Home TGB's Note Stamina TGB Terjaga Baik, Kok Bisa?

Stamina TGB Terjaga Baik, Kok Bisa?

590
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Di beberapa tempat Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) cabang Indonesia TGB Dr. M Zainul Majdi, MA., kerap terselip pertanyaan, meski jadwal dakwah padat, stamina TGB tetap prima. Bentuk badan tetap slim.

Wajar pertanyaan ini terlontar, selain menempuh jalur udara, biasa TGB harus menempuh lagi jalur darat. Kemudian mengisi tausiah di beberapa lokasi.

“Tuan guru seperti tidak terlihat lelah,” kata Ustad Kahfi Sekretaris PCNU Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat saat melontarkan pertanyaan pada penulis.

Selain terlihat prima, di beberapa tempat, komentar soal badan TGB yang ramping alias slim selalu disampaikan. Tidak terlalu gemuk, juga tidak kurus.

Dari perjalanan bersama TGB, penulis mencoba memberi gambaran dari pandangan mata ataupun keterangan-keterangan Cucu Pahlawan Nasional TGKH Zainuddin Abdul Madjid ini.

Pertama, TGB tetap menjaga kebiasaan berolahraga. Biasa bersepeda hingga ratusan kilometer. Pernah berkeliling Pulau Lombok. Bahkan, hingga ke Pulau Sumbawa. Bersepeda ini aktif dilakukan hingga di luar NTB. Olahraga lain seperti futsal atau sepakbola pun dilakukan.

Selain itu, setiap hari, tetap ada olah tubuh dan olah otot. Usai salat maktubah dan salat sunnah, beberapa kali penulis melihat TGB tengah push up atau meluruskan sendi-sendi di tubuh.

Kedua, lazim disampaikan banyak pakar kesehatan, konsumsi buah dan sayur bisa menopang kesehatan. Saat dakwah TGB tak mengabaikan asupan sayur dan buah. Untuk karbohidrat, biasa mengkonsumsi secukupnya.

Malah malam hari jarang makan karbohidrat. Kalaupun disuguhkan banyak hidangan, porsinya biasa lebih banyak protein yang diambil. Jurnal kesehatan banyak menulis, konsumsi karbohidrat berlebihan memicu timbunan lemak hingga membuat obesitas. Apalagi konsumsi itu dilakukan malam hari.

Ketiga, cara pandangnya selalu positif. Sebagai penghafal Al Quran sekaligus  doktor ahli tafsir, keseharian TGB tak bisa jauh dari nilai-nilai yang terkandung dalam ayat suci. Menghadapi problematika, cara pandangnya acapkali berkebalikan dengan masyarakat umum.

Jika kebanyakan kita dicaci maki  orang, kemudian langsung merespon dengan negatif. Sebaliknya TGB, cenderung menghadapinya dengan santai.

Selalu yang dilontarkannya, ” Jika kita terus mendengarkan tiap perkataan orang. Tidak ada hal baik bisa dilakukan.” Atau, “Jangan membisakan diri kita mengikuti gendang orang lain.”

Penulis pernah membaca, Dokter Suzanne O’Sullivan lulusan Sekolah Kedokteran Dublin memaparkan bagaimana pemikiran, asumsi, dan perasaan, secara misterius, bisa membuat tubuh menderita penyakit. Kalau kita membuka jurnal kesehatan, beberapa menuliskan pengaruh dari pikiran mempengaruhi sampai 90 persen penyakit di tubuh.

Merunut sedikit kebiasaan dari TGB ini, bisa memberi gambaran, untuk menjaga stamina dan tubuh tetap ramping tak selalu membutuhkan biaya besar. Kemauan dan keistiqomahan dalam diri menjadi faktor utama.(WST/YNF/Febrian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.