Home TGB's Note Keharusan Gotong-Royong

Keharusan Gotong-Royong

342
0
SHARE

Oleh. TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA.

Salam dari Timur, pesan damai untuk Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa ada saat Rasulullah SAW yang mulia, bersenandung dengan penuh suka cita, saat itu adalah ketika beliau menggali pondasi dari masjid yang penuh dengan keberkahan, masjid Nabawi yang ada di Madinah.

Rasulullah SAW bersenandung, “Ya Allah tak ada kehidupan yang kekal, yang hakiki selain dari pada kehidupan di akhirat kelak, maka ampuni orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshor.”

Kita tahu bahwa komponen utama, ketika Rasulullah SAW membangun peradaban yang bercahaya di Madinah, adalah kelompok Muhajirin dan Anshar. Keduanya punya latar belakang yang sangat berbeda, kultur mereka berbeda.

Orang-orang Muhajirin, kita tahu, adalah para pedagang yang sangat tangguh. Orang-orang Anshor adalah para petani yang mampu mengolah kebun dengan baik dan menghasilkan komuditas pertanian. Yang satu kultur lebuh terbuka, yang satu kulturnya lebih tertutup. Yang satu kulturnya dagang, dan yang satu kulturnya agraris.

Kedua perbedaan ini, dijalin oleh Rasulullulah SAW dalam satu persaudaraan yg dinamakan al-mu’âkhâh, mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor.

Mempersaudarakan tentu tidak hanya menjalin hubungan emosional, tetapi dari persaudaraan itulah kemudian diciptakan komitmen bersama untuk membangun pondasi-pondasi kebaikan di Madinah.

Maka ketika Allah di dalam Quran surat al-Maidah ayat 2 berfirman, “wa ta’aawanu ‘alal birri wat taqwa, saling tolong-menolonglah kalian di dalam kebajikan dan ketaqwaan”, kita bisa melihat peradaban Madinah yang cemerlang menjadi buah bibir dari seluruh orang yang ada, sekarang menjadi bahan pelajaran bagi banyak orang. Itu sesungguhnya lahir dari semangat kebersamaan dalam kebaikan. Dalam tradisi kita, itulah yang disebut dengan bergotong-royong.

Kalau di Madinah, pondasi kebaikan dengan gotong-royong itu menghasilkan pencapaian luar biasa, maka kita di Indonesia juga, harus mampu merawat dan menjaga tradisi bergotong-royong, tolong-menolong dalam kebaikan. Karena itulah yang akan mengokohkan kita sebagai satu bangsa.

Tidak ada satu kelompok yang sempurna, sebagaimana tidak ada seorang manusia yang sempurna. Kita hadir untuk saling melengkapi, kita hadir untuk saling mengisi, dan dengan bergotong-royong semua potensi kebaikan dari seluruh sisi itu dapat kemudian mengalir kepada satu kemaslahatan bersama.

Tradisi gotong-royong ini dapat kita saksikan pada bulan Ramadhan yang mulia ini. Kita dapat melihat setiap sudut Republik ini, betapa umat Islam dari seluruh lapisan usia, –anak-anak, orang dewasa, dan semuanya– bersuka cita. Di dalam Ramadhan ada kegiatan-kegiatan tadarus, ada kegiatan-kegiatan keagamaan dan pelaksanaannya dilaksanakan dengan bergotong-royong.

Maka gotong-royong, sesungguhnya, tidak hanya berdimensi duniawi, tetapi dia bisa menjadikan kebaikan yang kita lakukan lebih bermanfaat dan dilipatkan pahalanya oleh Allah SWT. Al-barakatu ma’al jama’ah, kebersamaan akan menghadirkan keberkahan.

Semoga kita sebagai satu bangsa, dan juga tentu sebagai umat Islam, di dalam Ramadhan ini kita dapat belajar, bertafakkur, tentang nilai-nilai yang mulia, termasuk diantaranya merawat semangat kebersamaan dalam kebaikan, semangat bergotong royong.

Mari kita berdoa kepada Allah SWT Yang Maha Menyatukan Hati, semoga Dia selalu menyatukan hati kita, anak anak bangsa di dalam komitmen kebaikan. Indonesia yang kita cintai ini, menunggu kontribusi hal-hal baik dari kita semua.

Ya Allah kokoh kebersamaan kami, kokoh kesatuan hati kami, dan jadikan kami menjadi orang-orang yang kokoh dalam persaudaraan.

===
Tulisan rubrik TGB’Note di portal www.wasathiyyah.com ini adalah ceramah TGB serial “Salam dari Timur” di JakTV dan ditranskrip dalam bentuk tulisan oleh Udo Yamin Majdi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + fifteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.