbuhnya.

Diketahui, acara ‘One Day Training With TGB Zainul Majdi’ diselenggarakan Wasathiyyah Center bekerja sama dengan Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung dengan tajuk ‘Mewujudkan Islam Wasathiyyah, Memperkokoh Ukhuwah Wathoniyah’. (WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.