Home Catatan Masisir Egypt is the Gift if the Nile

Egypt is the Gift if the Nile

645
0
SHARE
sungai nil
Sumber: unikgeli

Oleh: Moh. Abdul Wahab

Hari ini, tanggal 21 September 2017, seperti biasa kami Maba (Mahasiswa Baru) Al-Azhar Cairo 2017 menjalani rutinitas kami di asrama yang terletak di Hay Sadis di Madinatun Nasr (Nasr City). Bakda sholat Shubuh, kami berkumpul untuk acara muhadatsah bil lughatil Arabiyyah di Aula bawah lantai dasar sakan Indonesia.

Ruangan ini termasuk math’am (ruang makan) yang biasa kami gunakan saat makan. Ada 6 lantai lagi di atasnya yang diisi oleh mahasiswa baru dan juga pengurus asrama. Sedangkan saya tinggal di lantai dua nya, kamar nomor 103 mabna 1.

Setelah selesai, kami kembali ke ruangan masing-masing. Setibanya di kamar, tiba-tiba HP saya berdering nyaring. Saya liat ternyata ada panggilan masuk dari ustadz Haris Ramlan. Beliau adalah ustadz sekaligus kakak kelas saya sealmamater di Pesantren Persatuan Islam Rancabogo 76 Tarogong Garut. Kebetulan beliau sekarang menjadi salah satu staf di KBRI mesir saat ini. Saya pilih tombol jawab dan terdengar ucapan salam dari ustadz Haris yang kemudian saya jawab salam beliau.

“Akh, hari ini ada kegiatan enggak? Hari ini ana mau ke kantor, ahlan kalau antum mau ikut akh. Anak-anak juga ikut, sekalian rencananya kita mau nyari buku dan ada pameran di salah satu Mall di Mesir.” Kata Ustadz Haris kemudian.

Mendengar tawaran baik Ustadz Haris saya berpikir sejenak, saya baru ingat hari ini ada agenda. Rencananya saya mau setor diri di konsuler bersama dua teman saya. Maka kemudian saya menjawab: “Waduh ustadz, sebenernya saya sangat ingin ikut bersama Ustadz, namun kayaknya hari ini ana enggak bisa Ustadz, soalnya hari ini ana rencananya mau lapor diri bersama temen-temen ke konsuler.”

“Oh gitu, tapi…, bukannya hari ini konsuler libur akh, soalnya hari ini kan Tahun Baru Hijriah.” Kata Ustadz Haris kemudian.

Setelah mendengar jawaban Ustadz Haris saya baru sadar kalau hari ini memang libur tahun baru. Akhirnya saya sanggupin tawaran ustadz haris dan kita pun berangkat jam setengah 10.

* * *

Ustadz Haris juga membawa ketiga anaknya yang lucu-lucu dan sholeh sholehah. Ukasyah, Nusaybah, dan Maryam. Setelah naik naik taksi akhirnya kita bincang-bincang santai.

“Akh, udah pernah ke sungai Nil belum?” Tanya ustadz Haris kepada saya.
“Belum, Ustadz.” Jawab saya karena memang sejak kedatangan saya tanggal 11 September 2017, saya belum kemana-mana karena memang belum punya visa.

“Wah, kalo begitu kita turunnya di sungai Nil aja. Supaya antum bisa melihat langsung sungai Nil dari dekat. Setelah itu, kita menuju kantor ana sebab ada kerjaan yang belum selesai. Lalu kita ke masjid Azhar dan ke Husain untuk nyari buku, baru kita ke tempat pameran.” Katanya.

“Iya amu, biar amu bisa liat sungai Nil.” Sambung Ukasyah yang duduk di sampingku.

“Oke… .” Sahutku kemudian sambil tersenyum kepada Ukasyah.

