Home TGB's Note Pancasila dan NKRI

Pancasila dan NKRI

646
0
SHARE

Oleh. TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA.

Salam dari Timur, pesan damai untuk Indonesia.

Islam mengajarkan kepada kita untuk melihat sesuatu dari subtansinya. Kata ulama, al-i’tibaar bil ma’aany laa bil mabaany, kalau Anda dihadapkan sesuatu, jangan terpukau pada nama, tapi lihat apa yang di balik nama itu.

Sekian puluh tahun yang lalu, tahun 1945, para founding fathers, bapak-bapak bangsa, merumuskan dasar negara, Pancasila. Lima sila dimulai dengan Ketuhanan Yang Maha Esa dan diakhiri Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kalau saya diminta meringkaskan Pancasila dalam satu kalimat, maka saya akan mengatakan bahwa Pancasila adalah kemanusiaan yang berketuhanan. Ada satu sila tentang ketuhanan, dan ada empat sila tentang kemanusiaan. Walaupun sila tentang ketuhanan itu hanya satu, namun dia adalah pondasi dan menjadi ruh yang menjiwai empat sila berikutnya.

Kalau Anda berketuhan yang baik, maka Anda harus membangun hubungan kemanusiaan yang diisi dengan nilai keadilan, dan ada keadaban di sana;

Kalau Anda memiliki nilai ketuhanan yang baik, maka Anda pasti cinta persatuan, Anda cinta pada kekompakan dan kebersamaan;

Kalau Anda memiliki nilai ketuhanan yang baik, maka Anda pasti cinta dengan musyawarah, Anda akan membangun hubungan sosial yang dipenuhi dengan saling mengisi, saling melengkapi;

Kalau Anda cinta pada ketuhanan, maka Anda pasti berjuang, terus-menerus untuk mewujudkan keadilan sosial bagi sesama kita.

Dari konstruksi ini secara sederhana, sesungguhnya Pancasila itu mengandung subtansi yang sangat sesuai dengan ketentuan Islam. Kalau dibahasa al-Qur’ankan, ketuhanan Yang Maha Esa, bisa diambil dari qul huwallaahu ahad;

Kemanusiaan yang adil beradab,itu ada innallaaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan; persatuan Indonesia itu diambil dari wa’tashimu bihablillaah jamii’an wa laa tafarraquu, inna hadza ummatukum ummatan wahidah;

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, itu bisa diambil dari firman Allah, wa syaawirhum fil amri, dan dalam ayat lain, wa amruhum syura bainahum; itulah karakter dari masyarakat Islam, suka bermusyarah, suka berdiskusi, suka menyelesaikan sesuatu dengan konsep, tidak dengan kekerasan;

Ketika kita sampai pada sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, maka di sana bertaburan ayat-ayat Quran dan pesan-pesan Rasulullah SAW yang meminta kita untuk secara kontributif dan nyata, bekerja menghadirkan kesejahteraan, bukan hanya untuk kita melainkan untuk orang-orang di sekitar kita.

Rasulullah SAW pernah menyampaikan satu prinsip, yang pantas untuk kita pedomani dalam kehidupan, khairun naas anfa’uhum linnaas, orang yang terbaik adalah orang yang paling kontributif dan menebarkan kebaikan, tidak untuk dirinya saja, tetapi untuk orang di sekitarnya.

Maka sesungguhnya Pancasila dapat disebut sebagai satu implementasi dari kesadaran, keberagamaan, dan keislaman yang tumbuh di Nusantara.

Kita jaga Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai satu komitmen, selama-lamanya.

Menjaga komitmen bagian dari ketaqwaan. Wal muufuuna bi’ahdihim idza ‘aahaduu. Siapa orang bertaqwa itu? Mereka adalah orang-orang yang menunaikan semua komitmen-komitmen.

Pancasila dan NKRI adalah komitmen kolektif kita sebagai bangsa.

Ya Allah jadikan kami menjadi orang-orang yang kokoh dan teguh melaksanakan komitmen-komitmen kebaikan kami.

===

Tulisan rubrik TGB’Note di portal www.wasathiyyah.com ini adalah ceramah TGB serial “Salam dari Timur” di JakTV dan ditranskrip dalam bentuk tulisan oleh Udo Yamin Majdi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 + 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.