Home SERBA-SERBI AZHAR Pidato Prof. Dr. Abbas Syauman, Deputi Al-Azhar Al-Syarif

Pidato Prof. Dr. Abbas Syauman, Deputi Al-Azhar Al-Syarif

217
0
SHARE

Teks Pidato Prof. Dr. Abbas Syauman, Deputi Al-Azhar Al-Syarif,
dalam Konferensi “Kebebasan dan Kewarganegaraan … Keragaman dan Integrasi”

****

Bismilâhirrahmânirrahîm

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada hamba yang diutus oleh Tuhannya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Selamat datang saya ucapkan kepada para hadirin di bumi Kinanah Mesir dan di pangkuan Al-Azhar Al-Syarif yang bekerjasama dengan Dewan Cendekiawan Muslim, untuk menggelar konferensi intelektual internasional yang penting ini dengan tema “Kebebasan dan Kewarganegaraan … Keragaman dan Integrasi.” Pada saat ini, pembahasan topik tersebut menjadi satu kebutuhan yang urgen, terlebih pada waktu di mana dunia dilanda berbagai macam fitnah dan kerusuhan, yang mana para pemilik kepentingan dan hawa nafsu di sana-sini berusaha untuk melekatkannya dengan Risalah Samawi yang sejatinya membawa kebaikan dan perdamaian bagi seluruh manusia. Pidato singkat saya ini akan menyinggung terkait “Eksploitasi agama dalam berbagai konflik dan perselisihan.”

Para hadirin yang mulia…

Dengan membaca sejarah manusia dari sejak mereka mengenal Risalah Samawi, kita tidak menemukan satupun agama kecuali telah dimanfaatkan oleh sebagian pengikutnya untuk kepentingan yang salah. Mereka menjadikan agama sebagai sebab terjadinya perselisihan atau bahan bakar untuk menyalakannya dan memperumitnya. Meskipun agama yang saya anut adalah agama terakhir dalam sejarah —Risalah Samawi—, namun saya akan mengawali ini dengannya guna menepis adanya tuduhan keberpihakan atau prasangka terhadap pengikut agama lain. Dan dahulu, kelompok Khawarij yang telah melakukan pemberontakan terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. adalah sekte yang pertama kali menggunakan agama kami dalam perselisihan politik mereka dengan Sayyidina Ali Ra. berdasarkan tuduhan yang batil dan penafsiran yang sesat. Mereka adalah tanaman buruk yang mana sampai saat ini kita masih merasakan durinya, yaitu dengan klaim mereka bahwa penerimaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. terhadap arbitrase dalam peristiwa yang terkenal dalam sejarah Islam dengan sebutan peristiwa “Tahkim” —yang itu menurut mereka— bertentangan dengan teks-teks Al-Qur`an; mereka berdalih dengan Firman Allah Swt.:

(إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ)

“Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”

Dan Firman lain yang berbunyi:

(وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)

“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”

Hal yang diklaim oleh kelompok Khawarij pada masa awal Islam tersebut, pada hakikatnya adalah “Perkataan yang benar (haq) namun ditujukan untuk sesuatu yang salah (bathil)” sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Ali, di mana mereka mentakwilkan ayat Al-Qur`an dengan pentakwilan yang salah untuk sampai pada maksud yang senantiasa menghiasi khayalan mereka saat itu. Dan dengan pentakwilan ini, mereka menghalalkan pembunuhan kepada siapa saja yang tidak mengikuti pendapat mereka.

