Home TGB's Note TGB: Ngaji Kitab dan Pengajian Umum Sama Pentingnya

TGB: Ngaji Kitab dan Pengajian Umum Sama Pentingnya

199
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Lombok – Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia TGB Dr. Zainul Majdi MA., ikut menanggapi “curhat Gus Baha”. Menurut beliau, kedua pendekatan sama pentingnya. Keduanya saling melengkapi, bukan menafikan.

Tanggal 23 Januari 2020 lalu, transkrip cerama berjudul “Curhat Gus Baha’: Kembalilah Ke Tradisi Ulama, Indonesia Itu Sekarang Jadi Kiblat.” Tulisan ini melanglang-buana di medsos. Tentu saja pro-kotra, termasuk di group WA beranggotakan alumni Al-Azhar Mesir.

“Menurut saya, kedua pendekatan sama pentingnya. Ngaji kitab ala Gus Baha penting. Pengajian umum juga perlu.” Kata TGB saat merespon postingan Editorial Portal Wasathiyyah berjudul “Bukan Hanya Kegelisahan Gus Baha.”

Lebih lanjut, doktor tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Cairo itu menegaskan bahwa objek atau peserta Ngaji Kitab dan Pengajian Umum memang berbeda. Yang pertama khusus para ulama mematang ilmu, sedangkan yang kedua untuk masyarakat umum. Ngaji kitab juga boleh untuk masyarakat umum dengan kadar yang disesuaikan.

“Ngaji kitab itu wajib. Di majelis khusus para ulama untuk mematangkan ilmu, saling mengisi dan merawat sanad. Ngaji kitab juga untuk masyarakat umum dengan kadar yg disesuaikan. Pengajian umum tidak kalah pentingnya, karena banyak umat yang tidak terbiasa mengaji kitab. Yang terpenting menurut saya adalah substansi. Dalam pengajian kitab, substansi kekinian bisa diselipkan. Dalam pengajian umum, nalar kitab bisa diuraikan. Kedua pendekatan saling melengkapi, bukan menafikan.” Tegas mantan Gubernur NTB dua periode yang tidak pernah meninggalkan dakwah keliling di sela-sela kesibukannya.

TGB pun menceritakan tentang kakek beliau, Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Keliling dari kampung ke kampung dari pagi hingga petang memberi pengajian umum. Setiap Jumat Maulana Syekh, kata TGB, mengajar Ihya di Al-Abror untuk santri dan masyarakat. Setiap Ahad pagi mengajar Bukhari untuk Thullab Ma’had. Bahkan sampai akhir 70-an, Beliau mengajar Al-Futuhaatul Makkiyyah untuk para masyayikh. Tertutup. Di loteng Mu’allimin.

“Saya ingat, Beliau mengajar untuk mengucapkan salam yang benar sampai tiga tahun lamanya. Padahal kealiman Beliau luar biasa. Beliau satu-satunya lulusan Madrasah Shaulatiyyab yang ijazahnya ditulis tangan dan diberi bintang karena semua pelajaran mendapat nilai terbaik.” Cerita TGB.

Syekh Salim Ramatullah, lanjut, TGB mengatakan,

ما يلزم ان يكون للصولتية طلاب كثير يكفي واحد و لكن مثل زين الدين

Syekh Sayyid Amin Al-Kutbi menulis syair memuji Beliau :

لله زين الدين في فضله #في مجده السامي و في نبله له يد بيضاء دلت على #جوهرة المكنون في أصله

له تآليف كزهر الربا#قد ضمت الشكل إلى شكله

في ساحة العلم له معهد#لا يبرح الطلاب في ظله

Dan seterusnya.

Di akhir ceritanya, TGB menulis, “Menurut saya, ketika para masyayikh yang alim membuka pengajian umum, itu semacam

نزول الى مراتب الأمة تلبية لرغبتهم و شفقة لهم

رحمه الله و رحم علماءنا رحمة واسعة

Komentar TGB itu mendapatkan sambutan baik dari sahabat-sahabat TGB, para alumni Universitas Al-Azhar lintas generasi. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.