Home Jaringan Wasathiyyah Mengenal Sosok KH Ishak Farid, Ini Komentar Para Tokoh

Mengenal Sosok KH Ishak Farid, Ini Komentar Para Tokoh

1287
0
SHARE
(Alm) KH Ishak Farid

Biografi Singkat
Nama : KH Ishak Farid
Istri : Hj Pipin Sofiah,

Dari Pasangan KH Ishak farid dan Mimih ini memiliki 15 anak. Yang hidup sampai hidup dewasa adalah Ibu Didah Saidah, Ibu Elis, Asep Ahmad Sujai, Yoyoh Joharoh, Ahmad Suafii, Dani khoeruddin, Agus Salim Ridwan, Helmy Mutahhar, Yudi Baiquni dan Neng Rina.

KH Ishak Farid mulai memimpin Pesantren Cintawana tahun 1957 sepulangnya dari Jogja (di UGM dan UII) sampai 1987 M.
Tidak gampang mendapati sosok kiai pada fatroh tahun 70-an hingga 80-an yang sangat mumpuni dalam seluruh bidang agama yang dikaji mulai dari ilmu nahwu, sorof, balaghoh, Quran dan tafsirnya serta hadis dan ilmu hadisnya serta pembacaan pada literature-literatur moderen berikut penguasaan bahasa lebih dari hanya bahasa lokal dan bahasa Indonesia, serta memahami perkembangan analisa pemikiran keummatan moderen yang terkadang sangat berbau kebarat-baratan.

Rupanya Allah Ta’ala memberikan karunia luar biasa pada seorang Ishak Farid. Daya hafal dan ingatannya di atas rata-rata bocah sebayanya. Bahkan dalam waktu relatif singkat, beliau mampu menghabiskan kitab-kitab berjilid tebal. Jika ditanyakan tentang isi dari kitab tersebut, Ishak kecil langsung hafal beserta keterangan bab dan halamannya sampai detail. Karenanya, dalam usia belasan tahun, beliau telah menguasai berbagai bab keilmuan. Bahkan sekembalinya ke Cintawana, Kiai Toha seringkali meminta buah hatinya itu untuk menggantikan posisinya mengajar di pesantren.

Selain daya ingat yang terbilang istimewa, Kiai Ishak memang dikenal sangat mencintai ilmu. Hari-harinya disibukkan dengan membaca, mengkaji suatu ilmu bab demi bab. Kecintaannya terhadap ilmu, tak belaka berhenti pada ilmu-ilmu agama.
Tercatat, tahun 1950, beliau sempat menimba ilmu di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyajarta serta fakultas Hukum di Universitas Islam Indonesia (UII). Beliau pun menguasai beberapa bahasa asing, diantaranya; Inggris, Perancis dan Jerman. Beberapa tahun bersentuhan dengan ilmu-ilmu umum, tak membuat beliau larut dalam keduniaan. Tahun 1957, Kiai Ishak pulang. Meneruskan jejak ayahnya, memimpin Pondok Pesantren Cintawana.

Adalah KH Ishak Farid sosok ulama dan Kiai Terlahir dan dibesarkan di lingkungan santri membentuk karakter seorang yang cinta pada agamanya. Tak begitu heran, lantaran nasab keluarganya pun berasal dari ulama penyebar agama Islam abad ke-17 di tatar Priangan, Syaikh Abdul Muhyi, Pamijahan. Saat usianya masih setinggi ilalang, Ishak sudah dibawa olah ayahnya tinggal di kota Mekah. Tak banyak riwayat yang menceritakan tentang kehidupan beliau di sana. Sebagai seorang ulama, tentu saja sang ayah menginginkan Ishak kecil menjadi seseorang yang bisa meneruskan jejaknya, kelak. Kiyai Toha pun menjelma menjadi guru utama bagi buah hatinya sendiri. Meski begitu, pernah, ayahnya itu mengirim Kiai Ishak ke beberapa pesantren, antara lain: Pesantren Ajengan Kudang alias KH. Suja’i, serta Pesantren pimpinan KH. Ahmad Sanusi di Gunung Puyuh, Sukabumi. Di sana beliau hanya belajar beberapa bulan saja. Entah kenapa, Kiai Ishak selalu merindukan kampung halamannya. Beliau selalu meminta ayahnya agar mengizinkan pulang ke Cintawana. Kiai Toha pun mengizinkan pulang, tetapi dengan satu syarat; hafal Al-Quran beserta makna dan tafsirnya! Saat itu Ishak kecil baru berusia belasan tahun. Tak disangka, beliau mampu melaksanakan syarat tersebut, hingga akhirnya diperbolehkan pulang.

