Home TGB's Note Hak Dasar Rakyat dari Negara

Hak Dasar Rakyat dari Negara

387
0
SHARE

Oleh: TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA.

Salam dari Timur, pesan damai untuk Indonesia.

Ketika Nabi Ibrahim As berdo’a, saat beliau meninggalkan anak dan isterinya di tempat yang tandus dan jauh dari keramaian. Nabi Ibrahim mengawali do’anya, dengan rabbij’al haadzal balada aamina wajnubni wa baniyya anna’budal ashnam. Dalam ayat lain, rabbij’al haadza baladan aamina warzuq ahlahu minasy syamaraat.

Dalam dua ayat ini, Nabi Ibrahim As mengawali doa’nya, dengan permintaan kepada Allah agar menjadikan tempat beliau meninggalkan anak dan isterinya itu menjadi negeri yang aman.

Permintaan pertama adalah menjadikan negeri ini menjadi negeri yang aman, baru setelah itu, beliau meminta rezeki; meminta agar keturunannya dapat menunaikan sholat dengan baik, dan permintaan-permintaan lainnya.

Mengapa Nabi Ibrahim As meminta ni’mat aman sebelum yang lainnya?

Kata para ulama, karena ni’mat aman itulah yang memungkinkan kita dalam kehidupan ini melaksanakan semua tugas dan tanggungjawab kita, baik itu berdimensi duniawi maupun berdimensi ukhrawi.

Ada rumusan dari para ulama, al-amaan qablal iimaan. Keamanan itu sebelum keimanan. Ini bukan berarti bahwa keimanan itu diletakan setelah keamanan. Tetapi ini berarti dua hal, kata para ulama.

Pertama, bahwa semua ikhtiar kita untuk mengokohkan nilai keimanan dalam kehidupan ini, tidak boleh merusak dan menghancurkan keamanan yang ada. Itulah sebabnya para ulama ketika berbicara tentang nahi mungkar, mencegah kemungkaran.

Disebutkan bahwa mencegah kemungkaran, tidak boleh melahirkan kemungkaran lain yang lebih besar. Tidak bisa melarang seseorang, tapi dengan cara yang kemudian yang menimbulkan fitnah yang besar; menimbulkan kerusuhan di tengah masyarakat. Nahi mungkar harus dengan cara yang baik, tidak boleh merusakan keamanan kita sebagai suatu masyarakat dan suatu umat.

Yang kedua, makna dari ungkapan ini adalah bahwa berislam kita tidak akan mungkin sempurna di dunia kecuali kalau ada rasa aman.

Bagaimana kita bisa menunaikan sholat Jumat dengan tenang, kalau terjadi situasi huru-hara. Jangankan pergi ke suatu masjid, yang jauh dari rumah kita, keluar selangkah saja, ketika situasi kacau-balau, apalagi situasi perang, tentu tidak memungkinkan.

Keamanan adalah pra-syarat kita mampu menjalankan tugas dan kewajiban kita kepada Allah SWT untuk membangun dunia ini menjadi dunia yang lebih baik.

Anak-anak kita tidak mungkin pergi ke sekolah, kecuali dalam situasi aman. Kita tidak mungkin bisa mencari rezeki, kecuali juga dalam keadaan aman.

Dalam Islam, ketika Rasulullah SAW membangun suatu sistem pemerintahan yang mengayomi semua, salah satu yang menjadi prioritas adalah bagaimana sistem yang ada itu bisa menghadirkan untuk semua.

Setiap negara atau pemerintahan punya tanggungjawab untuk menghadirkan rasa aman kepada rakyatnya.

Dulu seorang guru saya di Cairo pernah menyampaikan, sebenarnya kebutuhan manusia itu sederhana sekali, pertama membutuhkan keamanan; kedua membutuhkan kesejahtraan; dan ketiga kebutuhan keadilan.

Kalau ada kesejahtraan tapi tidak ada kedamaian, itu akan sulit untuk menghadirkan kebaikan. Ada pekerjaan; ada rezeki, tetapi suasana kita sebagai suatu bangsa itu penuh dengan keresahan; ada ketidakpercayaan antara satu sama lainnnya; ada konflik yang ibarat bara di tengah masyarakat, maka betapa kesejahtraan itu hadir, ketika tidak ada kedamaian, rasanya tidak lengkap.

Tugas kita bersama untuk menjaga keamanan dan kedamaian untuk kemakmuran dan kemajuan dunia-akhirat kita.

Semoga Allah SWT menjadikan Negeri yang berkah ini, Negara yang tercinta ini, menjadi Negeri dan Negara yang penuh dengan keamanan dan keimanan.

===

Tulisan rubrik *TGB’Note* di portal www.wasathiyyah.com ini adalah ceramah TGB serial “Salam dari Timur” di JakTV dan ditranskrip dalam bentuk tulisan oleh Udo Yamin Majdi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.