Home TGB's Note Pesan TGB dalam Kuliah Umum PUSIBA, “Jangan mengkafirkan Ahlul Qiblah!”

Pesan TGB dalam Kuliah Umum PUSIBA, “Jangan mengkafirkan Ahlul Qiblah!”

447
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Bekasi—Setelah menerima kunjungan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Malaysia Dato Fakhruddin bin Mhd Ali Mukti, OIAA cabang Indonesia TGB. Dr. M. Zainul Majdi MA., mengisi Kuliah Umum di Pusat Studi Islam dan Bahasa (PUSIBA) di Jatiwaringin Pondok Gede Bekasi, Jawa Barat. Acara bertemakan “Kaifa Akun Azhariyan” kemaren (Senin, 30/12/2019) itu diikuti oleh 281 orang putra-putri dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang mengikuti program penguatan Bahasa Arab.

Di hadapan peserta PUSIBA Angkatan kedua itu, TGB menegaskan bahwa persiapan kuliah di Al-Azhar, selain niat ikhlas dan persiapan matang, juga harus memahami manhaj Al-Azhar. Doktor Tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Kairo itu menceritakan pengalaman belajar di Al-Azhar dari S1 sampai S3 dan rahasia Al-Azhar masuk eksis hingga hari ini.

”Niat ikhlas dan didukung dengan perencanaan matang, maka ini bisa membantu kita mencapai cita-cita yaitu penguasaan atas suatu ilmu.” Kata mantan Gubernur NTB dua periode itu.

Menurut cucu pahlawan nasional sekaligus pendiri Nahdhatul Wathon (NW) itu, Al-Azhar masih berdiri kokoh saat ini, sebab tiga hal: ridho Allah, keikhlasan para pengelola Al-Azhar, dan manhaj yang digunakan oleh Al-Azhar.

“Al-Azhar memiliki usia yang sangat panjang, lebih dari seribu tahun, rahasianya apa?” Tanya TGB.

TGB lebih detail lagi menjelaskan bahwa rahasia Al-Azhar masih menjadi kiblat ilmu, berdasarkan cerita para pimpinan Al-Azhar selain karena ridha Allah Ta’ala, juga karena kebersihan hati dan niat dari para pimpinan Al Azhar, orang-orang yang membangun Al Azhar dari masa ke masa, dari generasi ke generasi. Kebersihan hati inilah yang menjadi ‘pupuk’ sehingga Al-Azhar jadi seperti tanaman yang terus tumbuh, akarnya semakin kuat, batangnya semakin kokoh, ranting dan dedaunannya semakin rimbun dan meneduhkan, serta buahnya semakin ranum dan menjadi manfaat untuk lebih banyak orang.

Faktor ketiga, menurut TGB, yang membuat Al Azhar mampu bertahan dan semakin membesar adalah karena pemahaman Islam yang diajarkan oleh Al-Azhar mencerminkan inti atau substansi dari Islam itu sendiri. Apa yang diajarkan oleh Al-Azhar kepada murid-muridnya mencerminkan isi dari ajaran baginda Nabi Muhammad SAW.

“Manhaj Al-Azhar itu, kalau diibaratkan sepotong emas dimasukan dalam api dan api itu ditiup sehingga semakin besar, maka emas itu tidak akan berkurang, justru akan semakin nampak kemurniannya. Al-Azhar telah melewati usia lebih dari seribu tahun. Artinya Al-Azhar telah menjadi saksi sejarah berbagai dinamika dan perubahan peradaban manusia.” TGB bercerita.

TGB melanjutkan penjelasnya, Al-Azhar telah menjadi saksi sejarah era pemerintahan yang berbeda-beda dengan segala dinamikanya, sejak era kekhalifahan, era kesultanan, masa penjajahan Perancis, sampai era pemerintahan modern. Setelah melewati semua masa itu, Al Azhar masih tetap berdiri kokoh.

Tiga ciri utama manhaj Al-Azhar, kata TGB, adalah dalam bidang aqidah mengusung ajaran akidah yang dirumuskan oleh Imam Abu Hasan Al Asy’ari; dalam bidang ibadah mengakui dan memilih 4 Imam Mazhab:  Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hanbali; dan dalam bidang akhlak mengikuti ajaran tasawuf amani seperti Imam Ghazali.

“Al-Azhar membekali hati anak-anak didiknya dengan pemahaman akidah yang bersih dan lurus, membekali akal dengan ilmu hukum agama yang terstuktur dari para ulama besar ilmu fiqih, dan jiwanya dibekali dengan ilmu akhlak dari para ulama tasawuf yang mumpuni. Inilah tiga pilar keilmuan yang diajarkan Al-Azhar kepada anak-anak didiknya.” Ujar TGB menyimpulkan manhaj Al-Azhar setelah beliau bahas panjang lebar.

Tiga pilar ini, kata TGB, menjadi fondasi bagi seorang pelajar Al Azhar untuk bersikap wasathy, pertengahan. Ciri khas dari pelajar Al Azhar dia tidak terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Ia akan terlebih dahulu memahami persoalan secara menyeluruh dan menyelesaikannya secara menyeluruh pula. Apalagi sampai menyalahkan pendapat orang lain, apalagi sampai mengkafirkan orang lain. Ini bukan ciri Al Azhar.

Imam Besar Al Azhar senantiasa mewasiatkan, “Laa nukaffiru ahadan min ahlil qiblah”, jangan mengkafirkan orang yang memiliki kiblat yang sama dengan kita. Terhadap orang yang berbeda pandangan, selama ia masih sama menyembah Allah Swt., mengikuti sunnah Rasulullah Saw., berkiblat ke Ka’bah, maka tidak boleh kita mengkafirkannya.

“Jangan mengkafirkan orang yang memiliki kiblat yang sama dengan kita.” Pesan TGB mengikuti petuah Imam Besar Al-Azhar Mesir. (WST/YNF/MA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.