Home TGB's Note Membersihan Hati

Membersihan Hati

309
0
SHARE

Oleh: TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA.

Salam dari Timur, pesan damai untuk Indonesia.

Rasanya, hari-hari ini tanpa kecuali, kita semua umat Islam, –dan juga saya yakin, kita semua sebagai anak bangsa–, kita bersyukur kita telah masuk dalam bulan mulia, bulan suci Ramadhan.

Ada ungkapan yang sering kita dengar ketika Ramadhan mulai tiba, “marhaban ya Ramadhan!” Marhaban itu suatu ungkapan kesuka-citaan. Marhaban dari kata ar-rahbu, artinya kelapangan. Jadi, kita menerima Ramadhan itu, memasukinya dengan kelapangan dada, kesuka-citaan, dan kesyukuran.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa siapa saja yang hatinya bahagia, bersuka-cita, penuh kesyukuran, masuk ke dalam Ramadhan, maka Allah SWT haramkan jasadnya tersentuh oleh api neraka.

Kita bahagia dan syukur, mendapat karunia Ramadhan. Tetapi tentu saja, kesyukuran ini tidak akan besar artinya bagi kita, kecuali kalau kita mampu memanfaatkan waktu yang mulia ini dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana cara kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?

Kita tahu Ramadhan itu adalah kesempatan untuk memperbanyak kebaikan. Suatu kebaikan akan melekat pada diri kita, apabila kita sebelumnya telah berusaha telah untuk membersihkan diri kita sebaik-baiknya.

Para ulama menyampaikan, kalaulah hati seorang manusia itu diibaratkan seperti wadah, maka sebelum wadah ini disi dengan air yang bersih, atau air yang menyegarkan, sebelumnya dia harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang ada. Maka membersihkan hati, atau tazkiyatunnafsi, itu sangat penting.

Kita berjuang di dalam Ramadhan ini agar mendapat keberkahannya dengan terus-menerus membersihkan diri kita.

Kalau di dalam ungkapan Rasulullah SAW, bahwa bisa jadi seorang manusia itu berbuat baik banyak sekali, tetapi kebaikan itu bisa tercukur habis. Apa yang mencukur habis, apa yang melenyapkan kebaikan?

Diantaranya hasad dan dengki.

Kalau kita kontekstualisasikan dengan keadaan kita sekarang, rasanya membersihkan diri atau hati kita, dari kebencian satu sama lain, anak-anak bangsa, adalah sebuah keniscayaan.

Kita tidak mungkin menikamti Ramadhan ini dengan kebencian di dalam dada.

Dulu ada sebuah kisah ketika Rasulullah SAW memuji seseorang bahwa dia adalah ahli surga. Para sahabat penasaran, apa amalan yang membuat orang ini bisa dijamin masuk surga?

Ada seorang sahabat yang menginap di rumah orang tersebut. Semalam, dua malam, dilihat ibadahnya biasa saja. Pada akhirnya sahabat itu bertanya, “saya dengar rasul memuji Anda sebagai penghuni surga, apa yang Anda lakukan? Bermalam-malam saya bersama Anda, ternyata ibadah Anda biasa saja. Bahkan sholat malam saya, lebih banyak dari Anda.”

Apa kata pemuda itu?

Setelah merenung agak lama, dia menjawab, “shaum saya tidak istimewa, sholat tidak banyak, shadaqah saya juga biasa, tapi ada satu amalan yang selalu saya lakukan sebelum tidur, yaitu saya membersihkan hati saya dari segala macam kebencian kepada orang lain, sebelum saya merebahkan kepala di atas tempat tidur, saya tanamkan dalam diri, ‘ya Allah dengan ini saya berikrar kepada-Mu bahwa saya bersihkan hati saya dari segala macam kebencian kepada siapapun’.”

Itulah yg membuat pemuda itu menjadi ahli surga, sebab dia membersihan hatinya dari segala kebencian.

Mari kita nikmati Ramadhan yang penuh berkah ini, dengan tanpa ada kebencian kepada orang lain.

===

Tulisan rubrik TGB’Note di portal www.wasathiyyah.com ini adalah ceramah TGB serial “Salam dari Timur” di JakTV dan ditranskrip dalam bentuk tulisan oleh Udo Yamin Majdi.

SHARE
Previous articleKarakter Pemuda
Next articleRamadan Itu Mengubah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 + ten =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.