Ibunda KH Ishak Farid bernama Ummi St Hafsoh yang terkenal sangat spesifik dalam disiplin ilmu Al-Quran. Terkadang hanya mengajari surat al-Fatihah bisa dilaluinya dengan waktu panjang sampai 3 bulanan, saking sangat ketatnya dalam mempraktekan semua makharijul huruf dan ilmu tajwid pada peserta didik.
Hal yang menarik dari sosok Ummi adalah selalu mencarikan Istri bagi ayahanda KH Ishak Farid yaitu KH M Toha ketika mau menikah lagi pada istri yang 3 dan ke-4nya.

Pada tahun 1960-an Mimih adalah aktifis putri di organisasi keislaman GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) di kota Tasikmalaya, dan KH Ishak Farid sudah menjadi pimpinan Pesantren Cintawana dan suka mengajar dan menjadi kiai pengajar favorit di kalangan jamaah. Bertemulah Mimih dengan KH Ishak Farid dan Allah mentakdirkan masuk dalam proses pernikahan.

Awal pertemuannya adalah ketika pengajian di pengajian Gunung Puyuh wilayah Tasikmalaya. Masa awal Kyai Ishak memimpin pesantren, dihadapkan pada satu persoalan. Ketika itu memang dalam skala nasional adalah tahun-tahun genting. Konflik Pemerintah- kelompok DI/TII (Darul Islam – Tentara Islam Indonesia) kian meluas, mengancam para ulama yang dianggap tidak pro-terhadap gerakan resistensi mereka (DI/TII_red), termasuk Kiai Ishak.

Kebiasaan kondisi mencekam ketika suasana pemberontakan Gerombolan , KH Ishak Farid malah selalu menikmatinya menyendiri dengan membawa “sakoras atawa dua koras” kitab kuning dan dibawanya menyendiri dalam penyendirian ketika mengungsi menghindar dari kedatangan gorombolan.

Untuk merespon situasi ketegangan di Tasikmalaya, tepatnya pada 18 Maret 1957, Kiai Ishak bersama sejumlah tokoh ulama Priangan Timur lainnya membentuk sebuah lembaga bernama BMAU (Badan Musyawarah Antar Ulama). Lembaga ini sering disebut sebagai cikal bakal berdirinya Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jawa Barat.

Kiai Ishak menjadi tokoh ulama yang berpengaruh di Priangan Timur. Beliau kesohor akan keluasan ilmunya yang merupakan akibat dari karakternya yang gemar membaca (budaya literasi). Pernah suatu ketika, di Tasikmalaya terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait persoalan furu’iyah. Di sana, beliau tampil sebagai penengah. Beliau selalu menjadi rujukan dari ulama-ulama berbeda mazhab, tetapi alhamdulillah pendapat beliau selalu diterima, hingga kondisi menjadi kondusif.
Disegani dan dihormati oleh orang lain, tak membuat Kiai Ishak jumawa. Ketinggian ilmunya berbanding lurus dengan kerendahan hatinya. Satu waktu saat menjadi pengurus MUI di tahun 1970-an, Kiai Ishak mendapat fasilitas mobil dinas. Tapi, ia menolak. Keluhuran ilmu dan akhlaknya itu membuat sosok ulama yang satu ini begitu dicintai umat.

Keuletannya dalam membaca semua literature terutama kitab-kitab kuning yang berjilid-jilid, bahkan KH Ishak senantiasa hanya menempelkan tangannya saja di deretan kitab tersebut dan selalu pas dan tahu ketika ingin mengambil bahasan satu masalah yang sedang didiskusikannya.

