Home Kegiatan Alumni Kabar Gembira, Pusat Bahasa Arab Al Azhar Cabang Indonesia Bakal Segera Dibuka

Kabar Gembira, Pusat Bahasa Arab Al Azhar Cabang Indonesia Bakal Segera Dibuka

7567
0
SHARE
Pertemuan seorang Direktur di OIAA Pusat yang mengurusi Pusat Bahasa (Markaz Sheikh Zayed Lita`limil Lughoh al Arabiah), Ahmad At Touny dengan perwakilan OIAA Cabang Indonesia di di Aula Gedung Konsuler KBRI Kairo, Nasr City, Kairo, Senin (4/2/2019)

Wasathiyyah.com, Kairo — Perjuangan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia untuk membuka Pusat Bahasa Arab Al-Azhar di Tanah Air menuai hasil positif. Hal itu didapat setelah salah seorang Direktur di OIAA Pusat yang mengurusi Pusat Bahasa (Markaz Sheikh Zayed Lita`limil Lughoh al Arabiah), Ahmad At Touny mengutarakan rencana tersebut.

Ahmad At Touny menyampaikannya dalam acara sosialisasi rencana pembukaan Markaz Sheikh Zayed Lita`limil Lughoh al Arabiah Cabang Indonesia di Aula Gedung Konsuler KBRI Kairo, Nasr City, Kairo, Senin (4/2/2019).

Dalam pertemuan bersama Perwakilan OIAA Indonesia, Act. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan para ketua organisasi kekeluargaan di Mesir tersebut, At Touny menyatakan bahwa Pusat Bahasa Cabang Indonesia ini nantinya akan persis seperti yang ada di Kairo.

“Kurikulum, metode dan materinya sama, bahkan guru-gurunyapun sebagian besar dari Mesir,” jelas At Touny.

Sementara perwakilan OIAA Indonesia, Muhammad Arifin, MA menegaskan, rencana pendirian Pusat Bahasa Cabang Indonesia ini telah digagas Grand Sheikh Al-Azhar bersama Menteri Agama dan Ketua OIAA sejak dua tahun silam.

“Hal itu setelah melihat besarnya minat calon mahasiswa asal Indonesia untuk belajar ke Universitas Al-Azhar dan kendala yang mereka hadapi ketika harus mengikuti kursus persiapan bahasa Arab di Mesir selama satu tahun sebelum masuk kuliah,” ungkapnya.

Muhammad Arifin menambahkan, rencana tersebut beberapa kali dikaji dan dirapatkan bersama pengurus OIAA di seluruh Indonesia dalam forum rapat koordinasi nasional (Rakornas). Puncaknya, kata dia, OIAA Pusat selaku penyelenggara Pusat Bahasa dengan OIAA Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) penyelenggaraan Pusat Bahasa Cabang Indonesia ini saat kunjungan Ketua dan Sekjen OIAA ke Kairo bulan Desember 2018 lalu.

“Kunjungan delegasi OIAA Indonesia kali ini menindaklanjuti teknis pelaksanaan kesepatan dalam MoU tersebut, dan direncanakan Pusat Bahasa di Indonesia akan dimulai bulan Mei 2019 ini,” ujar Muhammad Arifin yang juga Anggota Dewan Pakar, di Pusat Studi Al-Quran (PSQ) ini.

Romli Syarqowi, pengurus OIAA Indonesia yang turut hadir dalam pertemuan menyampaikan, pada 3 Februari 2019, pihaknya telah bertemu Pimpinan OIAA Pusat guna membahas detail teknis Pusat Bahasa ini, termasuk soal calon guru Mesir yang akan dikirim ke Indonesia, pencetakan dan pengiriman buku ajar dan buku pegangan guru, seleksi placement test hingga rekrutmen dan seleksi calon guru asal Indonesia alumni Al Azhar yang sekarang masih bermukim ke Mesir.

Berbeda dengan Pusat Bahasa Arab yang di Kairo, kata Romli, yang di Jakarta nanti memiliki sejumlah keunggulan.

“Di antaranya jika di Kairo mereka belajar selama 4 jam sehari, 5 hari seminggu, di Jakarta nanti bisa lebih diintensifkan, misalnya 6-8 jam sehari, 6 hari seminggu. Sehingga 1 level yang harusnya 1,5 bulan bisa disingkat menjadi 1 bulan saja. Keunggulan lainnya adalah sistim asrama dengan miliu yang diciptakan khusus untuk cepat menguasai bahasa Arab,” papar dia.

