Home TGB's Note Khutbah TGB, Tiga Renungan Anak Bangsa

Khutbah TGB, Tiga Renungan Anak Bangsa

557
0
SHARE

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. M. Zainul Majdi MA menjadi khatib Jumat di Masjid Raya Bandung, Jumat (25/10/2019).

Dalam khutbahnya, TGB membahas makna Quran surat al-Hujarat [49] ayat 13, terutama esensi kata li ta’aarafu.

Di awal khutbahnya, beliau menegaskan bahwa poros keberkahan hidup berada di titik rasa syukur atas segala ni’mat Allah SWT.

Beliau juga berwasiat tentang taqwa. Manfaat taqwa, sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al-A’raaf [7] ayat 17, in ahsantum ahsantum li anfusikum, adalah untuk diri sendiri.

Sebelum menelisik makna surat al-Hujarat [49] ayat 13 itu, mantan gubernur NTB ini, menerangkan keunikan bahasa Arab, satu huruf diganti bisa bertolak belakang.

Misalnya, kata li ta’aarafu diganti li ta’aaroqu, maka makna saling mengenal berubah menjadi saling berselisih dan menafikan.

Berbangsa dan bernegara, menurutnya, adalah anugrah luar biasa dari Allah SWT untuk saling mengenal. Namun apabila salah menyikapi, maka ini akan menjadi petaka saling berselisih.

Doktor jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Universitas al-Azhar Mesir itu mengajak seluruh elemen bangsa untuk merenungkan 3 makna kata li ta’aarafu.

Pertama, membuat dan menjaga kesepakatan atau konsensus bersama (al-‘urf).

Dulu, ketika rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau selain melakukan konsolidasi internal dengan mempersaudarakan sahabat Anshar dan Muhajirin, juga membangun kesepakatan bersama dengan Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin di Madinah. Ini lebih dikenal dengan Piagam Madinah.

Di Indonesia, NKRI dan Pancasila adalah kesepakatan bersama dari para ulama dan founding father yang harus dijaga.

Kedua, Membangun berdasarkan ilmu pengetahuan (al-Ma’rifah dan al-‘Irfan)

Islam tidak bisa dipisahkan dengan ilmu pengetahuan. Yang pertamakali memproklamirkan “pendidikan sepanjang hidup” (long life education) adalah Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi.

Al-ma’rifah adalah pengetahuan kognitif. Sedangkan al-‘Irfan adalah kecerdasan emosional sekaligus spiritual. Dua hal ini, dibangun rasulullah SAW di Madinah sehingga sebuah peradaban yang meruntuhkan dua emperium: Yunani dan Romawi.

Antara al-ma’rifah dan al-‘irfan, keduanya tidak bisa dipisahkan. Tak ada artinya kita semua bergelar tinggi, tapi malah membuat jatuh dan makin jauh dari kesadaran ketuhanan.

Dan ketiga, harus mengakui keberadaan orang lain dan siap menerima kebaikan darimanapun datangnya.

Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)

Di akhir khutbah Jumat, TGB menyimpulkan bahwa umat Islam harus menjaga kesepakatan, membangun etos kerja dan kesiapan mental untuk berdialog, sehingga menjadi manusia bermanfaat, Khairunnaas anfaauhum Lin naas. (YNF/WST)

 

 

 

SHARE
Previous articleAl Ghaffar
Next articleHamba Yang Bersyukur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.