* * *

Mobil melaju membelah kota Cairo menuju sungai Nil. Dari kaca mobil aku pandangi bangunan-bangunan kota Cairo. Bangunan yang dulu hanya bisa aku lihat di layar laptop saat nonton film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) karya Kang Abik (ustadz Habiburrahman el-Shirazy) . Tapi sekarang saya bisa saksikan langsung dengan kedua mata saya. Tasbih tahmid takbir tasykur kepada Allah saya panjatkan atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menuntut ilmu di negeri para nabi ini.

Tak terasa kami telah sampai di pinggir sungai nil. Masya Allah, tak pernah saya bayangkan dalam hidup saya bisa sampai ke sungai yang penuh sejarah ini.

* * *

Sungai Nil adalah sungai yang penuh dengan keistimewaan. Sungai Nil memiliki nilai sejarah yang sangat dalam dan peran yang besar bagi penduduk Mesir. Selain di manfaatkan untuk perekonomian, pertanian dan irigasi, sungai Nil juga ternyata memiliki keutamaan-keutamaan yang patut untuk kita ketahui. Patutlah kalau ada ungkapan “apabila tidak ada Nil, maka tidak adalah Mesir”. Bahkan saking istimewanya seorang ilmuan terkemuka dunia, Herodotus pernah berkata “Egypt is the gift if the Nile”. Karena seluruh peradaban Mesir kuno berawal dari dataran sekitar sungai Nil.

Keutamaan lain sungai Nil antara lain:

Pertama, sungai Nil adalah sungai yang di anggap suci oleh 3 agama, yaitu Islam, Yahudi dan Nasrani. Sungai nil termaktub dalam masing-masing kitab suci ketiga agama tersebut. Adapun dalam Al-Qur’an al-Karim termaktub dalam surat al-Qashash ayat 7 dan surat Thaha ayat 38-39 yang kesemuanya berkaitan dengan kisah nabi Musa ketika masih kecil.

Kedua, sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia yakni kurang lebih mencapai 6650 km atau 4132 mil. Yang melintas 9 negara dunia: Mesir, Tanzania, Kenya, Zaire, Uganda, Ethiopia, Sudan, Rwanda, dan Burundi.

Ketiga, umumnya sungai-sungai yang ada di dunia itu mengalir dari timur ke barat (coba perhatikan sungai-sungai di sekitar Anda). Namun sungai Nil sebaliknya mengalir dari selatan ke utara.

Keempat, umumnya sungai-sungai di dunia semakin ke muara maka kadar air nya akan semakin banyak. Namun tidak untuk Nil, apa alasannya?

Hal ini disebabkan karena sungai Nil melalui berbagai daerah yang beragam iklimnya. Daerah hulu sungai Nil bersumber dan mengalir dari daerah yang iklimnya tropis dan terletak di dataran tinggi, lalu sungai Nil mengalir melalui daerah semi tropis, subtropis, daerah Ethiopia yang beriklim sub-seasional, Sudan yang panas, lalu membelah dataran padang pasir luas yang iklimnya sangat panas dan akhirnya bermuara di Laut Tengah. Dengan begitu setiap Nil mengalir satu langkah, maka airnya akan semakin berkurang. Ini berbeda dengan sungai-yang lainnya di dunia, di mana semakin ke hilir airnya akan semakin banyak.

Kelima, khalifah Umar bin Khattab pernah menulis surat untuk sungai Nil. So sweet sekali yaa…, hihi penasaran kan?

Begini ceritanya, saat pertama kali Islam masuk melalui penaklukan Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu Sungai nil tiba-tiba mengering. Kemudian penduduk Mesir waktu itu mengatakan ,”Hal ini sudah sering terjadi, yang kami lakukan adalah mencari gadis yang paling cantik (sekedar mengasih tau teman-teman, bahwa gadis Mesir itu cantik-cantik. Bahkan ada yang mengatakan kalau di indonesia 10 gadis yang berjalan maka pilih satu yang paling cantik, maka kalau di mesir 10 wanita yang berjalan, maka pilihlah yang paling jelek, kereeennn.. Ini yang paling cantik loh teman-teman yang di cari, kebayangkan?). Setelah kami dapatkan gadis yang paling cantik lalu kami hias dan dandani ia, kemudian kami lemparkan ke sungai nil maka kemudian sungai nil akan kembali mengalirkan airnya dengan deras.”

