Home TGB's Note Moderasi Islam dalam Demokrasi Indonesia

Moderasi Islam dalam Demokrasi Indonesia

419
0
SHARE

Oleh. TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA.

Salam dari Timur, pesan damai untuk Indonesia tercinta.

Ada satu potongan ayat di dalam Quran, yang sering kita dengar dikutip oleh guru-guru kita, ketika menyampaikan khutbah atau taushiyah kepada umat. Potongan ayat itu berbunyi, fastabiqul khairat, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

Fastabiqul khairat ini sesungguhnya mengandung satu nilai, bagaimana kita meletakan semua praktek berdemokrasi kita di Indonesia. Jadi ketika kita menjadikan demokrasi sebagai suatu sistim di dalam berpolitik dan membangun bangsa, maka seluruh praktek demokrasi itu harus diarahkan untuk fastabiqul khairat. Pertarungan ide dan gagasan.

Kita semua bersaudara, ibarat di dalam satu rumah, yang diisi oleh banyak penghuni, satu sama lain punya kewajiban untuk menghiasi rumah itu dengan apa yang paling baik dari dirinya, sambil pada saat yang sama, juga menghargai penghuni lain yang ada di rumah.

Di dalam kita berdemokrasi, pasti lahir banyak gagasan dan konsep. Kalau di dalam sejarah itu ada isme-isme; ada sosialisme, ada kapitalisme, ada banyak sekali konsep pendekatan dan pemikiran untuk membangun bangsa.

Kalau semuanya kita letakkan dengan fastabiqul khairat, maka kita tidak akan alergi dengan perbedaan. Justru perbedaan itu menjadi satu medium untuk kita saling mengisi dan memperkaya.

Maka dulu Rasulullah SAW selalu memaknakan perbedaan diantara sahabat beliau sebagai jalan untuk kemajuan bersama. Rasul SAW kalau kita perhatikan ada puluhan bahkan ratusan ribu hadits, baik itu ucapan, perbuatan, maupun pengakuan rasul.

Tidak ada di dalam ratusan ribu hadits itu, ungkapan Rasulullah SAW yang menafikan kontribusi dari seorang sahabatnya. Apalagi menyebut sahabatnya dalam kontek yang negatif. Rasul tidak pernah melihat dari sisi negatif, dari orang-orang yang ada bersama beliau. Rasulullah SAW selalu menggali potensi-potensi positif yang ada pada sahabat beliau.

Maka rasul SAW pernah menyampaikan, “siapa saja diantara kalian yang ingin untuk belajar ilmu halal dan haram, maka belajarlah kepada Mu’adz; kalau kalian ingin belajar tentang keberanian, maka belajarlah kepada Umar; kalau kau ingin belajar tentang ketindihan, maka belajarlah pada Utsman; kalau ingin belajar tentang ilmu, belajarlah kepada Ali.”

Ungkapan ini menunjukan bahwa Rasulullah SAW melihat beragam potensi itu, bukan sebagai potensi konflik, tetapi sebagai jalan untuk saling melengkapi dan membangun peradaban yang kuat.

Maka kita bisa saksikan, dalam peradaban Islam yang dibangun oleh Rasulullah SAW semua sahabat dengan latar belakang yang berbeda punya kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi yang terbaik. Inilah esensi dari fastabiqul khairat.

Maka kita kenal dengan ada Bilal ibnu Abi Robah, seorang mantan budak yang terhormat di dalam Islam; ada seorang yang namanya Suheb bin ar-Rumi, bukan orang Arab, tapi dari Romawi, dia juga sahabat yang sangat dihormati, karena ilmunya, pengetahuannya dan kontribusinya; ada Salman al-Farisi, bukan orang Arab, tapi dari Persia, juga dihormati karena kontribusinya yang luar biasa.

Perbedaan bukan sebab untuk kita saling menjauh satu sama lain, tetapi di dalamnya ada hikmah Allah, di situ kekuatan kita sebagai bangsa.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kemampuan untuk mensyukuri semua nikmat perbedaan. Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kesadaran bahwa semua perbedaan sesungguhnya adalah rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT.

Dalam keragaman, ada kekuatan kita.

===

Tulisan rubrik TGB’Note di portal www.wasathiyyah.com ini adalah ceramah TGB serial “Salam dari Timur” di JakTV dan ditranskrip dalam bentuk tulisan oleh Udo Yamin Majdi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.