Home TGB's Note Catatan Singkat untuk Mengenal Al Azhar Lebih Dekat

Catatan Singkat untuk Mengenal Al Azhar Lebih Dekat

232
0
SHARE
Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi

Oleh : TGB Muhammad Zainul Majdi

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Amaliyah tarbawiyah atau pembelajaran itu adalah perjumpaan dua gelombang, yaitu gelombang guru dan gelombang murid. Kapan kedua gelombang itu bisa bertemu? Manakala kedunya memiliki frekwensi yang sama. Dan, sebaik-baik pembelajaran itu adalah dengan persiapan yang terbaik.

Maka, pada setiap praktik amal ibadah kita pun terdapat persiapan yang cukup. Saat hendak shalat, maka ada persiapan berupa berniat dan berwudlu. Para ulama menjelaskan bahwa jikalau kita hendak shalat berjamaah di masjid dan kita menyadari bahwa shalat sudah dimulai, maka tidak perlu kita berjalan terburu-buru apalagi berlari karena setibanya di masjid nafas kita dalam kondisi masih terengah-engah sehingga shalat kita tidak khusyu. Cukup dengan berjalan normal saja. Jika pun nanti shalat kita tertinggal, masih ada ruang untuk masbuq. Terpenting shalat kita lebih khusyu dan berkualitas. Artinya apa, untuk shalat kita mempersiapkan diri dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta kesiapan fisik untuk mendukung kekhusyuannya.

Demikian pula halnya dalam proses pembelajaran. Perlu ada persiapan-persiapan yang bisa menguatkan langkah kita dalam mengarungi tahapan demi tahapan proses pembelajaran. Belajar itu tidak mudah, akan tetapi tidak ada yang sulit selama kita berupaya. Niat yang matang dan didukung dengan perencanaan tentang apa yang hendak dipelajari dan target waktu penguasaannya, itu bisa membantu kita mencapai cita-cita yaitu penguasaan atas suatu ilmu.

Termasuk untuk belajar di Al Azhar, kita perlu memiliki persiapan yang cukup. Catatan singkat ini adalah sedikit bekal untuk persiapan bagi siapa saja yang hendak belajar di Al Azhar. Atau, untuk siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat Al Azhar.

Saudaraku, belajar itu adalah kegiatan spiritual. Belajar adalah bagian dari ibadah kepada Allah Swt. karena ketika kita menjalani proses pembelajaran sesungguhnya kita sedang mengamalkan komitmen kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena belajar itu adalah spritual maka ada adabnya. Di Al Azhar, urusan adab ini adalah urusan yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari kegiatan belajar mengajar. Bagaimana adab kita kepada guru, juga bagaimana adab kita terhadap ilmu yang sedang kita pelajari.

Al Azhar memiliki usia yang sangat panjang, sudah lebih dari seribu tahun usianya. Dan semakin lama Al Azhar semakin besar, ada ribuan pelajar dari berbagai negara datang untuk belajar di sana setiap tahunnya. Apa rahasianya? Para pimpinan Al Azhar sering menyampaikan bahwa yang membuat Al Azhar menjadi sedemikian rupa tiada lain yang pertama adalah ridha Allah Ta’ala.

Kemudian yang kedua adalah kebersihan hati dan niat dari para pimpinan Al Azhar, orang-orang yang membangun Al Azhar dari masa ke masa, dari generasi ke generasi. Kebersihan hati inilah yang menjadi ‘pupuk’ sehingga Al Azhar jadi seperti tanaman yang terus tumbuh, akarnya semakin kuat, batangnya semakin kokoh, ranting dan dedaunannya semakin rimbun dan meneduhkan, serta buahnya semakin ranum dan menjadi manfaat untuk lebih banyak orang.

Faktor berikutnya yang membuat Al Azhar mampu bertahan dan semakin membesar adalah karena pemahaman Islam yang diajarkan oleh Al Azhar mencerminkan inti atau substansi dari Islam itu sendiri. Apa yang diajarkan oleh Al Azhar kepada murid-muridnya mencerminkan isi dari ajaran baginda nabi Muhammad Saw.

