Home TGB's Note TGB Naik Motor, Pencitraan?

TGB Naik Motor, Pencitraan?

316
0
SHARE
tgb naik motor

Oleh: Udo Yamin Majdi

“Ustadz, waktu TGB ke Bandung dan naik motor, apakah pencitraan?” Tanya seseorang kepada saya.

Saya tersenyum. Image masyarakat sudah terbentuk, kalau ada pemimpin naik motor, maka itu pencitraan.

Tapi tidak dengan TGB. Saya tahu betul, sebelum TGB ke Kota Kembang, panitia tidak ada rencana sama sekali, beliau bermotor atau naik motor.

Malam hari sebelum TGB ke Darut Tauhid, saya bersama teman-teman kumpul di hotel tempat TGB menginap. Semua hal teknis kami bahas.

Malam itu, perkiraan kami, perjalanan dari hotel ke Darut Tauhid, hanya setengah jam, sebab berangkat pagi dan memakai patwal.

Ternyata, di luar dugaan, jalan sempit menuju DT itu macet. Setelah saya di lokasi, dari masyarakat saya mendapatkan info bahwa tanpa ada TGB dan UAS, hanya Ada Gym saja yang datang, jamaah membludak, apalagi tiga orang punya jamaah datang bersamaan.

Ditambah, di daerah itu ada yang melaksanakan pernikahan, sehingga tamu undangan menambah kemacetan.

Saya pun ingat, detik-detik keputusan TGB naik motor.

* * *

“Ustadz Yopi, kita datang saja sangat susah, apalagi nanti pulang. Acara di DT selesai jam sepuluh, sedangkan acara TGB di UPI juga jam sepuluh. Nah, kita cari solusi.” Kata saya kepada teman yang menjadi tim panitia kedatangan TGB ke Bandung.

Kami berpisah. Saya menemani TGB berkuda, lalu mendampi TGB bersama UAS talkshow, dimoderatori oleh As Gym.

Selesai acara, benar dugaan saya. Para jemaah di shaf depan berdiri, ingin bersalaman dan selfi dengan TGB dan UAS. Kalau ini sampai terjadi, maka akan memakan waktu lama.

Untung Sahabat UAS berjumlah banyak, membuat blokade dan langsung memasukan TGB ke jalan khusus di ruangan, tidak melewati jamaah di masjid.

Sesampai di halaman, TGB susah keluar. Lagi-lagi tim Sahabat UAS, membantu TGB dan UAS naik mobil.

Mobil sulit melaju, sebab dikerumuni para jama’ah.

“Ustadz Yopi, gimana neh?” Tanya saya lewat Hp.

Dari sana ada jawaban, “TGB naik motor.”

“Alhamdulillah…” Jawab saya.

Saya yang berada di depan mobil TGB dan UAS gabung dengan ajudan TGB.

“Ustadz, duluan naik motor, nanti TGB kita yang urus.” Kata Pak Dzakir.

Saya naik motor. TGB pun naik motor di belakang saya.

Ketika motor mau melaju, Pak Hanafi, Kasat Lantas Polda Jabar berlari sambil berkata, “Wah, saya tidak kebagian motor.”

Saya langsung peka, saya harus mendahulukan polisi asal Lombok itu, saya berkata, “Pak Hanafi, bapak naik sini aja.”

“Terus, ustadz naik apa?” Tanya beliau di tengah riuh jamaah bertakbir dan mengucapkan TGB for president.

Saya menjawab, “Saya enggak usah dipikirkan Pak. Anak muda bisa jalan kaki.”

Motor yang membawa TGB melaju. Tinggal saya berpikir keras, supaya saya sampai di UPI. Mobil panitia, Herdi dan kawan-kawan, sudah duluan ke sana.

Di tengah kebingungan itu, mobil TGB lewat. Setengah berteriak, “Bang Doddy, saya ikut ya.”

Sopir TGB itu sudah kenal saya. Sebab, berkali-kali saya naik mobil itu bersama TGB. Mobil berhenti.

Saya duduk di kursi tempat biasa TGB duduk. Kemudian saya berkoordinasi dengan semua panitia, terutama panitia di UPI. Setelah berkoordinasi lewat WA, baru saya tahu, ternyata ada panitia, Luthfi Mubarok, tertinggal di DT.

Kami pun melaju ke UPI, meskipun macet.

* * *

Saya pun menjawab pertanyaan orang itu, “Kami diajarkan oleh TGB tentang kejujuran, maka TGB naik motor itu, murni karena kondisi, bukan pencitraan.”

“Oh gitu, ya Ustadz.” Kata orang itu.

Saya pun menceritakan kisah di atas kepada orang itu.

Dan saya menegaskan, photo yang saya posting, semuanya tanpa ada pencitraan, natural, tanpa dibuat-buat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.