Home Fatwa Fatwa Dewan Ulama Senior Al-Azhar Mesir tentang Ketentuan Shalat ‘Ied Saat Virus...

Fatwa Dewan Ulama Senior Al-Azhar Mesir tentang Ketentuan Shalat ‘Ied Saat Virus Covid-19

185
0
SHARE
Grand Syaikh Al Azhar Al Syarif, Prof. Dr. Ahmad Al Thayyeb.

Wasathiyyah.com, Cairo–Dewan Ulama Senior Al-Azhar Merilis Pernyataan tentang Ketentuan Shalat ‘Ied di Tengah Kondisi Berlangsungnya Penyebaran Virus Corona, dan menegaskan:

– Diperbolehkan Shalat ‘Ied di Rumah dalam Rangka Tindakan Pencegahan Penyebaran Epidemi Corona.

– Tidak Disyaratkan Adanya Khotbah untuk Shalat ‘Ied jika Seseorang Shalat bersama Keluarganya di Rumah.

– Waktu Shalat ‘Ied dimulai Sejak Dua Puluh Menit Setelah Matahari Terbit (Syuruk) Hingga Dua Puluh Menit Sebelum Azan Zhuhur.

Didorong oleh rasa tanggung-jawab Syariat dan kewajiban keagamaannya, Dewan Ulama Senior Al-Azhar yang dipimpin oleh Grand Syekh Prof. Dr. Ahmad Al-Thayyib, Syekh Al-Azhar Al-Syarif, pada hari Ahad (17/5), mengeluarkan sebuah pernyataan bagi kaum muslimin di seluruh dunia mengenai ketentuan hukum berkaitan dengan Shalat ‘Ied di masa berlangsungnya penyebaran virus Covid-19.

Dalam rilisnya, Dewan Ulama Senior mengatakan: dibolehkan melakukan Shalat Idul Fitri di rumah, dengan tata-cara Shalat ‘Ied (sebagaimana biasanya). Hal itu karena adanya uzur yang menghalangi untuk melakukannya di masjid atau di tanah lapang. Dan boleh juga seseorang melakukan Shalat ‘Ied berjamaah dengan keluarganya di rumah, sebagaimana dia boleh melakukan shalat sendiri. Hal ini karena di antara tujuan-tujuan Syariat Islam (Maqashid Syari’ah) terbesar adalah penjagaan terhadap jiwa, melindunginya dan memeliharanya dari segala bahaya dan mudarat.

Dewan Ulama Senior menjelaskan, bahwa tidak diharuskan melakukan Khotbah untuk Shalat ‘Ied, maka jika seseorang shalat ‘Ied dengan keluarganya di rumah, dia cukup melakukan shalat saja tanpa khotbah. Dewan Ulama Senior turut menekankan, jika seorang muslim melakukan Shalat ‘Ied sendirian atau berjamaah dengan keluarganya di rumah, maka dia melaksanakannya dua rakaat dengan semua takbir tambahan; adapun jumlah takbir tambahan adalah tujuh kali pada rakaat pertama setelah Takbiratul Ihram, dan lima kali pada rakaat kedua setelah takbir bangkit ke rakaat kedua. Dewan Ulama Senior juga menambahkan, bahwa waktu Shalat ‘Ied sama dengan waktu Shalat Dhuha, yaitu dimulai dari dua puluh menit setelah terbitnya matahari (syuruk), hingga dua puluh menit sebelum Azan Zhuhur. Jika waktu Zhuhur telah masuk, maka Shalat ‘Ied tidak bisa dilaksanakan, karena waktunya telah lewat.

Dewan Ulama Senior menyerukan kepada umat Islam di Timur dan Barat, untuk merendahkan diri ke hadapan Allah di hari-hari penuh berkah ini dengan berdoa agar Ia Mengangkat epidemi yang menimpa umat manusia ini, dan agar mereka bergegas berbuat kebaikan, memperbanyak sedekah serta membantu orang sakit dan yang membutuhkan, untuk meringankan beban mereka yang terdampak oleh epidemi ini, serta berdoa kepada Allah agar segera mengangkat epidemi ini dari semua umat manusia, serta menjaga negeri-negeri kita dan semua umat manusia dari epidemi ini, juga dari semua penyakit dan penderitaan.

Berikut adalah teks dari rilis pernyataan tersebut:

Alhamdulillah, shalawat dan salam teruntuk Baginda Rasulullah.