Manhaj Al Azhar itu kalau diibaratkan seperti sepotong emas yang jika dimasukan ke dalam api dan api itu ditiup sehingga semakin besar maka emas itu tidak akan berkurang, justru akan semakin nampak kemurniannya. Al Azhar telah melewati usia lebih dari seribu tahun. Artinya Al Azhar telah menjadi saksi sejarah berbagai dinamika dan perubahan peradaban manusia.

Di Mesir saja Al Azhar telah menjadi saksi sejarah era pemerintahan yang berbeda-beda dengan segala dinamikanya, sejak era kekhalifahan, era kesultanan, masa penjajahan Perancis, sampai era pemerintahan modern. Setelah melewati semua masa itu, Al Azhar masih tetap berdiri kokoh.

Oleh karena itu, penting bagi kita yang ingin belajar di Al Azhar untuk memahami apa manhaj Al Azhar itu. Manhaj itu seperti sesuatu yang dipikul saat berjalan. Pikulan tersebut akan terus dipindahtangankan dari generasi ke generasi penerusnya. Lantas, apa isi dari pikulan itu?

Islam itu satu, sedangkan pemahaman keislaman itu bisa lebih dari satu. Seiring dengan bergulirnya waktu sejak zaman Nabi sampai saat ini, sudah muncul berbagai madzhab pemahaman Islam. Lalu, bagaimana pemahaman keislaman yang diajarkan oleh Al Azhar? Salah satu madzhab itu ada yang dinamakan Manhaj Ahlussunnah wal jamaah ‘ala Madzhabil Asy’ariyyah wal Maturidiyyah.

Pertama, untuk urusan akidah, sejak ratusan tahun yang lalu Al Azhar mengusung ajaran akidah yang dirumuskan oleh Imam Abu Hasan Al Asy’ari yang mana beliau merumuskan konsep akidah yang pertengahan di tengah begitu banyak konsep atau rumusan akidah yang begitu banyak tengah umat Islam. Imam Abu Hasan Al Asy’ari lahir ketika ada dua kutub ekstrim dalam pemahaman akidah.

Yaitu satu kutub yang memutlakkan akal dan upaya manusia, bahwa segala sesuatu mesti bisa dipahami oleh akal pikiran dan hidup manusia ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan upayanya sendiri. Sedangkan di satu kutub yang lain meyakini bahwa manusia itu seperti sehelai daun yang jika ditiup maka ia akan ikut kemana arah angin bertiup. Kutub ini meyakini bahwa hidup manusia sepenuhnya sudah ditentukan oleh Allah, manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa selain hanya mengikuti saja kehendak Allah Swt.

Di tengah perseteruan dua kutub pemahaman akidah ini, hadirlah Imam Abu Hasan Al Asy’ari dengan pemikirannya yang wasathy, yang pertengahan. Beliau berpendapat bahwa benar segala sesuatu di alam semesta ini ada dalam kekuasaan Allah Swt., namun Allah memberi ruang kepada manusia yang bernama ruang Al Kasbu, ruang untuk berikhtiar atau berupaya.

Al Azhar memiliki cara pandang yang khas yaitu tidak memutlakkan dirinya sendiri dan menafikan yang lain. Al Azhar mengambil cara pandang pertengahan.  Al Azhar memiliki spirit mencari titik temu di tengah segala perbedaan, Al Azhar tidak mau menang sendiri.  Dan, inilah cara pandang yang banyak pula digunakan oleh umat Islam di dunia. Inilah yang membuat Al Azhar bisa diterima di seluruh dunia Islam karena Al Azhar senantiasa bisa menjadi penengah dan penyeimbang di tengah keberagaman manusia tanpa kehilangan jati diri keislaman.