Saking kuatnya daya baca KH Ishak farid bahkan sering hanya menyiapkan 2 jam saja untuk istirahat tidur, dan selain itu beliau gunakan waktu untuk melakukan muthala’ah kitab.
Selain hobi baca, beliau juga senang sekali tamasya ke daerah pantai/laut.

Mimih yang membersamainya bertahun-tahun, belum pernah sekalipun dimarahinya, kepada anak-anak juga selalu menyayanginya dengan penuh kehangatan, beliau seorang ayah yang penyayang dan tidak pemarah.

Haji Dudung dan Hj. Uyi yang selalu membantu KH Ishak Farid dalam menyediakan buku-bukunya. Biasanya mengarahkan pembelian bukunya ke toko ABC di Garut.

Suatu hari Mimih sedang mengajar didatangi murid KH Ishak Farid dan menawarkannya untuk agar siap-siap berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Rasa haru dan gembira yang dirasa tak terasa mengurai airmata, dan tepat bulan Ramadlan bersiap menuju Makah, dan berada di sana lebih dari 4 bulan lamanya.

Kebetulan sesampainya di kota Makkah disambut saudara KH Ishak Farid yang sudah lama muqim di Makah yaitu keluarga H. Sodikin dan Ua Lela di daerah Birbalilah.

Menjadi narasumber atau penanyaan bagi semua murid dan juga tokoh-tokoh agama di Tasikmalaya dan Jawa Barat. KH Ishak Farid menjadikan semua pergerakan keumatan yang klasik maupun moderat menjadi partner atau kawan dalam berdiskusi dan bahkan selalu beliau memberikan jalan arahan dari problematika yang ada dan tengah ramai dibahas.

Benturan ormas seperti NU dan Muhammadiah kemudian PERSIS dan lain sebagainya, tidak menyulutkan untuk berpecah, bahkan sebaliknya. Termasuk dengan komunitas Komunis pun beliau terkenal sangat dekat dan suka berdiskusi, bahkan dengan pejabat sekaliber bupati atau dandim dan polisi. Beliau sosok yang sangat wasathy (moderat).

Tahun 1987, Tasikmalaya berurai air mata. Sosok ulama kharismatik itu berpulang ke haribaan-Nya. Puluhan ribu massa dari berbagai lapisan masyarakat memadati jalan menuju Pesantren Cintawana, terlebih di dalam komplek Pesantren. Mereka ingin mengantar kepergian Sang Ulama yang telah begitu
Kepintaran yang dimiliki KH Ishak Farid sangat jelas terjabarkan dari gaya dan spirit beliau dalam kuatnya budaya literasi yang ada dalam kehidupan kesehariannya.

Beberapa tokoh dan muridnya yang pernah menyatakan hal tentang beliau diantaranya:

KH. Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah) mengatakan:
“Saya belajar wasathiyyah dari KH. Ishak Farid, sekaligus menginspirasi budaya literasi saya.”

KH. Irvan Hilmi (Darussalam Ciamis):
“KH. Ishak Farid adalah guru yang telah menginspirasi saya untuk membiasakan membaca minimal 50 lembar perhari.”

KH. Aep Saefullah (Dewan Kiai Cintawana):
“Tidak pernah saya melihat KH. Ishak Farid keluar rumah dan beraktivitas apapun kecuali di tangannya selalu ada lembaran kitab. KH. Ishak sering mengatakan bahwasanya beliau tidak merasa pintar , tapi kalo merasa suka membaca, itu betul.”

KH. E. Zaenal Muttaqin (Ketua Alumni Pesantren Cintawana):
“KH. Ishak Farid adalah sosok yang ‘tabakhur’ ilmunya, kebiasaan muthola’ah’ nya di atas rata-rata.”

Ulama NU dari Garut KH E Z Muttaqin, “Almarhum Kiai Cintawanamah mengayomi semua golongan dan gurat marojena jelas dan masuk akal”. (WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.