Home TGB's Note Keharusan Gotong Royong

Keharusan Gotong Royong

681
0
SHARE
Keharusan Gotong Royong.

Sejarah mencatat bahwa ada saat Rasulullah saw yang mulia bersenandung dengan penuh suka cita. Saat itu, ketika beliau menggali fondasi dari masjid yang penuh dengan keberkahan, masjid Nabawi yang ada di Madinah. Rasulullah saw bersenandung, Allahumma laa ‘iisya illal ‘iisyal aakhirah faghfiril anshoro wal muhajiroh, Yaa Allah tak ada kehidupan yang kekal, yang hakiki, selain daripada kehidupan di akihrat kelak, maka ampunilah orang-orang Anshor dan orang-orang Muhajirin.

Kita tahu bahwa komponen utama ketika Rasulullah saw membangun peradaban yang bercahaya di Madinah adalah kelompok Muhajirin dan Anshor. Keduanya punya latar belakang yang sangat berbeda. Kultur mereka berbeda. Orang-orang Muhajirin adalah para pedagang yang sangat tangguh. Orang-orang Anshor adalah para petani yang mampu mengolah kebun dengan baik dan menghasilkan komoditas pertanian. Yang satu, kulturnya lebih terbuka. Dan, yang satu, kulturnya lebih tertutup. Yang satu kulturnya pedagang, dan yang satu kulturnya adalah agraris. Kedua perbedaan ini dijalin oleh Rasulullah saw dalam satu persaudaraan yang dinamakan al-mu`ahad, mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor.

Mempersaudarakan, tentu tidak hanya sekadar untuk menjalin hubungan emosional, tetapi dari persaudaraan itulah kemudian diciptakan komitmen bersama untuk membangun fondasi-fondasi kebaikan di Madinah. Maka, ketika Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah, “wa ta’aawanu alal birri wa taqwaa”, saling tolong-menolonglah kalian di dalam kebajikan dan ketakwaan. Kita bisa melihat peradaban Madinah yang cemerlang menjadi buah bibir dari seluruh orang yang ada sekarang, menjadi bahan pelajaran bagi banyak orang, itu sesungguhnya lahir dari semangat kebersamaan dalam kebaikan.

Dalam tradisi kita, itulah yang disebut dengan bergotong-royong. Kalau di Madinah, fondasi kebaikan dengan gotong-royong itu menghasilkan yang luar biasa, maka kita di Indonesia juga harus mampu merawat dan menjaga tradisi bergotong-royong, tolong-menolong dalam kebaikan. Karena itulah yang akan mengokohkan kita sebagai satu bangsa. Tidak ada satu kelompok yang sempurna sebagaimana tidak ada manusia yang sempurna, kita hadir untuk saling melengkapi, kita hadir untuk saling mengisi. Dan dengan bergotong royong, semua potensi kebaikan dari seluruh sisi itu akan mengalir kepada satu kemaslahatan bersama.

Salah satu tradisi gotong-royong ini juga dapat kita saksikan pada bulan Ramadhan yang mulia, kita bisa melihat di setiap sudut republik ini, betapa umat Islam dari seluruh lapisan usia, anak-anak, orang dewasa, dan semuanya bersuka cita. Di dalam Ramadhan, ada kegiatan tadarus, ada kegiatan-kegiatan keagamaan, dan pelaksanaannya dilaksanakan dengan bergotong-royong.

Maka, gotong-royong sesungguhnya tidak hanya berdimensi duniawi, tetapi dia bisa menjadikan kebaikan yang kita lakukan itu lebih bermanfaat dan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Albarakatu ma’al jama’ah. Keberkahahan itu dengan berjamaah.

TGB M. Zainul Majdi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.