Home Fatwa Prinsip Moderasi dalam Islam

Prinsip Moderasi dalam Islam

97
0
SHARE

Oleh : Al Azhar Observatory for Combating Extrimism

Moderasi adalah salah satu nilai utama yang dikembangkan oleh Islam. Ini adalah salah satu tujuan dari syariah yang datang untuk menebarkannya dalam kehidupan umat Islam. Seperti Ibn Ashur mengatakan, “Moderasi adalah tujuan pertama dan terpenting dari syari’ah.”[1] Konsep moderasi Islam didasarkan pada makna toleransi, kesederhanaan, dan keadilan. Pentingnya moderasi adalah bahwa ia melambangkan posisi antara dua ekstrem yang berlebihan (ifrat) dan kelalaian (tafrit); dengan demikian ini merupakan tulang punggung dari semua kualitas kebajikan.

Konsep moderasi memiliki banyak manifestasi. Ini terkait dengan cara seorang Muslim berurusan dengan Muslim lain, dan juga cara dia berurusan dengan non-Muslim. Di sini, di artikel ini, kita akan menguraikan jenis kedua melalui pengupasan filsafat Islam dalam hal ini, – filsafat yang sebenarnya didasarkan pada lebih dari satu prinsip, sebagai berikut:

Sifat Keanekaragaman

Allah telah menciptakan manusia yang berbeda satu sama lain. Mereka berbeda dalam bahasa, warna kulit, ras, dll. Al-Quran menyatakan, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar Rumm [30]: 22) 

Jadi, Islam menyajikan ini sebagai filosofi penciptaan, dan tidak pernah dapat dipercaya bahwa Allah memerintahkan kita untuk saling membenci karena perbedaan ini. Allah sepenuhnya mampu menciptakan semua manusia dengan satu iman, karena Dia adalah Tuhan dari seluruh alam dan Dia sepenuhnya mampu melakukan segala yang Dia kehendaki. Namun, Dia, Yang Maha Tinggi, memutuskan untuk memberi manusia kebebasan untuk memilih iman untuk diyakini. Al-Quran mengklarifikasi hal ini, dengan mengatakan, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud [11]: 118)

Ta’aruf (Saling Mengenal)

Berdasarkan prinsip pertama, pertanyaan logis yang mengikutinya adalah: apa tujuan perbedaan itu? Al Quran menjawab pertanyaan ini dengan jelas dan langsung ketika berkata, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat [49] : 13) 

Untuk memahami dengan baik implikasi dan pentingnya prinsip ta’aruf ayat tersebut, adalah baik untuk melihat ke dalam surah (Al Hujurat) secara keseluruhan. Surat itu menyajikan serangkaian moral yang melindungi masyarakat. Ini dimulai dengan menyoroti etika berurusan dengan Nabi Saw. Kemudian, menyajikan etika dan aturan yang melindungi komunitas Muslim terhadap gosip, perselisihan, penyakit sosial, dll.

Oleh karena itu, sangat cocok dalam suasana ini bahwa surah ini menyajikan aturan tentang hubungan antara komunitas Muslim dan komunitas lain, yang merupakan prinsip saling mengenal.

Keadilan dalam Berurusan dengan Orang Lain

Berdasarkan fakta bahwa kita semua adalah makhluk Allah, dan Allah adalah Yang  Maha Adil, maka kita wajib saling memperlakukan manusia secara adil. Bahkan jika ada semacam perselisihan dengan orang lain, seseorang tidak diizinkan untuk mengabaikan prinsip keadilan ini. Al-Quran menetapkan aturan ini dengan jelas ketika mengatakan, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”( QS. Al Maidah [5]: 8)

Karena orang mungkin menganggap bahwa perbedaan keyakinan itu sebagai penyebab seseorang melakukan ketidakadilan dan tidak ramah kepada orang-orang dari agama lain, Al Quran mengoreksi kesalahpahaman ini dan memberi petunjuk bagaimana semestinya seorang Muslim berurusan dengan non-Muslim dengan mengatakan, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah [60]: 8)

Dengan demikian, pendekatan yang coba disajikan Islam pada pembahasan moderasi ini dapat diringkas menjadi prinsip-prinsip berikut:

  • Mengakui bahwa keberagaman adalah hukum Ilahi, maka tidak ada cara untuk membantah atau menolaknya.
  • Untuk percaya pada kesatuan asal manusia dan martabat manusia. Tradisi Nubuwat menyatakan: “Ya Allah, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, aku bersaksi bahwa semua hamba adalah saudara.” [2]
  • Untuk bekerja sama dalam masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama bagi seluruh umat manusia.

[1] Al-Tahir Ibn Ashur, Maqasid Al-Shari’ah Al-Islamiyyah, 188.

[2] Abu Dawud (5/1510)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.