Home Catatan Masisir Dr. Rizzaldy, Jejak Soekarno dan Kemerdekaan Indonesia dalam Karya Bakatsir

Dr. Rizzaldy, Jejak Soekarno dan Kemerdekaan Indonesia dalam Karya Bakatsir

88
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Cairo – Ali Ahmad Bakatsir bukan hanya mendokumentasikan sosok Soekarno dan sejarah kemerdekaan Indonesia, melainkan juga berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia dan menginspirasi pelajar Indonesia di Mesir untuk berjuang mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Mesir.

Itulah kesimpulan hasil penelitian Rizzaldy Satria Wiwaha terhadap Audatul Firdaus dan tertuang dalam disertasinya berjudul “Dialog dan Argumentasi dalam Drama Kembalinya Surga Firdaus Karya Sastrawan Ali Akhmad Bakathir”.

Rizzaldy di hadapan dua pengujinya — Prof. Dr. Yousef Hasan Novel dan Prof. Dr. Mohammed Bariri– dalam sidang disertasi doktoral selama hampir 2 jam yang diadakan di Auditorium Institute of Arab Research and Studies (IARS), The Arab League University ALECSO pada Senin 24 Februari 2020 lalu, mempertahankan kesimpulannya tersebut dan akhirnya mendapatkan predikat Summa Cumlaude.

Doktor asal kelahiran Cianjur, 11 November 1986 dan  awardee penerima Program Beasiswa 5000 Doktor Luar Negeri  itu menceritakan dua pengujinya. Pertama, Prof. Dr. Yousef Hasan Novel, guru besar Ilmu Bahasa dan kritik Sastra Arab Modern Universitas Ain Syams.  Tahun ini genap usianya 82 tahun.

“Di usianya yang sesenja itu, beliau masih produktif menulis dan aktif di berbagai kajian-kajian Adab. Sepengetahuan saya, beliau sudah menulis sekitar empat puluhan buku seputar Sastra dan Kritik Sastra. Beliau juga masih menjadi narasumber di beberapa stasiun TV di Mesir dan banyak menerima penghargaan International.” Rizzaldy bercerita.

Penguji kedua Prof. Dr. Mohammed Bariri guru besar di departemen Ilmu Bahasa di American Cairo Univeristy (AUC) merupakan professor ahli bahasa dan metodologi terkenal dari Mesir. Demikian keterangan Rizzaldy.

Semasa studi, ayah dari satu anak itu beruntung mendapatkan pembimbing dan promotor hebat Prof. Dr. Mohammed Abdul Motalib, Professor ahli Bahasa dan ahli argumentasi. Karena keahliannya, beliau mendapatkan Islamic NOBEL dari King Faizal Prize pada tahun 2017. Sang promotor berharap muridnya ini dapat menyebarkan ilmu argumentasi ini ke Asia Tenggara khususnya Indonesia, dan saat ini Rizzaldy sedang merampungkan tulisannya tentang Teori Argumentasi.

“Saya bersyukur mendapatkan pembimbing Profesor Mohammade Abdul Motalib. Menurutnya, Ilmu Argumentasi belum tersebar di Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Makanya beliau berharap banyak kepada saya untuk menyebarkannya di Indonesia. Mohon doanya, saya lagi merampungkan buku tentang Teori Argumentasi.” Ujar Rizzaldy kepada Kru Portal Wasathiyyah.

Teori Argumentasi, kata Rizzaldy, disebut oleh para ahli Bahasa dunia sebagai Kembangan Baru dari Ilmu Balaghoh atau disebut dengan“al-Balagoh al-Jadidah”. Palerman dan Tytece dalam bukunya yang berjudul Traite de I’argumentation mengatakan bahwa Teori Argumentasi adalah Kembangan Baru dari ilmu Bahasa politik dan Bahasa komunikasi. Saat ini teori argumentasi sedang berkembang pesat di Timur Tengah dan di Barat. Sayangnya, teori ini belum masuk dan belum dikenal di tanah air, karenanya dengan hasil penelitian ini, Rizzaldy berharap dapat menyebarkan ilmu ini di Indonesia sekaligus bercita-cita menjadi ahli Argumentology yang pertama dari Indonesia.

