Home Catatan Masisir Belajar Menulis Bersama Zaahera

Belajar Menulis Bersama Zaahera

366
0
SHARE

Moh. Abdul Wahab

Aku tinggal di Mahattoh Gami’, Hayyul ‘Asyir, Nasr City Cairo. Dari jendela saqah, saya melihat mentari tersenyum. Imarah di sekitar apartemen nomor 75, tempat aku tinggal, mulai ada kehidupan.

Aku melirik ke dinding. Di sana jarum jam sedang menunjukan pukul 08.45 Waktu Cairo.

Aku turun dari saqah yang berada di lantai satu imarah. Dengan langkah cepat, aku melewati anak tangga. Aku pun berjalan di antara imarah yang tersusun bagaikan kardus berjejer. Di sebelah kiriku, ada toko bangunan, toko roti, toko kacang-kacangan, dan toko alat-alat tulis serta jasa poto copy. Sedangkan di sebelah kanan, ada toko sayuran dan buah-buahan, toko isy (makanan pokok Mesir terbuat dari gandum),   ‘atharah (tukang bumbu masak)  dan toko tukang ayam.

Aku menelusuri gang masjid Nurul Huda. Tak berapa lama, aku melewati imarah tempat jasa tukar dan transfer uang, Transfer Indo.

Setelah berjalan sekitar 300 meter, aku sampai di jalan utama. Aku menengok ke sebelah kiri jalan, terlihat tak jauh dari sana Syuq Sayyarat –pasar mobil di Mesir, setiap hari Jumat dan Ahad– sudah dipadati mobil-mobil yang akan dijual oleh pemiliknya.

Semua orang terlihat sibuk. Jalanan Hayyul Asyir pun sudah mulai padat dan macet. Laju kendaraan pun bahkan kalah dengan orang yang berjalan kaki. Sehingga penumpang-penumpang yang ingin bepergian menggunakan kendaraan umum di Mesir seperti eltramco, bus, taksi, tuk-tuk (sejenis bajaj) harus ekstra bersabar.

Aku menelusuri trotoar sebelah kanan jalan Hay Asyir mengarah ke timur. Sesekali aku berpapasan dengan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) yang terlihat rapi. Menurutku, mereka akan menghadiri acara, seperti diriku.

Memang, bagi Masisir hari Jum’at adalah hari kegiatan. Berbagai organiasi, baik organisasi induk, PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia), Kekeluargaan, Afiliasi (seperti PCINU,  PCIM, PCIPERSIS) maupun organisasi Bimbingan Belajar (seperti al-Fata dan asy-Syatibi Center) mengadakan acara pada hari libur.

Aku terus melangkah menuju aula KSW (Kekeluargaan Mahasiswa Walisongo).

* * *

Panitia Workshop Kepenulisan Zaahera, menyambutku. Kami bersalaman. Di aula itu, baru ada sekitar 10 orang. Aku bergabung dengan teman-teman angkatan 2017 itu.

Sambil menunggu kedatangan pemateri dan peserta lain, aku membuka hp. Aku mencari berita di Google. Aku tertarik dengan berita tentang kebijakan Donald Trump. Dia mendeklarasikan kedaulatan Israel atas tanah Palestina. Dia dikecam oleh Dunia Internasional, termasuk sekutunya yaitu Uni Eropa, Jerman, dan Perancis. Bahkan dari internal Amerika sendiri yaitu menteri luar negeri Rex Tilerson dan menteri pertahanan James Mittis, ikut mengecam. Alasan keduanya adalah karena tingginya ancaman dan bahaya keamanan yang akan menimpa diplomat serta warga Amerika.

Aku hanyut dalam bacaan.

* * *

Sang pemateri datang, namanya Ustadz Irja Nasrullah. Beliau duduk diantara kami, peserta ikhwan. Sebelum acara dimulai, beliau menuturkan banyak hal kepada kami tentang dunia Mesir dan sekitar pemanfaatan waktu. Beliau mengatakan, “Mesir adalah negerinya para ulama, hampir semua ulama terkenal pernah datang ke Mesir, bahkan bukan hanya ulama, Mesir pun adalah negeri para Anbiya.”

Jam 09.25, acara dimulai. Akmal selaku pembawa acara, membuka acara dengan basmallah, dilanjutkan dengan pembacaan puisi pencair suasana, setelah itu MC membacakan Curiculum vitae sang pemateri. Aku pun mengetahui bahwa Ustadz Irja Nasrullah termasuk penulis produktif, sebab sudah menulis buku 17 judul. Luar biasa sekali. Acara dilanjutkan dengan pembacaan kalam ilahi yang sangat indah didengar. Kemudian acara inti pun akhirnya tiba juga.

