Home Kegiatan Alumni Peringati HUT Al-Azhar ke-1080, OIAA Indonesia Gelar Webinar tentang Covid-19

Peringati HUT Al-Azhar ke-1080, OIAA Indonesia Gelar Webinar tentang Covid-19

416
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Zoom—Dalam rangka memperingati Hari Al-Azhar ke-1.080, tadi malam (Sabtu, 2/5) Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia menyelenggarakan Webinar di aplikasi Zoom dengan tema “Al-Azhar dan Covid: Pandangan Keagamaan, Komitmen Keumatan, dan Solidaritas Kemanusiaan.

Tampak hadir dalam acara tersebut, M. Quraish Shihab, Abdurrahman M. Fachir, Lukman Hakim Saifuddin, TGB M. Zainul Majdi, Habiburrahman El-Shirazy, utusan Al-Azhar Syaikh Mohamed El Husseini, dubes Mesir Ashraf Sultan serta para alumni Al-Azhar yang berdomisili di berbagai negara, seperti Jerman, Malaysia, dan Mesir.

Seminar ini diawali dengan doa dan sambutan dari ketua OIAA cabang Indonesia TGB M. Zainul Majdi. Dalam sambutannya, TGB mengungkapkan rasa syukur dan menegaskan bahwa Al-Azhar adalah benteng terkuat bagi Islam.

“Kita bersyukur malam hari ini, bisa memperingati 1080 tahun almamater kita. Almamater yang menjadi benteng terkuat bagi Islam,” ungkap TGB.

Kemudian moderator Muhammad Arifin memberikan waktu kepada dubes Mesir Ashraf Sultan untuk menyampaikan sambutan. Menurutnya, Indonesia dan Mesir memiliki hubungan sangat erat, sehingga dalam beberapa tahun ini Grand Syaikh Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ath Thayeb  berkunjung ke Indonesia dua kali.

“Hubungan antara Indonesia dan Mesir sudah sedemikian erat salah satunya ditandai dengan kunjungan Grand Syekh sudah dua kali dalam beberapa tahun belakangan ini,” ujar Ashraf.

Hal senada diungkapkan oleh utusan Al-Azhar di Indonesia Syaikh Mohamed El Husseini bahwa kedekatan Indonesia dan Mesir ditandai oleh berdirinya Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) sebagai perwakilan dari Al-Azhar di Indonesia.

Syaikh El Hussaini juga menceritakan bahwa pihak Al-Azhar telah membuka dompet donasi untuk membantu para terdampak Covid-19.  Ini membuktikan bahwa Al-Azhar, bukan hanya sekedar lembaga keagaman dan lembaga pendidikan, melainkan juga sebagai lembaga sosial.

“Alhamdulillah, Al-Azhar sudah menggalang dana untuk membantu para terdampak wabah Covid-19. Ini membuktikan bahwa Al-Azhar adalah Lembaga social yang bergerak secara nyata di tengah-tengah masyarakat,” kata Syaikh El Hussaini.

Sebelum menginjak acara inti, Prof. Dr. Amany Lubis, menyampaikan ucapan terima kasih atas nama alumni Al-Azhar. Beliau mengungkapkan bahwa Al-Azhar sangat berjasa kepada alumni sehingga bisa berperan di negaranya masing-masing.

“Saya atas nama alumni Al-Azhar mengucapkan terima kasih kepada Grand Syaikh Ahmad Muhammad Ath Thayeb atas semua jasanya selama ini,” kata Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Dalam undangan panitia, M. Quraish Shihab dijadwalkan untuk menjadi narasumber pertama. Namun doctor alumnus Al-Azhar tersebut memberikan kesempatan kepada Lukman Hakim Saifuddin dan AM. Fachir untuk lebih banyak berbagi

Setelah mengucapkan selamat HUT Al-Azhar ke-1080, menteri Agama RI 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin, menjelaskan 4 hal. Pertama, semangat beragama tinggi, namun tidak diimbangi ilmu. Ini melahirkan banyak persoalan. Dalam kasus wabah Covid-19 ini, banyak umat Islam semangat beribadah, tapi melupakan keselamatan jiwa. Oleh sebab itu, menurut Lukman, peran alumni Al-Azhar untuk membangun keilmuan ini sangat dibutuhkan.