Selanjutnya, Rizzaldy menjelaskan penelitiannya terhadap salah satu karya Ali Ahmad Bakatsir yang berjudul Audatul Firdaus (Kembalinya Surga Firdaus). Bakatsir merupakan sastrawan Arab kelahiran Surabaya Indonesia. Karya tersebut berbicara tentang kisah dan perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Karya ini diterbitkan oleh Maktabah Masr  pada tahun 1946, terbit kurang dari setahun pasca deklarasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Berdasarkan hasil penelitian Rizzaldy, dia menyimpulkan bahwa karya tersebut mempunyai kontribusi besar bagi para pelajar Indonesia di Mesir yang tergabung dalam Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia sebagai salah satu media cetak yang digunakan oleh mereka untuk memperkuat diplomasi pemerintahan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Mesir. Bahkan salah satu babak dari drama tersebut dipentaskan oleh pemuda-pemuda Jam’iah Syubban Muslimin di Gedung Theater panitia perhimpunan.

“Saya berkesimpulan, tanpa Audatul Firdaus mungkin para pelajar Indonesia tidak tergerak membentuk Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia dan orang Mesir tidak tahu kondisi di Indonesia. Lewat karya inilah, Indonesia mendapatkan pengakuan dari Mesir.” Kata Rizzaldy.    

Sesuai dengan judul disertasi, penelitian itu, kata Rizzaldy, bertujuan untuk mengupas objek materi dari dua unsur besar yaitu sisi dialog dan argumentasinya, adapun penelitian ini terdiri yang terdiri dari kata pengantar dan dua bab. Pendahuluan mencakup informasi singkat tentang Ali Ahmad Bakathir, konsep wacana drama, definisi dialog dan argumentasi, juga mencakup studi sebelumnya yang berhubungan dengan drama Bakathir.

Bab pertama, membahas dialog dalam drama Audah al-Firdaus. Bab ini menekankan varian dialog dalam drama, temasuk unsur interinsik dan eksterinsik, adapun unsur interinsik terdiri dari tema, penokohan, alur, gaya bahasa, latar atau setting, sudut pandang dan amanat. Adapun sisi ekstrinsik terdiri dari sejarah atau biografi pengarang, situasi dan kondisi, nilai-nilai dalam cerita, dan uslub balaghoh atau elemen konstruksi gaya bahasa dalam dialog.

Kemudian bab kedua membahas argumentasi di dalam drama. Ini mencakup metode argumentasi dan persuasi dalam drama – keduanya secara linguistik dan retoris.

Rizzaldy mengemukakan 3 kesimpulan utama hasil dari penelitiannya yaitu: pertama, Bakatsir berhasil membawakan kisah-kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia kedalam karyanya dengan akurasi 95 persen sesuai dengan kisah asli yang terjadi.

Kedua, karya tersebut menjadi salah satu media perjuangan bagi pelajar Indonesia di Mesir untuk perjuangan mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Mesir, karenanya bakatsir mempunyai kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan.

Dan ketiga, dalam karya itu, Rizzaldy mempunyai natijah atau hasil baru soal sosok Presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno, peneliti menemukan bukti bahwa Soekarno adalah sosok yang sangat religious, karena dalam setiap dialog maupun argumentasinya Soekarno selalu menggunakan dalil-dalil baik alquran maupun hadist dan kalam dari sabahat, dari ini peneliti mempunyai tesis baru bahwa soekarno bukan lah sosok Nasionalis-Religiuos akan tetapi Religiuos-Nasionalis.

Rizzaldy menambahkan bahwa lewat penelitiannya, dia berkesempatan melacak karya-karya Bakatsir lainnya tentang Indonesia. Ditemukan 29 karya Syair atau Puisi tentang Indonesia dan 4 karya tentang Indonesia dalam bentuk Buku.

“Mohon do’anya, semoga saya bisa menerjemahkan karya-karya Bukatsir.” Pungkas Rizzaldy. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.