Home Jaringan Wasathiyyah OIAA Indonesia dan MDN Malaysia, Bahas Persoalan Umat-Bangsa

OIAA Indonesia dan MDN Malaysia, Bahas Persoalan Umat-Bangsa

391
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta – Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia Dr. TGB M. Zainul Majdi beserta pengurus, hari ini (Selasa, 11/2) di kantor OIAA Indonesia, menerima kunjungan kehormatan (cortesy visit) rombongan Majlis Dakwah Negara (MDN) Malaysia yang dipimpin oleh Prof. Emeritus Dato’ Dr. Mahmood Zuhdi Ab Majid.

Dua organisasi non-pemerintah ini, selain untuk silaturahim juga untuk mendiskusikan beberapa persoalan keumatan dan kebangsaan yang dihadapi oleh kedua bangsa bertetangga, sekaligus gagasan pemberdayaan umat di kedua negara Malaysia dan Indonesia.

Dalam sambutan selamat datangnya kepada delegasi MDN Malaysia, Ketua OIAA Dr. TGB M. Zainul Majdi menyampaikan dua hal pokok yang selalu dipesankan oleh Pemimpin Tertinggi Al-Azhar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, Syaikh Al-Azhar yang juga Ketua World Organization of Al-Azhar Graduates (WOAG) kepada OIAA Indonesia. Pertama, agar alumni Al-Azhar terus berupaya mengokohkan moderasi Islam (wasathiyyah al-Islâm) dan, kedua, agar alumni Al-Azhar memastikan pemahaman akidahnya adalah akidah Asy’ariyah- Maturidiyah, fikihnya adalah fikih empat mazhab, dan tasawufnya adalah tasawuf yang dikembangkan oleh Imam Al-Junaid, Asy-Syadzili, Imam Ghazali, dan ulama lain yang senapas.

“Pertama, saya ingin menyampaikan pesan Grand Syaikh Al-Azhar bahwa kita harus mengokohkan wasathiyyaat al-Islam, dan kedua memastikan bahwa akidah, fikih dan tasawuf kita sesuai dengan manhaj al-Azhar,” kata doktor tafsir alumnus Universitas Al-Azhar itu.

 

TGB juga menyinggung dan mengenalkan Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) dan kegiatannya kepada delegasi. PUSIBA, selain sebagai Lembaga Bahasa untuk persiapan mahasiswa Al-Azhar Mesir, juga sebagai Lembaga untuk mengokohkan wasathiyyat al-Islam dan manhaj al-Azhar.

PUSIBA, bukan hanya untuk mempersiapkan Bahasa calon mahasiswa kuliah di Al-Azhar, melainkan juga untuk mengokohkan moderasi Islam dan manhaj al-Azhar,” imbuh TGB di hadapan rombongan MDN dan pengurus OIAA cabang Indonesia yang hadir.

 

Dalam kesempatan sama, Prof. Mahmood Zuhdi menyampaikan bahwa umat Islam dan bangsa Melayu di kedua negara bertetangga ini sangat besar. Umat Islam di kedua negara, bahkan merupakan yang terbesar di seluruh dunia Islam dari segi jumlah populasinya.

Secara khusus, Indonesia bahkan pernah memiliki posisi sangat penting sebagai bangsa yang besar dan dikagumi oleh dunia dengan keberhasilannya menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955 pada era Presiden Sukarno yang kemudian melahirkan Gerakan Non Blok (GNB). Tetapi, menurutnya, lebih dari 60 tahun setelah Indonesia dan Malaysia merdeka dari penjajahan, bangsa Melayu dan umat Islam di kedua negara bertetangga itu belum menikmati kesejahteraan ekonomi yang menggembirakan.

“Karena itu, kita perlu terus-menerus memikirkan langkah-langkah strategis untuk kemajuan umat dan bangsa kita,” kata professor pimpinan lembaga yang peduli terhadap isu-isu pemberdayaan umat Islam dan bangsa Melayu di tanah Nusantara.

 

Diskusi berlangsung akrab dan hangat. TGB mengakui bahwa ada kemiripan persoalan yang dihadapi oleh umat Islam di kedua negara.

“Di Indonesia,” kata TGB, “beberapa elemen umat mencoba melakukan jihad konstitusi untuk mengatasi persoalan ekonomi umat, seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Beberapa di antaranya membuahkan hasil cukup baik.”

OIAA cabang Indonesia menyambut gembira gagasan-gagasan dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih satu jam setengah itu, dan berencana akan mengadakan kunjungan balasan OIAA cabang Indonesia ke MDN Malaysia dalam waktu dekat ini.

Dalam pertemuan itu, TGB didampingi oleh Ikhwanul Kiram (Wakil Ketua), Dr. Muchlis M Hanafi (sekretaris jenderal), Muhammad Arifin, MA (Bendahara), Dr. Willy Octaviano (Wakil Sekjen), dan Nanang Firdaus, Lc.

Selain ke kantor OIAA cabang Indonesia, sebelumnya Pengurus MDN yang beranggotakan sepuluh orang inti itu, melakukan kunjungan ke kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mendiskusikan persoalan Palestina. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.