Home Kegiatan Alumni Mantan Aktivis PPMI, Gagas PUSDATIN dan Think Tank Azhary

Mantan Aktivis PPMI, Gagas PUSDATIN dan Think Tank Azhary

195
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Zoom Meeting–Mantan Aktivis Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, hari ini (6/1) berkumpul secara online dan melahirkan gagasan untuk mendirikan Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) dan lembaga Think Tank Azhary. Acara silaturahim dimulai pukul 13.00 – 15.00 WIB dan bertemakan “Peta Pengabdian Alumni Mesir” itu, diikuti oleh para mantan aktivis lintas angkatan mulai dari angkatan 90-an hingga masih menjabat pengurus PPMI saat ini.

Hasminto mengatakan bahwa secara individu para alumni Universitas Al-Azhar Mesir sudah banyak berkiprah dan memberikan kontribusi terhadap umat dan bangsa Indonesia. Namun secara organisasi, menurutnya belum maksimal dan optimal dalam menyelesaikan masalah-masalah keumatan dan kebangsaan. Padahal dengan berdirinya Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, seharusnya potensi dan pengabdian para alumni lebih mudah untuk dipetakan.

“Keberadaan OIAA dan PPMI, sebenarnya lebih memudahkan kita memetakan potensi dan pengabdian alumni,” kata Hasminto yang memoderatori acara silaturahim.

Mantan Ketua PPMI 1996-1997 Hamzah Hasan menanggapi masalah Peta Pengabdian dan Peta Potensi alumni tersebut, menurutnya hal itu sudah dibahas dan dirumuskan sejak berdirinya PPMI, zaman dia bersama Jajat Munajat dan Didik Hariri. Hanya saja memang perlu direaktualisasikan, sehingga para alumni Azhar bisa bersinergi dalam mengokohkan wasathiyyaat al-Islam.

“Sebenarnya, masalah peta pontesi dan pengambdian alumni ini, sudah kita bahas dulu, ketika HPMI berubah menjadi PPMI,” kata Hamzah setelah memaparkan sejarah singkat organisasi para penuntut ilmu asal Indonesia di Mesir.

Sebelum memberikan waktu kepada para mantan aktivis PPMI, moderator mempersilahkan kepada Presiden PPMI periode 2019-2020 dan periode 2020-21, Arief Mughni dan Farhan Azis untuk menyampaikan kondisi terkini PPMI dan situasi-kondisi mahasiswa Indonesia Mesir.

Arief Mughni melaporkan jumlah anggota PPMI saat ini ada sekitar 8600-an. Dia juga menceritakan bahwa PPMI telah membangun komunikasi dengan berbagai pihak, OIAA cabang Indonesia, DMI, BPKH dan lembaga lainnya di Indonesia. Farhan Azis menambahkan bahwa PPMI semakin hari semakin maju, sudah memiliki Badan Usaha, dan fokus menghadapi era The New Normal.

Selanjutnya Zainurrofiq mantan ketua PPMI 1998-1999 menegaskan bahwa sudah saat baik OIAA cabang Indonesia, PPMI, maupun seluruh alumni untuk konsentrasi pada pembinaan calon mahasiswa yang akan berangkat ke Mesir, saat mahasiswa sedang menuntut ilmu di Mesir, dan ketika pulang ke Indonesia. Di sinilah, perlu ada komunikasi berbagai pihak, sehingga ketika sudah menjadi alumni, banyak hal yang bisa dikerjasamakan dan dikembangkan, misalnya bidang wisata, selama ini hanya pemandu Thawaf dan haji, padahal potensi untuk wilayah ini sangat besar.

Hal yang senada disampaikan oleh Edy Fr Susanto. Mantan aktivis PPMI tahun 2000 ini menguatkan kerjasama di bidang ekonomi. Sebagai presidium Azhary Travel Partners (ATP) berusaha menyinergikan para alumni yang sejak di Cairo sudah bergerak di bidang travel haji dan umrah. Kebersamaan dalam bisnis ini sebagai bagian dari untuk menguatkan moderasi Islam.

Sedangkan M. Irawan Taqwa mengusulkan, selain ATP dibidang ekonomi, juga dipikirkan secara serius di bidang politik. Dia berharap, setelah wabah Covid-19 ini, para alumni Azhar sebaiknya kopi darat, untuk membicarakan hal-hal strategis.

Aktivis PPMI 1997 Muhyiddin Mas Ridha bersuara bahwa perlu ada Biro Data Statistika, sehingga terpetakan potensi alumni, sehingga dapat menyambut Indonesia Emas Tahun 2045. Hal ini diamini oleh Nur Fuad Shofiyullah. Bahkan mantan Presiden PPMI 2006-2007 itu mengatakan perlu ada lembaga Thinktank di bawah OIAA cabang Indonesia. Mengenai data alumni itu, aktivis PPMI 1997 Willy Syafrudin mengusulkan ada Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN).

Pembicara berikutnya, baik itu Syamsu Alam (Sekjen PPMI 1998-1999), Usep Abdul Aziz (Aktivis PPMI 1999), Falahuddin Qudsi (Presiden PPMI 2010-2011) maupun yang lainnya, menyepakati pentingnya PUSDATIN dan lembaga Think Tank alumni Al-Azhar Mesir. Bahkan Hamzah Hasan dan partisipan Zoom Meeting menyepakati Hasminto sebagai koordinator lembaga pusat data dan wadah pemikir Alumni PPMI Mesir, bahkan kalau bisa di bawah OIAA cabang Indonesia.

“Semoga gagasan kita ini, dapat kita realisasikan, oleh sebab itu perlu pertemuan-pertemuan berikutnya,” Kata Hasminto mengakhiri pertemuan virtual itu. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.