“Bismillahirrahmanirrahim…, assalamualaikum warahmatullah Wabarakaatuh…” Sapa ustadz Irja mengawali pembicaraannya. Suara jawaban salam pun bergemuruh dari para peserta menunjukkan antusias yang tinggi pada acara ini.

“Kalo ingin menjadi penulis itu tidak bisa seperti anget-anget telek ayam”. Ujar beliau.

Telek adalah bahasa Jawa yang artinya kotoran ayam. Beliau berkata demikian karena faktanya, banyak orang yang ingin menjadi seorang penulis, namun sangat malas menulis. Semangat di awal, tetapi 3 hari kemudian semangat menulisnya hilang. Seharusnya ada follow up dari dalam diri pribadi untuk mengembangkan bakatnya.

“Zaman sekarang kita mendapatkan banyak sekali kemudahan fasilitas, jauh bila dibandingkan dengan zaman dulu yang serba minim. namun kenapa kita sangat sulit hanya untuk menulis”. Tambah beliau.

Kemudian beliau melanjutkan, “Kalau dulu orang mengorbankan harta mereka untuk bisa menulis, kalo zaman sekarang banyak orang menulis untuk mencari nafkah”.

Benar memang, ulama zaman dahulu sampai menjual seluruh harta mereka hanya untuk membeli kertas dan tinta. Diantaranya Imam Bukhari, beliau menjual baju-bajunya hanya demi bisa menulis hadits.

“Mahasiswa Timur Tengah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai mahasiswa yang kurang cakap menulis”. Kembali beliau menyadarkan kami.

Menurutnya, mahasiswa al-Azhar khususnya, dikenal sebagai lulusan yang kurang kompeten dalam dunia tulis menulis. Hal ini disebabkan karena sistem dan kurikulum pendidikan di Azhar tidak menekankan mahasiswanya dengan banyak tugas-tugas makalah, bahkan di akhir semester 8 pun tidak ada kewajiban membuat skripsi. Hal inilah yang menjadi sebab kurang telatennya jiwa kepenulisan di diri Masisir.

* * *

“Opini adalah gagasan atau pemikiran pribadi berdasarkan fakta dan data yang bersifat subjektif. Artinya bisa mengandung kebenaran ataupun salah”. Kata Ustadz Irja kepada kami.

Dalam Workshop Kepenulisan Zaahera ini, Ustadz Irja membahas tentang tulisan opini secara detail.

“Data-data dan bukti-bukti itu bisa di peroleh  secara langsung atau primer melalui wawancara maupun secara tidak langsung atau sekunder melalui kepustakaan. Tulisan opini syaratnya harus mendidik, tidak menghasut dan menfitnah dan tidak memojokkan seseorang atau satu golongan. Apabila tulisan tersebut bertujuan mengkritik terhadap pemikiran seseorang atau golongan maka harus disampaikan secara ilmiah, sopan, dan solutif”. Kata senior kami di Universitas Al-Azhar itu.

* * *

Setelah Ustadz Irja menyampaikan materi, dilanjutkan dengan bedah karya, yaitu mengoreksi tulisan para peserta. Salah satu tulisan peserta dikoreksi oleh ustadz Irja. Beliau menegaskan bahwa menulis harus dengan Indonesia yang dipahami oleh banyak orang. Sekiranya ada kata asing yang ada padanannya dalam bahasa Indonesia, maka gunakan padanannya itu.

Karena waktu sangat terbatas, persiapan untuk sholat Jum’at, maka tak semua tulisan opini peserta dikoreksi.

Acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Ada beberapa teman yang bertanya. Pertanyaan langsung dijawab oleh ustadz secara jelas.

Acara pun berakhir dengan sesi foto bersama. Kami pun meninggalkan aula KSW. Kembali ke apartemen masing-masing.

* * *

Banyak hal yang kami dapat dalam Workshop menulis kali ini. Selain mendapatkan ilmu, acara ini menambah teman-teman baru. Aku bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Karena tak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama, gratis lagi. Hehe

Semoga acara-acara seperti ini bisa berlanjut ke depannya. Penyadaran tentang pentingnya dunia tulis menulis di kalangan Masisir sangatlah penting. Karena dengan kegiatan seperti inilah dapat memacu serta meningkatkan skill menulis yang bagus, sehingga mampu mendobrak opini masyarakat tentang lemahnya jiwa kepenulisan di tengah-tengah Masisir. Saya sangat mengapresiasi dan mendukung penuh karena teman-teman Zaheera mempunyai inisiatif menyelenggarakan kegiatan workshop menulis ini . Jazakallah khairan katsira.

Cairo, 20 April 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 18 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.