Home Syubhat Pemikiran Kacaunya Timbangan Prioritas pada Umat

Kacaunya Timbangan Prioritas pada Umat

179
0
SHARE
Kacaunya Timbangan Prioritas pada Umat

Apabila kita memperhatikan kehidupan kita dari berbagai sisinya –baik dari segi material maupun spiritual, dari segi pemikiran, sosial, ekonomi, politik ataupun yang lainnya– maka kita akan menemukan bahwa timbangan prioritas pada umat sudah tidak seimbang lagi.

Kita dapat menemukan di setiap negara Arab dan Islam berbagai perbedaan yang sangat dahsyat, yaitu perkara-perkara yang berkenaan dengan dunia seni dan hiburan senantiasa diprioritaskan dan didahulukan atas persoalan yang menyangkut ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dalam aktivitas pemudanya kita menemukan bahwa perhatian terhadap olahraga lebih diutamakan atas olah akal pikiran, sehingga makna pembinaan remaja itu lebih berat kepada pembinaan sisi jasmaniah mereka dan bukan pada sisi yang lainnya. Lalu, apakah manusia itu hanya badan saja, akal pikiran saja, ataukah jiwa saja?

Mungkin di antara kita ada yang mengenal kasidah Abu al-Fath al-Bisti yang sangat terkenal. Yaitu puisi (qashidah) berikut ini:
“Wahai orang yang menjadi budak badan, sampai kapan engkau hendak mempersembahian perkhidmatan kepadanya. Apakah engkau hendak memperoleh keuntungan dari sesuatu yang mengandung kerugian? Berkhidmatlah pula kepada jiwa, dan carilah berbagai keutamaan padanya, Karena engkau dianggap sebagai manusia itu dengan jiwa dan bukan dengan badan”

Zuhair ibn Abi Salma dalam Mu’allaqat-nya mengatakan:
“Lidah seorang pemuda itu setengah harga dirinya, dan setengah lagi adalah hatinya. Jika keduanya tidak ada pada dirinya, maka dia tiada lain hanya segumpal daging dan darah.”

Akan tetapi, kita sekarang ini menyaksikan bahwa manusia dianggap sebagai manusia dengan badan dan otot-ototnya, sebelum menimbang segala sesuatunya. Sebagian dari kita, terkadang perhatiannya terhadap perbincangan di seputar kontrak bursa jual-beli bintang sepak bola. Harga pemain semakin meninggi bila ada tawar-menawar antara beberapa klub sepak bola hingga mencapai jutaan dollar.

Jarang sekali mereka yang mengikuti perkembangan dunia olahraga yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hanya menumpukan perhatian terhadap pertandingan olahraga, khususnya sepak bola yang hanya dimainkan beberapa orang, sedangkan yang lainnya hanya menjadi penonton. Hingga pada akhirnya, bintang masyarakat, dan nama mereka yang paling cemerlang bukanlah ulama atau ilmuwan, bukan pemikir atau juru da’wah; akan tetapi mereka adalah apa yang kita sebut sekarang dengan para aktor dan aktris, pemain sepak bola, dan sebagainya.

Surat kabar dan majalah, televisi dan radio, hanya memperbincangkan kehidupan (gosip), tingkah laku, popularitas, petualangan, dan berita di sekitar mereka, walaupun tidak berharga. Sedangkan orang-orang selain mereka tidak pernah diliput, dan bahkan hampir dikesampingkan atau dilupakan. Apabila ada seorang seniman yang meninggal dunia, seluruh dunia gempar karena kematiannya, dan semua surat kabar berbicara tentang kematiannya. Namun apabila ada seorang ulama, ilmuwan, atau seorang profesor yang meninggal dunia, seakan-akan tidak ada seorang pun yang membicarakannya.

Kalau dilihat dari segi material, perhatian mereka kepada dunia olahraga dan seni memakan biaya yang sangat tinggi; yaitu untuk membiayai publikasi, sarana, dan kebutuhan lainnya. Mengapa semua itu bisa terjadi? Padahal tidak jarang pertandingan sepak bola mengakibatkan permusuhan, perusakan, dan kerusuhan hingga memakan korban.

Sementara itu, pada saat yang sama, lapangan dunia pendidikan, kesehatan, agama, dan perkhidmatan umum, sangat sedikit mendapat dukungan dana; dengan alasan tidak mampu atau untuk melakukan penghematan, terutama apabila ada sebagian orang yang meminta kepada mereka sumbangan untuk melakukan peningkatan sumber daya manusia dalam rangka menghadapi perkembangan zaman.

Persoalannya adalah seperti yang dikatakan orang: “Penghematan di satu sisi, tetapi di sisi lain terjadi pemborosan”; sebagaimana yang pernah dikatakan Ibn al-Muqaffa,: “Aku tidak melihat suatu pemborosan terjadi kecuali di sampingnya ada hak yang dirampas oleh orang yang melakukan pemborosan itu.” Atau melalui istilah yang populer disebut zero sum game.

Kesimpulan:
Kesalahan berpikir atau logical fallacy dalam perkembangan umat manusia semakin kuat menjadi sebuah nilai kebenaran. Praktik kehidupan sehari-hari lebih menekankan kemenangan daripada kebenaran. Kemenangan untuk mendapatkan sesuatu yang dilandasi oleh kompetensi yang salah tanpa memperhatikan keseimbangan lahir dan bathin, lingkungan dan masyarakat, serta dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sangat diperlukannya pemahaman prioritas dalam kehidupan umat manusia untuk keberlangsungan bersama secara seimbang. Mana yang harus didahulukan, dan mana yang harus diakhirkan. Kami tidak menyalahkan nilai-niali dari olahraga dan bisnis. Hanya prioritas yang kami tinjau sebagai bagian dari proses pengembangan sumber daya manusia secara tepat dan benar.
Wallahu ‘alamu bishowab.

*Artikel ini disunting dan diadaptasi dari Kebutuhan Umat Kita Sekarang akan Fikih Prioritas, Bab I.B. Fikih Prioritas, Dr. Yusuf Al Qardhawy. Robbani Press, Jakarta, Cetakan pertama, Rajab 1416 H/Desember 1996 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.