Maka ketika mendengar perkataan orang Mesir itu, Amr bin Ash mengatakan bahwa itu dilarang dalam Islam, namun setelah beberapa hari berjalan ternyata sungai nil tak kunjung mengalir. akhirnya Amr bin Ash berkirim surat kepada khalifah umar bin khattab di madinah. Dia kabarkan bagaimana kondisi yang sesungguhnya terjadi.

Kemudian khalifah Umar membalas surat Amr bin Ash dan mengabarkan bahwa apa yang disampaikan Amr bin Ash kepada penduduk Mesir adalah benar. Khalifah juga mengabarkan bahwa ia telah menulis surat khusus untuk sungai nil yang harus di lemparkan ke dasar sungai nil setibanya surat itu di Mesir. Adapun bunyi surat itu adalah:

“Bismillahirrahmanirrahim, dari hamba Allah amirul mu’minin Umar bin Khattab untuk sungai nil di Mesir. Wahai Nil, sekiranya dahulu kamu mengalir atas kehendakmu sendiri, maka kami tak membutuhkanmu lagi dan berhentilah mengalir. Namun sekiranya engkau mengalir atas perintah Allah SWT Yang Maha Esa, maka kami memohon agar Allah mengalirkanmu kembali. ”

Maka tak lama setelah itu sungai Nil mengalirkan airnya dengan deras. Allahu Akbar.

Keeanam, sungai nil adalah salah satu sungai yang di perlihatkan Allah kepada nabi Muhammad Saw saat Mi’raj. Serta merupakan salah satu sungai surga yang kelak akan mengalir sebagai sungai madu di surga sebagaiman hadist:

(عن أبي هريرة أن رسول الله قال:سيحان وجيحان و النيل و الفرات كل من أنهار الجنة (رواه مسلم

Itulah beberapa diantara keistimewaan sungai nil. Sungai yang penuh rahmat. Sungai yang penuh sejarah. Sungai yang dikirim Allah untuk banyak umat manusia.

* * *

Kami berjalan seiring Nil mengalir. Banyak juga orang-orang yang duduk-duduk santai di sana. Terlihat satu dua orang juga sedang asik memancing ikan.

Kemudian kami berjalan menuju kantor KBRI, tempat dimana ustadz Haris kerja. Sementara ustadz Haris menyelesaikan tugas beliau, aku menyimak Ukasyah murajaah surat al-Baqarah. Ukasyah memang anak yang sholeh lagi pintar, meskipun Ukasyah masih duduk di bangku sekolah dasar namun sudah memiliki hapalan yang banyak. Luar biasa sekali.

* * *

Setelah Ustadz Haris merampungkan kerjannya, kami meluncur ke masjid al-Azhar untuk sholat dzhuhur. Masjid Azhar merupakan masjid yang sudah sangat tua di mesir. Dibangun oleh Jauhar as-Syiqaly pada bulan april 970 masehi. Masjid ini adalah cikal bakal lahirnya universitas al-azhar. Universitas tertua kedua setelah universitas Qawariyun di Maroko. Universitas yang saat ini memiliki 50 fakultas yang tersebar di berbagai pelosok mesir.

Namun sebelum sholat, kami mampir terlebih dahulu di beberapa maktabah di sekitar daerah Husein. Tujuannya adalah mencari beberapa kitab titipan teman ustadz Haris. Berhubung beliau akan pulang ke Indonesia dikarenakan tugas kantor.

Setelah sholat kami mampir di math’am (rumah makan) melayu. Pelayan kemudian menghampiri kami, lalu menyerahkan menu makanan.