Jika eksploitasi terhadap agama dalam berbagai macam perselisihan telah menimbulkan perkara yang tidak diinginkan pada masa awal Islam, maka tidak ada satupun fase dari berbagai fase agama terbebas dari kelompok Khawarij. Pada akhir abad ke-5 sampai akhir abad ke-7 Hijriyah, kemanusiaan mengenal kelompok Khawarij dari jenis lain; di mana tentara salib keluar dari ajaran agama Kristen, mengangkat salib sebagai simbol, dan menjadikan agama sebagai tunggangan untuk mencapai tujuan pribadi mereka, sehingga mereka menghancurkan, membuat kerusakan, membunuh, menelantarkan, mendatangkan malapetaka pada tanaman dan ternak atas nama Nasrani, sementara agama tersebut terbebas dari tindakan mereka. Dan pada awal abad ke-20, kita mengenal jenis kelompok Khawarij yang baru, mereka adalah orang-orang yang datang dari segala penjuru dengan pengaruh nubuat Yahudi yang mengklaim bahwa tanah yang mereka halalkan untuk diduduki, menelantarkan penduduknya dan yang telah mereka langgar kesuciannya itu adalah “Tanah yang dijanjikan.” Tidak diragukan lagi, bahwa agama Yahudi terbebas dari perkataan, tindakan, klaim dan kejahatan yang terus mereka lakukan hingga hari ini. Dan sesungguhnya, esensi dari seluruh Risalah Samawi adalah seruan untuk mencintai, toleransi dan perdamaian.

Adapun Khawarij era kita saat ini, adalah kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi yang pemahaman agama mereka sangatlah sedikit dan keburukan mereka sangatlah besar bagi manusia; di mana mereka menyimpang dalam pengambilan dalil Syariat dari teks-teks agama, kemudian mereka memalingkan teks-teks agama tersebut untuk membenarkan sikap dan tindakan berdarah mereka, mereka sama sekali tidak ragu untuk menumpahkan darah, kehormatan dan harta secara ilegal, mereka mengeluarkan fatwa-fatwa melenceng yang digunakan untuk kepentingan dan tujuan hina mereka, dan mereka menyelewengkan teks agama dari kebenarannya, memaksakan penafsiran terhadap teks, dan menisbatkan hukum-hukum kepada agama dengan kebodohan dan dusta, sementara agama sejatinya terbebas dari itu semua.

Bahaya yang dikhawatirkan dari organisasi-organisasi tersebut adalah, mereka begitu mudah dapat menyesatkan dan menipu banyak pemuda dengan mengatasnamakan agama melalui berbagai macam sarana penarikan dan daya pikat, serta mendapat bantuan dan fasilitas yang begitu mencengangkan dalam skala internasional. Mereka memutarbalikkan pemahaman, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kelompok yang mendeklarasikan afiliasi diri mereka kepada agama Islam, di antaranya yang terdepan adalah kelompok ISIS, dengan menggunakan isu kepemimpinan, jihad, khilafah, negara Islam dan pemahaman-pemahaman lain yang mereka jadikan sebagai jalan dan pintu masuk untuk mewujudkan ambisi mereka yang hina.

Para hadirin yang mulia…

Syariat Islam yang toleran telah mengharamkan pembunuhan terhadap wanita, anak-anak, orang tua, pendeta dan penduduk sipil pada saat perang, yang mana peperangan di dalam Islam tidak dibenarkan kecuali untuk mempertahankan diri dan menolak serangan musuh. Sebagaimana Syariat Islam mengharamkan kezaliman, penindasan, perusakan bangunan dan memotong pohon, bahkan Syariat Islam juga melarang membunuh binatang. Lalu dari mana orang-orang bodoh tersebut datang dengan apa yang telah mereka lakukan dari pembunuhan terhadap lelaki, perempuan, anak-anak, meneror orang-orang yang —dalam kondisi— aman, menghancurkan properti publik dan pribadi, mengusir penduduk dari rumah-rumah mereka? Orang-orang yang telah memperburuk citra Islam yang suci dan menampakkannya sebagai agama yang penuh kekerasan, pembunuhan dan teror itu, di mana kedudukan mereka dari Firman Allah Swt. yang menegaskan:

(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ)

“Dan sesungguhnya tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam”

Dan Firman Allah Swt.:

(فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”
Mereka yang telah melakukan pemaksaan keyakinan kepada manusia dengan menggunakan kekuatan senjata itu, di manakah kedudukan mereka dari Firman Allah Swt:

(ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ)

“Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahi tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Mereka yang melampaui batas dan bersikap keras itu, di manakah posisi mereka dari sabda Rasulullah Saw. yang menegaskan:

(إن الدين يسرٌ، ولن يشاد الدينَ أحدٌ إلا غلبه)

“Sesungguhnya agama itu mudah, tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan”?!

