Home Jaringan Wasathiyyah Upaya Membangun Kemandirian Ekonomi, Kadin Pesantren Adakan Webinar Bisnis

Upaya Membangun Kemandirian Ekonomi, Kadin Pesantren Adakan Webinar Bisnis

457
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Zoom Meeting—Kamar Dagang dan Inkubasi (Kadin) Pesantren bekerjasama dengan Wasathiyyah Center menggelar acara Webinar Bisnis dengan tema “Pesantren dan Kemandirian Ekonomi”. Acara di Zoom Meeting hari ini (Sabtu, 11/7) yang dihadiri hampir 100 partisipan dari berbagai kalangan, dengan host Zainurrofieq, M.Hum., Keynote speaker TGB Dr. M. Zainul Majdi, MA, dan narasumber H. Oleh Soleh, SH., Ahmad Tazakka Bonanza, Muhammad Hasan Gaido, H. Hasminto Yusuf, dan Syamsu Alam Darwis.

Sebagai pembicara utama, TGB M. Zainul Majdi, menegaskan bahwa pesantren menjadi titik pemberangkatan dalam membangun umat dan bangsa. Saat pesantren mampu memajukan umat Islam, maka dalam waktu yang sama telah menjadikan bangsa yang maju. Di sinilah pentingnya kemandirian ekonomi di pesantren.

“Membangun kemandirian di pesantren sangat penting. Sebab, apabila hal ini sukses, maka telah membangun umat dan bangsa secara bersamaan,” ujar ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia itu.

Kemudian host sekaligus inisiator Kadin Pesantren Zainurrofieq mempersilahkan H. Oleh Soleh, SH., untuk mempresentasikan materinya. Wakil ketua DPRD Jawa Barat ini selain memaparkan tentang Rancangan Peraturan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tentang Penyelenggaraan Pesantren, Oleh Soleh juga membahas sejarah pesantren. Menurutnya, Indonesia bukan hanya terkenal dengan SDA dan kemajmukannya, juga masyhur dengan jutaan pesantren. Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa pesantren terkenal dengan Kemandiriannya, kurikulum sendiri. Di akhir presentasinya, Oleh Soleh meminta masukan agar kemandirian pesantren tertuang dalam Peratutan Pemerintah Jawa Barat.

“Hal yang penting, saya hadir di sini, ingin mendengar dan mencatat, masukan apa saja yang perlu kami masukan dalam raperda,” kata politisi asal Tasikmalaya itu.

Narasumber kedua, Ketua Serikat Ekonomi Pesantren Ahmad Tazakka Bonanza. Ada tiga hal yang Aka Bonanza sampaikan: pertama, tentang 4 potensi pesantren, yaitu kiai, santri, alumni dan lahan wakaf; kedua, untuk mencapai kemandirian selain melalui edukasi mindset, edukasi teknis, serta penguatan skill keuangan dan managemen, juga menjawab masalah yang dihadapi pesantren yang itu kekurangan akse informasi dan modal; dan ketiga, untuk mencapai kemandirian ekonomi adalah pendampingan terhadap pesantren. Yang paling penting adalah berjamaah dalam ekonomi.

“Point terpentingnya adalah berjama’ah. Sebab dengan berjamaah, semua kendala, mulai dari kendala permodalan, kendala produksi, sampai kendala pemasaran, akan terselesaikan. Di sinilah kita perlu bersinergi dan berkolaborasi dalam membangun kemandirian ekonomi di pesantren,” kata pengurus Pesantren Idrisiyah Tasikmalaya itu.

Selanjutnya Presiden Indonesia-Saudi Arabia Business Council DPP IAEI/Praktisi Bisnis Syariah Muhammad Hasan Gaido mengatakan bahwa pesantren harus diberikan ruang dan peluang besar untuk mendidik anak bangsa dan juga untuk membangun ekonomi perdagangannya. Dia mendukung penuh keberadaan Kadin Pesantren, bahkan memberikan peluang untuk bekerjasama.

“Saya tantang Kadin Pesantren. Mohon siapkan program pertaniannya, saya ada lahan di Bandung Soreang sekitar 1 sampai 2 hektar bisa kerja sama bagi hasil. Kalau di Banten mau 100 hektar, saya siapkan apa programnya,” kata Muhammad Hasan Gaido.

Tak kalah menariknya, materi dari narasumber keempat, Syamsu Alam Darwis. Staff Atase Perdagangan KBRI Cairo ini berbagi tentang Strategi Pasar Produk Pangan Pesantren ke Timur Tengah dan Afrika. Syamsu menegaskan bahwa posisi pesantren di Era Normal Baru harus menjadi pemain. Beliau juga mengharapkan pesantren dapat menjadi otomotif industri pangan, industri farmasi-herbal, industri kreatif dan produksi lainnya yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Narasumber terakhir Hasminto Yusuf. Salah satu tim Kadin Pesantren ini memaparkan bahwa Kadin Pesantren berbeda dengan Kamar Dagang dan Industri. Kadin Pesantren merupakan pendampingan terhadap pesantren.

“Istilah kadin dalam konteks pesantren bukan seperti kadin bersifat kuasi dari pemerintah, melainkan hanya miniatur untuk laboratarium kewirausahaan, training house dan inkubasi bisnis di lingkungan pesantren. Lebih kepada pendampingan dan advokasi terhadap pesantren di bidang ekonomi,” kata peneliti INSED itu.

Dalam closing statement TGB M. Zainul Majdi menyarankan agar antara investasi dan bisnis di pesantren harus disinergikan. Hal itu untuk dapat mencukupkan ketersediaan pangan santri dan pesantren, dan juga berkontribusi dalam mensuplai bagi kehidupan warga masyarakat, dan untuk memenuhi pasar eksport dan pasar domestik.

Webinar hamper 3 jam itu, ditutup dengan sambutan dan do’a oleh Direktur Wasathiyyah Center Dr. Abas Mansur Taman, MA. Dalam sambutannnya, Abas Mansur Taman mengucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat dan berharap webinar ini menghasilkan kemandirian pesantren.

“Terima kasih kepada semuanya. Semoga acara ini menjadi tangga bagi kita untuk menuju kemandirian di pesantren,” pungkas tim penggagas Pesantren Internasional atau International Islamic Boarding School (IIBS) Kamojang itu. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.