“Akh, antum mau pesen apa nih?” Tanya ustadz Haris sambil melihat daftar menu.

“Mmm…, ada apa aja Ustadz?” Tanyaku kemudian.

“Banyak sih, ada nasi goreng, tom-yam, menu telor juga ada, dan masih banyak lagi.” Jawab Ustadz Haris memberikan pilihan-pilihan.

Saya memesan Tom-Yam pedes, sementara ustadz Haris Tom-Yam juga namun tidak pedes. Ukasyah, Nusaybah memesan telor sama udang. Kami makan sambil ngobrol santai.

Nikmat sekali makan kali ini, maklumlah karena saya masih dalam tahap adaftasi dengan makanan-makanan Mesir. Bayangin aja kawan-kawan, makan di asrama itu setiap hari kita di kasih bawang mentah yang ukurannya besar-besar, paprika mentah, kurma mentah, aneh pokoknya. Selain itu ada juga daging ayam sama sapi, namun dimasak dengan bumbu mesir. Bumbu yang rasanya terasa begitu aneh dilidah mahasiswa Indonesia. Sehingga wajar saja saat ketemu dengan masakan asia tenggara selera makan begitu tinggi.

* * *

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pulang disebabkan anak-anak sudah terlihat lelah. Saya kembali ke sakan mahasiswa Indonesia di Hayyu el-Sadis, sementara ustadz Haris bersama anak-anak kembali ke Hayy el-Asyir.

“Jazakallah ustadz, udah mau ngajak ana jalan-jalan hari ini, akhirnya ana jadi tau sungai Nil sekarang.”. Ucapku kepada Ustadz Haris sembari tersenyum.

“Iya akh sama-sama. Kapan-kapan main ke rumah ya, ajak temen-temen juga biar bisa lebih akrab.” Jawab Ustadz haris.

“Iya ustadz, insyaallah. Ana duluan ya Ustadz. Assalamualaikum….” Jawabku sambil turun dari taksi.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah”. Jawab Ustadz Haris, kemudian beliau pun melanjutkan perjalanan kembali menuju hay asyir bersama anak-anak.

* * *

Sayapun bergegas ke asrama. Aku melewati gerbang sakan. Disana di jaga sama 2 orang penjaga yang sedang duduk-duduk.

“Assalamualaikum yaa ‘ammu”. Sapaku sembari lewat.

“Wabarakaatuh”. Jawab keduanya. Satu hal yang aneh bagi saya adalah ketika kita mengucapkan salam di Mesir, maka di jawabnya dengan kata “Wabarakaatuh” saja.

Tapi begitulah Mesir, penuh dengan keunikan. Negeri yang begitu kaya dengan nuansa sejarahnya. Bahkan saking kayanya akan sejarah, Mesir di juluki umm ad-Dunya dan umm al-hadharah. Betapa tidak, Mesir telah memulai peradabannya sejak 3200 SM. Dari masa Pharaonic, Hellenistic, Romawi, hingga Islamic.

Di sini para nabi pernah hidup, mulai dari nabi Yusuf bersama nabi Ya’qub, nabi Musa bersama nabi Harun. Namun di sini pula Fir’aun yang dzalim pernah bekuasa, Haman sang arsitek piramida pernah hidup. Juga Qorun yang kaya tapi kikir pernah berlenggang ria. Begitulah keistimewaan Mesir.

Akhirnya saya sampai juga di asrama. Saya dapati Ilyas dan Aufi sedang istirahat siang di kamar. Saya rebahkan badan saya di atas kasur sembari membaca buku. Namun perlahan-lahan tulisan buku itu terasa kian mengecil dan mengecil. Saya heran karena kemudian tulisan di buku yang sedang saya baca hilang sama sekali. Ternyata saya ketiduran.

* * *

Alumni Pesantren Persatuan Islam 76 Tarogong Garut dan sekarang sedang menuntut ilmu di Daarul Lughah Cairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.