Orang yang objektif akan menyadari, bahwa tindak kejahatan yang keji tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam; Islam adalah agama damai dan rahmat, bahkan tindakan hina tersebut tidak dapat diterima oleh agama yang benar, akal sehat dan naluri yang lurus. Oleh karena itu, hendaklah perbedaan agama tidak menjadi sebab dari perselisihan dan persengketaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Syariat apapun dari ajaran-ajaran Samawi.

(فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ)

“Barang siapa ingin beriman, hendaklah ia beriman; dan barang siapa ingin kafir, biarlah ia kafir.”

Begitupun, hendaklah perbedaan etnis ataupun mazhab antara pengikut satu agama tidaklah menjadi pintu masuk bagi permusuhan atau jalan menuju konflik. Dari sini kita menetapkan bahwa perselisihan dan peperangan yang terjadi antara kaum muslim dan non-muslim dalam sejarah umat Islam, pada dasarnya muncul dari upaya kaum muslimin untuk mempertahankan diri dari serangan atau agresi yang dilancarkan kepada mereka, bukan muncul karena sebab perbedaan agama; karena jika faktanya tidak demikian, lantas mengapa Islam melarang pengikutnya untuk membunuh orang yang berbeda agama dari kaum perempuan, orang tua, anak-anak dan pendeta? Kita juga tetapkan bahwa sengketa atau konflik —dan mungkin juga peperangan— yang terjadi antara umat Islam sendiri sejatinya disebabkan oleh penafsiran yang salah, ijtihad yang keliru, atau kecenderungan manusia yang telah jauh dari petunjuk wahyu Allah.
Hadirin yang mulia…

Al-Azhar Al-Syarif mewaspadai bahaya-bahaya yang mengancam keamanan umat baik dari segi pemikiran maupun budaya, terutama yang menargetkan para pemuda; sebab musuh-musuh umat sangat menyadari betul akan nilai dari kaum pemuda, mereka mengetahui secara pasti bahwa pemuda adalah jalan yang paling tepat untuk menghancurkan masa depan atau kemuliaan umat. Lembaga Al-Azhar sepanjang sejarahnya menjadi benteng yang kuat untuk menghadapi segala upaya yang bermaksud untuk mencelakai kaum pemuda umat ini, dengan cara menempatkan perhatian khusus melalui penjelasan yang benar terhadap pemahaman-pemahaman yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tersebut, membantah syubhat yang selalu mereka gaungkan kepada orang-orang, baik itu melalui berbagai seminar, konferensi lokal dan internasional, diktat-diktat kontemporer dan literatur ilmiah yang menguatkan nilai-nilai toleransi Islam, kewarganegaraan, hidup berdampingan, pluralitas, penerimaan terhadap yang lain, penolakan kekerasan, ekstrimisme dalam agama, menjauhkan agama dari perselisihan dan konflik kecuali digunakan pada konteks yang tepat; ini semua merupakan penerapan petunjuk agama untuk mengatasi berbagai permasalahan dan —dalam rangka— mencabut sumbu krisis. Tuhan telah Menjadikan berpedoman kepada Kitab Suci-Nya yang diturunkan dan kepada ajaran para Rasul-Nya yang telah diutuskan sebagai kebiasaan hakiki dari orang yang beriman dalam seluruh agama. Tuhan Menjadikan ajaran ini sebagai penghalang terjadinya konflik dan perseteruan antar-manusia. Jika konflik itu terjadi, maka cukuplah bagi ajaran agama sebagai solusi atasnya. Sebagaimana Al-Azhar Al-Syarif juga memikul beban untuk memperkuat kohesi nasional dari tatanan masyarakat, dan berupaya untuk membangun keamanan dan perdamaian antara manusia tanpa melihat perbedaan agama, budaya dan etnis.

