Home TGB's Note Pariwisata Halal Sebagai Instrumen Pertumbuhan dan Instrumen Dakwah

Pariwisata Halal Sebagai Instrumen Pertumbuhan dan Instrumen Dakwah

117
0
SHARE

Dr. M. Zainul Majdi, MA

Wasathiyyah.com, Pariwisata adalah sektor yang resilien terhadap kerentanan dan goncangan. Dari 25 juta wisatawan pada 1950, pada 2014 jumlah wisatawan global mencapai 1,1 milyar orang. Padahal dalam kurun waktu 1950 hingga 2014 itu tak terhitung bencana sosial, politik, ekonomi yang melanda dunia.

Dalam konteks Indonesia hal yang sama juga terjadi. Pariwisata tetap berkembang dinamis ditengah rangkaian aksi terorisme, beragam bencana, ketegangan sosial dan fluktuasi ekonomi masyarakat. Kunjungan mancanegara dan perjalanan wisata domestik konstan tumbuh dari tahun ke tahun.

Menarik juga mencermati bahwa bagi generasi milenial saat ini, berwisata adalah bagian dari gaya hidup bahkan simbol status. Berbeda dengan era yang lalu dimana status sosial dicerminkan dari kepemilikan barang mewah, saat ini para milenial menunjukkan eksistensi mereka dengan unggahan foto-foto berwisata di lokasi-lokasi yang eksotis.

Ada beberapa keunggulan sektor pariwisata dibanding yang lain. Besarnya devisa yang dihasilkan.
Penyerapan tenaga kerja yang masif.
Trickle down effect dan multiplier effect ke sektor ekonomi terkait.
Pemanfaatan sumber daya domestik yang mendukung kebijakan ekonomi inklusif.

Dalam konteks pariwisata dan ekonomi , ada hubungan resiprocal causal antara keduanya. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh perkembangan pariwisata (tourism-led economic growth) dan disisi lain pariwisata juga ditopang ekonomi (economic driven tourism).

Hubungan resiprokal itu terbangun karena dua hal. Pertama, pariwisata berdampak pada ekonomi karena dapat mengkreasi lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperbesar devisa dan memperkuat neraca pembayaran. Kedua, pariwisata dapat menjadi stimulus bagi produk tertentu dan mendorong terbentuknya komunitas-komunitas  yang diharapkan dapat menggerakkan ekonomi ke arah yang lebih positif dengan diciptakannya lapangan kerja baru.

Hal diatas membuat Indonesia menjadikan pariwisata sebagai core business atau sektor prioritas. Pada 2019 ditargetkan 20 juta wisatawan dengan devisa 17,6 milyar dolar. Multi strategi yang dilakukan mencakup diantaranya pembangunan 10 destinasi utama selain Bali dan   pengembangan halal tourism.

NTB merupakan provinsi yang menjadi pionir halal tourism di Indonesia. Eksperimen NTB menunjukkan bahwa halal tourism, atau muslim friendly tourism, mampu menjadi instrumen pertumbuhan sekaligus instrumen dakwah.

Sejak diluncurkan awal 2015, halal tourism berperan meningkatkan sustainibilitas pariwisata NTB dengan membuka pasar Timur Tengah dan negara muslim lainnya termasuk tetangga Malaysia. Setelah setahun diluncurkan, kunjungan pelancong Timur Tengah meningkat 190 persen dan Malaysia 90 persen.

Pertumbuhan investasi daerah juga meningkat tajam setelah dimulainya program halal tourism. Menarik melihat data investasi NTB pada tahun 2017 lalu. Investasi asing di sektor pariwisata jauh melebihi investasi dalam negeri. Ada 687 proyek investasi asing dibanding 56 proyek investasi dalam negeri yang terlaksana pada tahun itu. Ini membuktikan sektor pariwisata adalah pendorong kuat terhadap meningkatnya  investasi.

Selain itu, pariwisata halal juga bisa  menjadi instrumen untuk mengintrodusir praktek keislaman rahmatan lilaalamin yang berkembang di Indonesia termasuk Malaysia kepada komunitas global. Saat banyak negara muslim khususnya di Timur Tengah berkubang dalam konflik tak berujung, Islam Asia Tenggara adalah oase.

Dengan pariwisata kita bisa membuka mata wisatawan muslim mancanegara bahkan dunia bahwa Asia Tenggara memiliki karakteristik Islam yang unik. Dengan prinsip washatiyyah (moderasi), Islam mampu terartikulasi dengan baik di dalam masyarakat yang sangat majemuk dan memiliki tingkat keberagaman yang sangat tinggi.

Dengan demikian, pariwisata tak hanya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi namun juga sebagai instrumen diplomasi publik. Kunjungan wisatawan muslim mancanegara membuka ruang interaksi yang memungkinkan mereka belajar dari kultur Islam Asia Tenggara yang damai.

Langkah introducing, increasing positive apreciation, engaging dan influencing yang dikenal dalam diplomasi publik, tak hanya membuahkan pariwisata halal yang maju namun juga penyebaran model berislam Asia Tenggara yang lebih damai.
Wallohu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.