Tantangan kedua alumni Al-Azhar, kata Lukman, adalah bagaimana caranya alumni Al-Azhar memberikan pemahaman maqashid syari’ah kepada masyarakat. Sehingga dalam beragama tidak hanya dari kacamata fiqih saja, melainkan melihat dari tujuan dari bersyariat.

Ketiga, perlu ada keseimbangan antara fikih dan tasawuf. Lukman mengatakan bahwa selama ini Al-Azhar membawa manhaj wasathiyyah, atau moderasi Islam, menjaga dua disimplin ilmu tersebut. Di sinilah peran alumni Azhar, untuk mengokohkan wasathiyyat al-Islam di tengah-tengah masyarakat.

Dan terakhir, keempat, Lukman titip pesan kepada alumni Al-Azhar, melalui OIAA Indonesia, agar tetap menjaga ciri khas Al-Azhar, yaitu manhaj wasathiyyah tersebut.

“Saya titip pesan kepada alumni Al-Azhar, untuk menjaga manhaj wasathiyyah. Sebagaimana dikatakan oleh ketua OIAA bahwa Al-Azhar merupakan benteng Islam, maka sekali lagi, peran alumni sangat ditunggu oleh banyak pihak,” kata alumnus Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo itu.

 

Narasumber kedua, AM. Fachir menyambung apa yang disampaikan oleh Lukman Hakim. Beliau bercerita, saat menjabat Dubes di Mesir, beliau sering bertemu dengan Grand Syaikh Al-Azhar waktu itu, Syaikh Muhammad Sayyid Tantowi.

Dalam setiap kesempatan, kata AM. Fachir, Grand Syaikh selalu menitipkan wasathiyyah. Beliau merasa khawatir terhadap pemikiran dan sikap ekstrimis dan radikalisme yang berkembang di kalangan anak muda pada waktu itu.

Berbicara tentang misi kemanusiaan Al-Azhar, menurut AM. Fachir, tidak ada yang bisa mengalahkan Al-Azhar. Waktu beliau bertugas di Mesir, sempat menghitung jumlah beasiswa yang dikeluarkan oleh Al-Azhar untuk mahasiswa, sebesar 36 milyar pertahun.

Dalam bidang perdamaian, Al-Azhar juga menjadi tauladan. AM. Fachir bercerita, setiap ada pengeboman gereja di Mesir, Grand Syaikh selalu datang. Antara pimpinan tertinggi umat Islam dan Kristiani di Mesir itu, selalu membangun komunikasi dan menjaga perdamaian.

Dan Ketika wabah Covid-19 merebak, Al-Azhar hadir dengan panduan berisi enam fatwa yang sangat relevan di semua negara, termasuk di Indonesia. AM. Fachir juga menceritakan baliho di bandara Chicago yang mengutip panduan Al-Azhar.

Fachir menegaskan bahwa alumni Al-Azhar menjadi vioneer, unjung tombak untuk melaksanakan fatwa Al-Azhar di lingkungan masing-masing.

“Kita harus paling terdepan melaksanakan fatwa Al-Azhar. Kita tidak perlu memikirkan orang lain. Kita mulai dari diri kita, kita menjadi vioneer. Apabila semua alumni Al-Azhar melaksanakan ini, maka umat akan berubah, sebab saya yakin, alumni Al-Azhar adalah panutan di lingkungannya masing-masing,” pesan AM. Fachir kepada partisipan Zoom Meeting yang hamper 500 orang.

Di penghujung acara, setelah moderator memberikan kesempatan kepada Sekjend OIAA cabang Indonesia Muchlis M. Hanafi menyampaikan sambutan dan dilanjutkan dengan tanya-jawab, webinar semakin meriah ketika Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy) membaca puisi “Musim Panas di Cairo”. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.