Kedua, adapun dalam fiqih, atau hukum-hukum amaliyah keseharian, Al Azhar mengajarkan kita untuk berpegang kepada salah satu dari madzhab-madzhab fiqih yang ada, baik itu madzhab Syafii, Hanafi, Maliki atau Hanbali. Al Azhar tidak sepakat dengan orang yang berpandangan bahwa tidak perlu bermadzhab, cukup berpegang pada Al Quran dan As Sunnah saja. Al Azhar tidak sependapat dengan pandangan ini. Kenapa?

Karena cara pandang seperti itu tercatat dalam sejarah Islam terbukti mengakibatkan cara beragama yang salah, bahkan menimbulkan perpecahan dan pertentangan hingga menimbulkan pertumpahan darah. Contohnya, pada zaman khalifah keempat yaitu Ali bin Abi Thalib ra., ada suatu pertentangan antara khalifah dengan sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan.

Pertentangan di antara keduanya sampai berujung pada perang. Ketika perang tengah berlangsung, keduanya sepakat untuk berdamai. Namun, ketika proses perdamaian berlangsung, ada sekelompok pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar dari barisan kedua belah pihak. Mereka memisahkan diri karena tidak menerima perdamaian di antara kedua pihak.

Kenapa kelompok ini tidak menerima perdamaian antara Ali dan Muawiyah? Karena mereka tidak percaya kepada ijtihad yang diambil oleh Ali maupun Muawiyah. Mereka lebih mempercayai pikiran mereka sendiri dan langsung mereka merujuk kepada Al Quran yaitu kepada ayat, “Wa man lam yahkum bimaa anzalallaahu faulaaikahumul kaafiruun”, barangsiapa yang tidak berhukum kepada hukum Allah maka mereka termasuk golongan orang kafir. Dengan pemikiran seperti itu mereka sampai pada kesimpulan bahwa Imam Ali kafir dan Muawiyah pun kafir karena mereka berdua sepakat untuk berdamai. Mereka berpendapat bahwa jika Imam Ali dan Muawiyah berdamai maka keduanya telah meninggalkan Al Quran dan memilih menggunakan akal mereka. Ini kelompok yang disebut sebagai Khawarij.

Siapa Khawarij itu? Orang yang menghilangkan cara berpikir yang benar melalui jalan para ulama. Padahal ketika itu masih ada Imam Ali, sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah Saw., khalifah keempat pelanjut perjuangan Rasulullah Saw., tapi mereka tidak percaya kepada Imam Ali. Mereka memilih untuk merujuk langsung kepada Al Quran dan berpikir dengan pikiran sendiri, dan pemahaman mereka terhadap ayat Al Quran ternyata salah. Akibatnya, sikap mereka di kemudian hari pun salah.

Salah memahami Al Quran itu belum tentu dilatarbelakangi dengan niat yang buruk. Bisa jadi niat seseorang baik, tapi karena salah dalam proses belajar ia memiliki kesalahan dalam memahami Al Quran. Nah, Al Azhar itu menjaga cara kita memahami Islam. Oleh karena itu, Al Azhar mengajarkan kita untuk bermadzhab dalam fiqih. Untuk merujuk kepada salah satu ulama madzhab dalam memahami fiqih. Dengan demikian lebih kecil peluang kita untuk salah dalam memahami hukum agama.

Jangankan kita yang zaman hidupnya ada rentang waktu sangat jauh dengan zaman kehidupan Rasulullah Saw. Orang-orang dahulu yang jarak waktunya kehidupannya dengan zaman Rasulullah Saw. lebih dekat pun masih saja ada yang salah dalam memahami hukum agama. Oleh karenanya, kita perlu bimbingan para ulama yang garis keilmuannya saling sambung-menyambung hingga Rasulullah Saw. Al Azhar mengajarkan kepada kita untuk memilih salah satu dari madzhab-madzhab fiqih yang ada.

