Home Fatwa Terlewat Shalat Dhuhur dan Ashar, Apa yang harus dilakukan?

Terlewat Shalat Dhuhur dan Ashar, Apa yang harus dilakukan?

77
0
SHARE
Ilustrasi. (depositphotos.com)

Pertanyaan : Saya tinggal di Australia. Saya mulai bekerja pada jam 12 siang. Saya tidak dapat menunaikan shalat tepat pada waktunya. Terkadang saya bisa pulang saat petang dan bisa berbuka puasa jika saya sedang berpuasa dan menunaikan shalat Maghrib, sebelum kemudian segera kembali ke tempat kerja. Jadi, bolehkah saya menunaikan shalat Maghrib padahal saya belum shalat Dhuhur dan Ashar, dan baru bisa saya lakukan sepulang kerja pada jam 10 malam?

Jawaban : Ya. Diperbolehkan bagi anda menunaikan shalat Maghrib padahal belum menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar, ini menurut pandangan ulama Syafii dan Maliki yang berpendapat bahwa melaksanakan shalat sesuai urutan waktunya dan menjaga pelaksanaannya tepat waktu adalah bersifat anjuran keutamaan, bukan menunjukan wajib.

Adapun pendapat mayoritas ulama Maliki yang menyatakan wajib menunaikan shalat lima waktu sesuai urutan waktunya, itu tidak menjadi syarat validitas atau keabsahan shalat yang dilakukan. Artinya, jika ada orang yang menunaikan shalat tepat waktu sebelum dia membayar utang shalat yang terlewat sebelumnya, maka shalatnya sah. Namun, dia tetap berdosa karena telah melewatkan shalat, dan dosa akan terangkat jikalau dia melewatkan shalat itu karena ada alasan syar’i atau kedaruratan.

Meski demikian, kami perlu menguatkan kepada Anda bahwa tidak boleh meninggalkan atau melewatkan shalat fardlu secara sengaja. Jika Anda memiliki waktu di siang hari untuk menunaikan shalat Dhuhur sebelum memulai pekerjaan Anda dan Anda berpikir bahwa shalat Ashar nanti akan terlewat, maka Anda boleh melakukan dua shalat yaitu shalat Dhuhur dan Ashar di waktu Dhuhur. Ini disebut dengan shalat Jama’ Taqdim. Atau sebaliknya, Anda bisa menggeser shalat Dhuhur ke waktu Ashar, jadi Anda melakukan shalat Dhuhur dan Ashar di waktu Ashar, ini yang disebut Jama’ Ta’khir.

Shalat Jama’ ini, Jama’ Taqdim maupun Jama’ Ta’khir, jauh lebih baik dibandingkan Anda tidak menunaikan dua shalat pada waktu yang sudah ditentukan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Saw. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. bahwa, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah menjama’ shalat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan.”

Dalam riwayat Waki’, ia berkata, ”Aku bertanya pada Ibnu ’Abbas mengapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan seperti itu (menjama’ shalat)?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau melakukan seperti itu agar tidak memberatkan umatnya.”

Dalam riwayat Mu’awiyah, ada yang berkata pada Ibnu ’Abbas, ”Apa yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam inginkan dengan melakukan seperti itu (menjama’ shalat)?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau ingin tidak memberatkan umatnya.” (HR. Muslim)[]

*Sumber : dar-alifta.org

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.