Barangkali hadirin sekalian memantau apa yang telah diupayakan oleh Al-Azhar Al-Syarif di seluruh tataran, baik di dalam maupun di luar Mesir, yang mana dalam kesempatan ini tidak cukup untuk menjabarkannya, di antaranya adalah upaya “Rumah Keluarga Mesir,” sebuah percobaan istimewa yang menjadi contoh tauladan bagi dunia, karena peran yang dilakukannya dalam menghentikan perselisihan sektarian di dalam dan luar Mesir, seperti yang pernah terjadi dalam rekonsiliasi bersejarah antara berbagai kelompok di Afrika Tengah. Sebagaimana Al-Azhar —atas berkat Allah— mampu mengumpulkan kelompok-kelompok dari bangsa Myanmar untuk pertama kalinya di Al-Azhar semenjak pecahnya konflik di sana, yang mana hal tersebut berkoordinasi dengan Dewan Cendekiawan Muslim, di mana telah disepakati untuk melanjutkan upaya hingga rekonsiliasi benar-benar terwujud atas izin Allah. Di antara upaya Al-Azhar yang lain juga, adalah apa yang diberikan oleh “Pusat Al-Azhar untuk Dialog Agama” dalam menguatkan pondasi-pondasi kewarganegaraan, pluralitas pemikiran, membangun budaya dialog dan koeksistensi dengan orang lain di seluruh dunia. Dan baru-baru saja terwujud dialog Al-Azhar dengan Vatikan di Masyikah (Kantor Grand Syaikh) Al-Azhar. Dan sebelumnya juga terdapat dialog pemuda Al-Azhar dengan pemuda Dewan Gereja Internasional, di samping dialog-dialog dan lawatan-lawatan Grand Syekh Al-Azhar ke Timur dan Barat, upaya “Badan Observatori Al-Azhar” dengan berbahasa asing untuk memantau kegiatan kelompok-kelompok esktrim, menganalisa pemikiran melenceng dan fatwa menyimpang mereka, lalu mematahkan sangkaan-sangkaan mereka yang merongrong keamanan dan stabilitas masyarakat.

Sebagai penutup, kembali saya tegaskan bahwa perbedaan agama tidak membenarkan tindakan zalim, menekan, menghina, meremehkan atau mengusir orang lain dari tempat asalnya. Muslim dan non-muslim adalah sama di mata Al-Azhar. Al-Azhar telah mengumumkan kecaman kerasnya terhadap serangan-serangan yang menargetkan saudara-saudara kami, mitra-mitra kami dalam negara di gereja dan tempat ibadah mereka, yang terbaru adalah praktik barbar yang menyebabkan sebagian saudara Nasrani kami meninggalkan rumah mereka di Arisy Sinai. Sebagaimana saya tegaskan, bahwa jika kita menginginkan perdamaian dan keamanan sejati terwujud di seluruh dunia, maka bagi siapa saja yang memiliki kekuatan, hendaklah mereka juga memiliki kemauan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran, kerusakan, kemiskinan, kebodohan dan penyakit. Dan hendaklah mereka menghentikan pemaksaan kehendak kepada orang lain dengan cara kekuatan, yaitu sebuah sikap yang melahirkan rasa penindasan, kebencian dan menyemai semangat balas dendam. Tidak diragukan lagi, bahwa hal itu tidak akan menghasilkan apapun kecuali kehancuran manusia yang semakin parah dan kemerosotan peradaban.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada hadirin sekalian.

Wassalâmu’alaikum Wa Rahmatullâhi Wa Barakâtuh.

Sumber: Pusat Terjemah Al-Azhar

 

SHARE
Next articleMenjadi Wasit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.