Home TGB's Note Pesan TGB kepada Santri Ponpes Hasan Jufri Bawean

Pesan TGB kepada Santri Ponpes Hasan Jufri Bawean

95
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Bawean–Setelah mengisi Tabligh Akbar Milad Perak Masjid Syamsul ‘Ulum Telkom University bakda Jum’at di Bandung, Tuan Guru Bajang (TGB), Dr. M. Zainul Majdi, MA., langsung ke Surabaya dan selanjutnya ke Gresik, lalu menyeberang ke pulau Bawean untuk menghadiri acara Wisuda ke-5 STAI Hasan Jufri Bawean.

Selepas shalat Maghrib kemaren (Sabtu, 5/10) Gus Umam –panggilan dari KH. Muhammad Najahul Umam, Lc., putra almarhum KH. Bajuri Yusuf—meminta TGB untuk memberikan taushiyah dan motivasi kepada para santriwan dan satriwati: tingkat MTs 550 orang, MA 500 orang, SMK 200 orang dan mahasiswa 350 orang.

Dalam taushiyah tersebut, TGB menyampaikan 3 pedoman bagi penuntut ilmu.

“Yang pertama,” kata ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, “thalabul ilmi haruslah mendahulukan adab sebelum ilmu.”

TGB menceritakan kakek –Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Majid– ketika hendak belajar di Masjidil Haram, beliau ditanya oleh Syeikhnya. Apakah Kyai Zainuddin muda sudah mengkhatamkan kitab Ta’limul Muta’allim? Beliau menjawab, “belum.”

Sang Syeikh menganjurkan kepada Zainuddin muda untuk kembali. Belum boleh mengikuti majelis. Setelah Zainuddin muda khatam kitab Ta’limul Muta’allim, barulah beliau diperbolehkan mengikuti majelis Sang Syeikh. Hal ini supaya seorang thalabul ilmi haruslah memiliki adab yang luhur terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu.

“Itu tradisi Ulama’ kita. Karena dari situlah asal mula keberkahan ilmu,” ucap TGB.

Yang kedua, menurut TGB, dalam menuntut ilmu,  harus mempunyai langkah dan proses.

“Ikutilah prosesnya secara tertib,” kata TGB. “Dalam hal beribadah, entah itu wudhu, shalat, haji, pasti ada step-stepnya. Dalam wudhu misalnya, kita tak boleh membasuh kaki terlebih dahulu. Karena urutan kaki belakangan. Ketertiban aturan seperti itu pantang dilanggar. Menuntut ilmu juga demikian. Kita mesti harus tahu, perkara apa yang mesti kita pelajari terlebih dahulu. Ulama kita, dalam menyusun kitab Fiqh, mendahulukan bab bersuci sebelum yang lainnya. Karena, bersuci merupakan pokok utama sebelum kita melaksanakan jenis ibadah yang lain.”

Yang ketiga, kata TGB, harus meneladani sifat baik dari leluhur.

“Leluhur masyarakat Bawean adalah para pemberani. Mereka menyebrangi lautan nun jauh di sana untuk merantau, berdakwah, mencari rizki. Keberanian itu haruslah tertanam pada pribadi seorang santri. Santri haruslah berani dan mampu menaklukkan dirinya sendiri. Itu yang pertama. Lalu santri juga harus berani mengorbankan waktu, energi dan tenaganya dalam rangka tholabul ilmi,” pesan TGB kepada para santri Bawean. (WST/YNF/HK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.