Berkaitan dengan lokasi penyelenggaraan Pusat Bahasa Cabang Indonesia, lanjut Romli, untuk periode pertama ini akan dipusatkan di Jakarta, meskipun teman-teman di beberapa provinsi mengharapkan ada juga yang di provinsi, namun pihaknya akam membuka terlebih dahulu di Jakart.

“OIAA Indonesia sedang menyiapkan gedung dan sarana prasarana lainnya untuk dapat dioperasikan mulai Mei 2019 yang akan datang,” jelasnya.

Guna menyiapkan guru yang akan mengajar di Pusat Bahasa, Muhammad Arifin menuturkan, selain guru-guru Mesir yang akan dikirim Pusat Bahasa ke Indonesia, OIAA Indoneia juga akan merekrut calon guru asal Indonesia.

“Mereka ini diharapkan adalah lulusan S1 Fakultas Bahasa Arab dan Fakultas-fakultas Ilmu keislaman (kulliyat el-Syariyyah) yang sekarang masih bermukim di Mesir dan siap untuk bergabung dengan OIAA di Pusat Bahasa Arab Cabang Indonesia. Adapun seleksi kemampuan dan kepatutan sebagai guru, nantinya dilakukan oleh tim dari Pusat Bahasa OIAA Pusat setelah mengikuti penataran yang juga diselenggarakan oleh OIAA Pusat,” katanya.

Ia pun menyinggung soal biaya penyelenggaran Markaz Lughah di Indonesia yang sepenuhnya ditanggung para peserta. Biaya itu meliputi akomodasi dan konsumsi (3x sehari) di asrama, royalti tution fee ke Pusat Bahasa di Kairo, honor guru Mesir dan lokal, managemen, buku ajar, pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana.

“Total biaya yang dikeluarkan calon mahasiswa untuk 4 level (mutawassith-mutaqaddim tsani) selama 6 bulan diperkirakan berjumlah 23 juta rupiah,” sebutnya.

Komponen biaya tersebut memang berbeda dengan yang di Mesir, kata Muhammad Arifin, lantaran penyelenggaraan di Indonesia nanti terpadu, artinya selain belajar bahasa Arab (Daurah Lughoh/DL) di kelas, pembinaan peningkatan bahasa ini juga ditambah dengan kegiatan kearah percepatan kemampuan bahasa Arab di asrama. Selain itu, sesuai pesan Wakil Ketua OIAA, Prof. Mohamad Abdel Fadhil Al Qusie, dalam pelaksanaan DL di Indonesia nanti juga perlu ada pengenalan ilmu-ilmu keislaman dasar, agar mereka mampu menggunakan hasil belajar bahasa Arab untuk memahami kitab-kita keislaman yang paling dasar.

Perbedaan itu juga terkait dengan biaya honor guru dari Mesir yang harus sesuai dengan standar guru Azhar di luar negeri, pemukiman guru asal Mesir, standar laboratorium bahasa yang tentu juga harus lebih baik dan keperluan sarana lainnya yang ditetapkan oleh OIAA Pusat.

Dengan mengikuti Markaz Lughah di Jakarta, calon mahasiswa tidak perlu menunggu satu tahun di Cairo yang penuh dengan berbagai persoalan untuk bisa masuk kuliah.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden dan Sekjen PPMI menyambut baik rencana pendirian Pusat Bahasa Cabang Indonesia ini, karena dengan pelaksanaan kelas persiapan bahaa Arab di Indonesia akan banyak menyelesaikan persoalan calon mahasiswa di Mesir yang berkaitan dengan keamanan, izin tinggal, disorientasi dan masalah lain yang bisa merugikan calon mahasiswa.

Sekjen PPMI juga menyinggung jumlah calon mahasiswa yang begitu besar, untuk saat ini perlu dipertimbangkan kembali, setidaknya menyesuaikan dengan perkembangan kondisi di Mesir yang menyangkut pemukiman, layanan administrasi keimigrasian dan lain-lain, juga kesiapan calon mahasiswa secara bahasa, keilmuan, mental dan persiapan lainnya.(WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.