Home Catatan Masisir Atdikbud KBRI Cairo, Sastrawan Mesir itu Lahir di Surabaya

Atdikbud KBRI Cairo, Sastrawan Mesir itu Lahir di Surabaya

242
0
SHARE

Wasathiyyah.com. Cairo — Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Cairo Dr. Usman Syihab menghadiri ujian Disertasi doktor Rizaldy Satria Wiwaha kemaren (Senin, 24/2) di Institute of Arabic Research & Studies, Liga Arab. Disertasi berjudul “Dialog dan Argumentasi dalam drama Kembalinya Surga Firdaus karya sastrawan Ali Akhmad Bakathir” itu mendapatkan Summa Cumlaude.

Atdikbud merasa bersyukur, ada putra Indonesia yang mengkaji karya, bukan hanya karena pengarangnya lahir di Indonesia, melainkan juga isi karya tersebut menceritakan perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia

 

“Alhamdulillah, hari ini saudara Rizaldy Satria Wiwaha, asal KPMJB (Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat) dinyatakan lulus ujian Disertasi doktor di Institute of Arabic Research & Studies, Liga Arab dengan predikat Summa Cumlaude, dg Judul disertasi “Dialog dan Argumentasi dalam drama Kembalinya Surga Firdaus karya sastrawan Ali Akhmad Bakathir”. Tulis Usman di status Facebooknya.

Usman mengisahkankan sosok sastrawan dalam disertasi Rizaldy tersebut. Ali Ahmad Bakathir, cerita Usman, adalah sastrawan Arab terkenal kelahiran Surabaya, karyanya “Audatul Fidaus/ Kembalinya Surga Firdaus terbit di tahun 1946, setahun setelah deklarasi kemerdekaan RI, ia bercerita tentang perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Kajian menyimpulkan karya ini memiliki kontribusi besar bagi pelajar Indonesia di Mesir yang tergabung dalam Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia sebagai media cetak yang digunakan untuk memperkuat diplomasi pemerintah Indonesia dalam mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Mesir.

Dikisahkan, lanjut Usman, bahwa Ali Akhmad Bakathir setelah meninggalkan Surabaya, ia menuntut ilmu di Yaman. Lalu melanjutkan studi di jurusan sastra Inggris Cairo University (yang waktu itu bernama universitas Ahmad Fuad Awwal). Saat masih kuliah dia sudah menulis puisi dan menerjenahkan karya-karya Shakespeare dan dimuat di berbagai media sastra (antara lain majalah Arrisalah).

Karena suasana perang ia tidak bisa balik ke Indonesia dan ia berkenalan dan menikahi gadis Mansoura, ia kemudian memperoleh kewarganegaraan Mesir dan bekerja menjadi guru di sana. Dari Mansoura ia menerbitkan karya-karya sastranya yg terkenal antara lain “Kembalinya Surga Firdaus” tersebut. Ia memiliki karya sastra dlm bentuk drama, puisi dan novel.

Ali Akhmad Bakathir juga pernah menerima penghargaan sastra negara dari Mesir bersama-sama dengan Naguib Mahfouz, sang penerima Nobel. Ia meninggal pada tahun 1969 pada umur 59 tahun. Diantara novelnya juga difilmkan dengan judul “Wa Islamah”.

“Karya-karya Ali Akhmad Bukathir itu, merupakan cerita rindu dalam bentuk surat-surat kepada Ibundanya yang sedang jauh di Surabaya sana, juga tentang kisah-kisah perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah, termasuk dalam karya dramanya “Kembalinya Surga Firdaus” yaitu kembalinya Indonesia.” Pungkas Atdikbud. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.