Ada satu ilustrasi dari masa Umar bin Khaththab ra. Ketika itu ada seorang muslim yang minum khamar dan diadukan kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab. Umar pun menegur orang itu, mengapa seorang muslim tapi masih minum khamar? Orang itu menjawab, “Bukankah di dalam Al Quran ada ayat yang berbunyi, “Laisa ‘alallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti junāḥun fīmā ṭa’imū iżā mattaqaw wa āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti”, tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shaleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh”. (QS. Al Maidah [5] : 93)

Orang itu berdalih bahwa bukankah dirinya sudah beriman dan selama ini beramal shaleh, maka boleh bagi dirinya makan dan minum apa saja termasuk khamar. Umar tertegun mendengar ucapan orang itu.

Namun, Abdullah bin Abbas ra. segera menyanggah ucapan orang itu seraya menjelaskan bahwa ayat yang dibacakan tadi bukan begitu pemahaman dan penggunaannya, ayat yang dibacakan tadi itu adalah jawaban atas pertanyaan para sahabat pada masa Rasulullah Saw. yang bertanya kepada Rasul bagaimana tentang nasib orangtua mereka yang meninggal dunia sebelum turun ayat yang mengharamkan khamar.

Karena ayat yang mengharamkan khamar itu tidak turun di masa-masa awal, melainkan turun di masa-masa akhir yaitu pada surat Al Maidah ayat 90. Sementara banyak di antara sahabat yang ketika meninggal dunia belum turun ayat yang mengharamkan khamar.

Artinya mereka masih minum khamar ketika hidup di dunia. Maka, untuk menjawab pertanyaan tersebut, Allah Swt. menurunkan ayat Al Maidah 93, “tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shaleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh..”

Poin pentingnya adalah jika kita semena-mena mengatakan kembali kepada Al Quran dan As Sunnah tanpa memiliki ilmunya, maka kita bisa salah memahaminya. Oleh karena itu, kita selalu butuh bimbingan para ulama, para guru dalam memahami ajaran agama.

Ketiga, akhlak. Al Azhar mendudukan urusan akhlak dalam posisi yang sangat tinggi. Beragama tanpa menjunjung nilai akhlak, maka beragama kita akan kering. Jika hanya halal dan haram saja yang kita urusi, maka beragama kita akan kering. Oleh karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan urusan halal dan haram saja, namun juga urusan bagaimana kita bersikap, bertutur kata. Dalam urusan akhlak, Al Azhar mengikuti ajaran tasawuf amani seperti Imam Ghazali.

Al Azhar membekali hati anak-anak didiknya dengan pemahaman akidah yang bersih dan lurus, membekali akal dengan ilmu hukum agama yang terstuktur dari para ulama besar ilmu fiqih, dan jiwanya dibekali dengan ilmu akhlak dari para ulama tasawuf yang mumpuni. Inilah tiga pilar keilmuan yang diajarkan Al Azhar kepada anak-anak didiknya.

Tiga pilar ini menjadi fondasi bagi seorang pelajar Al Azhar untuk bersikap wasathy, pertengahan. Ciri khas dari pelajar Al Azhar dia tidak terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Ia akan terlebih dahulu memahami persoalan secara menyeluruh dan menyelesaikannya secara menyeluruh pula. Apalagi sampai menyalahkan pendapat orang lain, apalagi sampai mengkafirkan orang lain. Ini bukan ciri Al Azhar. Imam Besar Al Azhar senantiasa mewasiatkan, “Laa nukaffiru ahadan min ahlil qiblah”, jangan mengkafirkan orang yang memiliki kiblat yang sama dengan kita. Terhadap orang yang berbeda pandangan, selama ia masih sama menyembah Allah Swt., mengikuti sunnah Rasulullah Saw., berkiblat ke Ka’bah, maka tidak boleh kita mengkafirkannya.

Inilah beberapa catatan sebagai bekal bagi siapa saja yang bermaksud belajar di Al Azhar atau ingin mengenal lebih dekat Al Azhar. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam bishawab.[]

    

*)Disarikan dari kuliah umum PUSIBA oleh TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, di Jakarta, 30 Desember 2019.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.