Home TGB's Note Kita Azhariyyin, Kita Bersaudara

Kita Azhariyyin, Kita Bersaudara

247
0
SHARE

Oleh: M. Zainul Majdi

Kita, azhariyyin, adalah saudara. Kita belajar dari sumber ilmu yang sama. Kita juga belajar saling mencintai dan menyayangi dari para guru yang sama. Ilmu, adab dan akhlak kita mata airnya sama. Semoga kita selalu mampu menampung kejernihan itu.

Karena bersaudara, kita harus saling menjaga dan membela, bukan saling mengumpat. Kalau ada perbedaan marilah saling bernasehat dengan baik.

Salah satu cara menjaga adalah berusaha menghindarkan sikap dan perilaku yang memojokkan sesama azhary di ruang publik. Itu sebabnya, saat ada deklarasi terkait dukungan kepada Capres tertentu, saya memutuskan OIAAI tidak berkomentar apapun kepada media walaupun banyak yang bertanya. Saya tidak mau menyempitkan ruang bagi sesama Azhary untuk berkiprah di tengah umat. Saya cukupkan tanggapan sekedarnya di grup internal kita ini. Sejujurnya, saya mendoakan semua azhary yang sedang berikhtiar dalam politik, karena bagi kita politik adalah instrumen dakwah.

Mendukung capres tertentu adalah hak masing-masing. Saya yakin setiap dukungan adalah hasil penalaran imani akhlaqi yang cukup. Mudah-mudahan tercatat sebagai amal shalih. Namun jangan sampai jatuh pada ta’assub buta, mendukung sambil tak putus menghujat calon lain dan saudara sesama azhary yang mendukung calon itu.

Ini bukan “perang badar” apalagi “armageddon”. Ini “fastabiqul khairaat”. Berfastabiqul khairaat artinya mengasumsikan setiap pihak memiliki “khairat”, kebaikan masing-masing, yang dikontestasikan. Itulah visi misi yang bisa kita uji dengan perangkat obyektivitas dan subyektivitas kita. Adapun kekurangan masing-masing calon pasti ada, karena mereka bukan ideal apalagi maksum tak punya salah dan dosa. Kitapun belum tentu lebih baik dari mereka.

Maka dalam bab siyasah, porosnya adalah “al-maslahah”, kemaslahatan umum, bukan semata kelebihan atau kekurangan pribadi sang pemimpin atau calon pemimpin. Bahkan ekstremnya, bisa saja, seseorang fasik secara individual namun dia punya kapasitas menghadirkan kemaslahatan umum. Maka dia valid, sah dan bisa menjadi pemimpin. Sejarah Islam menjadi saksi hal itu.

Jangankan kepemimpinan sosial, berjamaah shalat pun dimungkinkan menjadi makmum seorang imam yang fasik. Dengan satu catatan, kesepakatan para ulama, bahwa yang disebut fasik adalah seseorang yang nyata-nyata melakukan perbuatan dosa besar, bukan kefasikan berdasar dugaan atau tudingan apalagi hoaks dan fitnah.

Kedua calon presiden kita telah dan sedang menjadi korban hoaks dan fitnah.
Kita tidak boleh menjadi bagian dari penyebar hoaks dan fitnah. Yang sangat saya sayangkan, di beberapa group alumni yang saya ikuti, kita para azhary ternyata tak kalah semangat menyebarkan berita bohong yang tak jarang menyangkut marwah seseorang. Hanya karena kita tidak suka dengan orang itu, seorang calon presiden. Bahkan fitnah terhadap sesama azhary pun kita ikut sebarkan seperti yang saya alami saat sebuah majalah memfitnah saya. Dimana ukhuwwah, muru’ah dan tabayyun?

Ittaqulloh yaa Ikhwah. Bagaimana wajah kita berjumpa dengan ALLOH kelak, kalau ternyata urusan politik ini merusak amal-amal kita. Hangus terbakar gegara hawa nafsu dukung-mendukung. Betapa meruginya kita. Marilah kita selalu siapkan ruang di hati kita untuk menerima perbedaan saudara kita.

Dunia ini kecil, perjumpaan kita akan intens saat ini dan kelak, karena kita semua berada di ruang yang sama yaitu perkhidmatan dakwah. Jangan sampai kelak kita malu hati, salah tingkah, kikuk saat jumpa, enggan silaturahim karena residu perbuatan kita di hari-hari ini. Ukhuwah azhariyah kita terlalu mahal untuk rusak karena politik. Khosaroh yaa Ikhwah, khosaroh…

Wallohu a’lam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.