Home Kegiatan Alumni Ceramah di Purwakarta, TGB: Tak Usah Mempertentangkan Siapa yang Paling Islami

Ceramah di Purwakarta, TGB: Tak Usah Mempertentangkan Siapa yang Paling Islami

681
0
SHARE
Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mengisi ceramah umum di Tajug Gede Cilodong, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (24/1/2018) malam

Wasathiyyah.com, Purwakarta — Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi diundang mengisi ceramah umum di Purwakarta, Jawa Barat.

Di hadapan ribuan jamaah, TGB menyampaikan pesan perlunya mensyukuri kehidupan berislam di Indonesia.

“Saya pernah tinggal lama dan mendatangi sejumlah negara, menyimak bagaimana berislam. Kesimpulan saya, tidak ada ruang berislam di atas bumi Allah sekarang ini yang lebih leluasa dibanding Tanah Nusantara ini,” kata TGB di Tajug Gede Cilodong, Purwakarta, Kamis (24/1/2019) malam.

Menurut TGB, Islam datang ke Indonesia dibawa para guru-guru, yang bukan hanya memahami syariah tapi juga mereka memahami maqasid syariah atau tujuan-tujuan dari diturunkannya semua peraturan-peraturan dan tuntunan agama.

“Para wali datang tidak ada perbenturan, tidak ada pertentangan. Ketika ada nilai yang baik dikokohkan, ketika ada yang batil tidak hanya sekedar ditentang tapi juga dihadirkan gantinya yang lebih baik dan lebih memuliakan manusia,” paparnya.

TGB pun mengajak seluruh hadirin bersama-sama merawat dan menjaga Indonesia. Menurutnya, mencintai Indonesia bukan berarti meletakkan nasionalisme sebagai sebuah agama.

“Kita cinta Indonesia karena ini nikmat Allah yang wajib kita jaga,” terang mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode itu.

Selain itu, TGB berpesan bukan saatnya sekarang ini mempertentangkan siapa yang paling Islami.
“Tidak usah saling mencari mana diantara kita yang paling pantas menyandang pejuang Islam. Mari kita buka ruang perkhidmatan di negara ini,” ucapnya.

Ia pun menyinggung situasi masyarakat yang ‘memanas’ menjelang pelaksanaan pemilihan presiden (Pilpres) 17 April 2019 mendatang.

“Kalau urusan politik itu perbedaan pandangan saja. Nanti setelah 17 April itu selesai juga. Apa kemudian jika ada satu pasangan menang kondisi langsung berubah begitu saja, tidak. Siapa pun yang menang masing-masing kita tetap harus bekerja sesunguh-sungguhnya,” tegasnya.

“Kata Rasul, ‘pemimpin-pemimpinmu cermin dari amal-amalmu’. Ayo kalau kita mengidealisasikan pemimpin-pemimpin yang bagus dan hebat, yang kita harapkan, maka mari kita juga muhasabah introspeksi, kita perbaiki amal-amal kita, kita saling sayang menyayangi satu sama lain dan kita bangun kubangan sosial yang baik,” pungkasnya.

Hadir dalam acara tersebut, pengelola Tajug Gede Cilodong sekaligus mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, pejabat Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.(WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven + fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.