Adapun selanjutnya:

Dalam kondisi terus berlangsungnya penyebaran penyakit menular dari virus Corona (Covid-19), dan dengan kepastian informasi medis bahwa bahaya sebenarnya terletak pada kemudahan dan cepatnya penyebaran virus tersebut, dan bahwa perkumpulan massa merupakan penyebab langsung terjadinya infeksi dari epidemi berbahaya ini; dan bahwa Syariat Islam telah datang untuk mewujudkan kemaslahatan bagi para hamba di dunia dan akhirat, serta menolak segala mafsadat atas mereka; juga karena di antara maksud dari Syariat Islam (Maqashid Syari’ah) yang terbesar adalah untuk menjaga jiwa manusia, melindungi dan memeliharanya dari segala bahaya dan kerusakan; dan karena epidemi global yang telah menimpa umat manusia sudah masuk kategori “mendesak” yang mengharuskan adanya keringanan (rukhsah) pada beberapa kewajiban agama untuk menghindari bahaya penyebarannya. Karena hal-hal itulah, ketentuan darurat ini diterapkan dalam pelaksanaan Shalat ‘Ied, dan dikarenakan berlangsungnya penutupan sementara masjid-masjid, pelarangan berbagai perkumpulan, dan karena sulitnya melakukan kontrol dan tindakan pencegahan di tempat-tempat shalat dan pelataran yang termasuk tempat terbuka, disebabkan bahayanya yang terus ada; maka Dewan Ulama Senior —bertolak dari tanggung-jawab keagamaannya— menyampaikan kepada semua pemangku kebijakan di seluruh dunia, bahwa Shalat Idul Fitri Mubarak boleh dilakukan di rumah, dengan tata cara sebagaimana Shalat ‘Ied dilakukan. Hal itu karena adanya Uzur yang menghalanginya untuk dilaksanakan di masjid atau di tempat terbuka. Seseorang boleh melakukan Shalat ‘Ied berjamaah bersama keluarganya di rumah dan boleh juga shalat sendirian; sesuai dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Ubaidillah bin Abu Bakar bin Anas bin Malik, pembantu Rasulullah Saw. yang berkata:

«كان أنَسٌ إذا فاتَته صلاةُ العيدِ مَعَ الإمامِ جَمَعَ أهلَه فصلَّى بهِم مِثلَ صلاةِ الإمامِ في العيدِ».

“Anas Ra. jika ketinggalan Shalat ‘Ied bersama imam, maka dia mengumpulkan keluarganya dan shalat bersama mereka seperti shalat seorang imam dalam Shalat ‘Ied”.

Dan perlu kami sampaikan beberapa hal:

• Waktu Shalat ‘Ied adalah waktu Shalat Dhuha, dimulai dari dua puluh menit setelah terbit matahari hingga dua puluh menit sebelum Azan Zhuhur. Jika waktu Zhuhur telah masuk, maka tidak ada lagi Shalat ‘Ied; karena waktunya sudah lewat. Al-Nawawi berkata: “Maka jika dia tertinggal shalat ‘Ied bersama imam, dia shalat sendiri selama matahari pada hari ‘Ied belum tergelincir. Adapun siapa yang belum shalat hingga tergelincirnya matahari, maka dia sudah melewatkannya (tertinggal).”

• Jika seorang muslim melaksanakan Shalat ‘Ied sendirian atau berjamaah dengan keluarganya di rumah, maka dia shalat dua rakaat berikut takbir-takbir tambahannya. Adapun jumlah takbir tambahan adalah: tujuh kali pada rakaat pertama setelah Takbiratul Ihram, dan lima kali pada rakaat kedua setelah takbir bangkit ke rakaat kedua; sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dari Hadits Aisyah Ra. bahwa Rasulullah Saw. bertakbir dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha pada rakaat pertama sebanyak tujuh takbir dan pada rakaat kedua sebanyak lima takbir.

• Khotbah tidak disyaratkan untuk Shalat ‘Ied jika seseorang melakukan shalat dengan keluarganya di rumah, maka dia bisa mencukupkan dengan shalat saja tanpa melakukan khotbah.

Dan —terakhir— Dewan Ulama Senior Al-Azhar menyeru umat Islam di Timur dan Barat untuk merendahkan diri kepada Allah di hari-hari penuh berkah ini dengan berdoa agar epidemi yang menimpa manusia ini segera diangkat, dan agar umat Islam bersegera melakukan berbagai kebaikan dan memperbanyak sedekah serta membantu orang-orang sakit dan yang membutuhkan pertolongan, guna meringankan dampak dari epidemi yang menimpa mereka.

Kita berdoa kepada Allah agar Ia Mengangkat epidemi ini dari seluruh umat manusia, Menjaga negeri-negeri kita dan semua manusia dari epidemi ini, serta —Menjauhkan manusia dari— segala bentuk penyakit dan penderitaan. (WST/YNF/Pusat Terjemah Al-Azhar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.